Sam Smith – In The Lonely Hour

Sam Smith - In The Lonely Hour

Mungkin sebagian besar dari kita mengenal Sam Smith sebagai pengisi vokal dari hits single milik Naughty Boy, La La La atau single milik Disclosure, Latch di akhir 2012. Tidak ada salahnya juga, karena saat itu penyanyi asal Inggris ini berusia 22 tahun ini belum merilis albumnya. Tapi penantian akan aksi solonya berakhir sudah dengan dirilisnya album debut sang penyanyi berbakat bertajuk In The Lonely Hour.

Kejutan dari pria bernama lengkap Samuel Frederick Smith ini adalah saat merilis hits single yang bertajuk Money on My Mind. Vokal Smith yang khas menjadi andalan, sementara lagunya merupakan perpaduan antara soul, RnB dan tentunya pop. Beat yang berderap terasa pas saat Smith menyanyikan lagunya dengan pemakaian teknik fallseto yang matang.

Tapi lagu up-tempo bukanlah menu utama dari In The Lonely Hour. Sebelumnya Smith sudah merilis Lay Me Down yang begitu lembut mengalun dan dinyanyikan dengan penuh perasaan. Akan tetapi momentumnya tentu saja saat Smith mempersembahkan salah satu lagu “galau” terbaik tahun ini, Stay With Me.

Dalam Stay With Me ia menghadirkan sebuah nomor balada yang sangat soulful. Kehadiran choir di latar memberi kesan gospel yang megah. Kepiawaian Sam Smith dalam melantunkan lagunya, termasuk mengerti dimana memberi penekanan pada nada tinggi atau rendah, disamping penghayatan yang prima, membuat Stay with Me yang berkisah tentang One Night Stand (ONS) ini terdengar begitu menusuk kalbu, terlepas apakah pendengarnya pernah terlibat ONS atau tidak.

Dilanjutkan pula dengan track seperti Leave Your Lover yang terdengar tidak kalah menyentuh dibandingkan Stay With Me misalnya, karena dinyanyikan dengan penuh perasaan dan juga penuh kesenduan. Lagunya cukup berhasil membangun kesan melow dan galau yang cukup prima. Uniknya, ada homoseksualitas dan threesome yang diusung oleh lagunya. Lagi-lagi tema yang tidak biasa oleh Smith.

Tema yang tidak biasa yang ditawarkan oleh Smith menyublim dalam setiap lagunya saat ia dengan terbuka mengaku sebagai gay dan lagu-lagunya berkisah tentang (tentu saja) pria lain. Dengan ini Smith mematahkan stigma jika penyanyi pria homoseksual harus memendam identitasnya agar diterima oleh kalangan awam, karena lagu-lagunya justru dapat diapresiasi tidak terbatas oleh orang-orang dengan orientasi seksual tertentu saja.

Keberhasilan ini pastinya disebabkan karena Smith adalah penyanyi yang baik. Ia tidak hanya menguasai teknik bernyanyi yang mumpuni, akan tetapi juga mampu meniupkan ruh kepada setiap lagunya sehingga terdengar begitu hidup. Ujung-ujungnya, para pendengar pun merasa terlibat dalam setiap nyanyian Smith. Terlepas dari aspek tematis yang diusungnya.

Banyak yang mengasosiasikan Smith sebagai versi laki-laki dari Adele. Menurut saya itu tidaklah benar-benar tepat, karena Smith berani menampilkan vokal maskulinnya dengan (tidak jarang) bernyanyi secara lebih feminim. Jika memperbandingkan antara sisi “galau” tadi, mungkin bisalah ditarik sebuah garis lurus persamaan mereka.

Tapi tetap harus menjadi catatan dimana In The Lonely Hour umumnya berbicara tentang cinta yang tak tersampaikan, ketimbang kegetiran atau kemarahan yang diakibatkan oleh hubungan romansa yang kandas.

Dalam track bertempo cepat seperti Like I Can ia menyuarakan tentang keinginan untuk membahagiakan calon kekasih. Sebuah rayuan? Mungkin saja. Sementara dalam Life Support yang kembali dihadirkan Smith dalam gaya mengalun yang lembut, ada sensitifitas perasaan mendamba yang kuat dalam janji manis yang diusungnya.

In The Lonely Hour memiliki materi yang kuat untuk membuat ia menjadi sebuah album yang mengesankan. Pilihan jenis lagunya mungkin tidak luar biasa dan mungkin juga sudah terlalu biasa. Pop, soul, balada. Rasa-rasanya sudah banyak yang memakai pendekatan yang serupa. Tapi di tangan Smith materi usang ini terdengar segar dan kontemporer, yang mungkin saja disebabkan oleh latar belakang personal Smith tadi yang memantul dalam tema-tema lagunya.

Tapi keutamaan In The Lonely Hour adalah Sam Smith itu sendiri. Ia memiliki karakteristik khas yang membedakan dirinya dengan kebanyakan solois laki-laki lain. Tidak hanya itu, ia adalah seorang penyanyi dengan kelas serta mampu menghidupkan setiap lagunya dengan presisi yang mengangumkan. Dan itu jelas adalah sebuah kelebihan yang susah dicari pembandingnya.

Direkomendasikan!

(4/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s