Ed Sheeran – X

Ed Sheeran - x

Ed Sheeran. Apa yang tercetus di benak saat mendengarkan namanya? Lagu-lagu pop-folk yang mengharu biru serta vokalnya yang terasa pas saat menyanyikan lagu-lagu yang mengandalkan lagu-lagu dengan atmosfir kelabu dan melankolis. Setelah sukses dengan album debut, + di tahun 2011, Sheeran menyusulnya dengan memberikan kita album keduanya yang diberi judul X di tahun ini.

Dalam X, Sheeran masih menawarkan formula yang sama. Ini jelas diperlihatkan saat One membuka album. Lagu balada pop folk yang pastinya memanfaatkan kepiawaian Sheeran dalam memetik gitar akustik ini terdengar begitu membetot perasaan. Sesuatu yang bisa kita harapkan dari dirinya. Dan jangan lupakan liriknya yang pastinya membuat luruh perasaan,

“And all my friends have gone to find
Another place to let their hearts collide
Just promise me, you’ll always be a friend
‘Cause you are the only one”

Dan track ini langsung disusul dengan I’m a Mess, yang meski memiliki tempo yang lebih cepat, namun masih dengan prima menawarkan Sheeran yang menyanyikan tentang kekacauan dirinya dalam gaya bernyanyi yang mengharukan. Sheeran patut dipuji karena ia masih mengizikan X untuk menampilkan mode melankolis ini dengan cukup ekstensif.

Tapi Sheeran juga ingin bergerak maju. Ia tidak ingin terjebak dalam pola yang sama. Tidak heran jika hadir track seperti Sing yang merupakan hasil kolaborasi antara Sheeran dengan Pharrell Williams. Maka hadirlah beat yang lebih ritmis dan juga unsur-unsur hip-hop, RnB, serta funk. Meski terkadang agak mengingatkan akan Jason Mraz, akan tetapi upaya penyegeran Sheeran menunjukkan jika ia tidak mau stuck di tempat yang sama. Williams membantu Sheeran lagi dalam track Runaway yang kali ini mengedepankan soul yang pekat.

Ed Sheeran tampaknya memang tidak bisa (atau belum bisa?) lepas dari gaya Jason Mraz-esque-nya. Masih ada Don’t dan Nina untuk itu, yang dengan sedikit sentuhan RnB dan Soul di dalamnya, sehingga Don’t terdengar lebih kaya. Dari segi vokal, tentunya Sheeran tidak perlu dipertanyakan lagi, meski dalam single ini ia terdengar sedikit monoton, tapi setidaknya lagunya terdengar ritmis dan enerjik. Kehadiran produser-produser handal seperti Benny Blanco, Rick Rubin dan Jake Gosling memberi warna tersendiri.

Yang menarik adalah saat ia bekerjasama dengan musisi pengusung elektronik, Rudimental, dalam track Bloodstream. Tapi tidak hanya Rudimental, tapi track ini juga menarik Gary lightbody dari Snow Patrol untuk membantu Sheeran. Terbentuklah pop-folk dengan balutan rock dan elektronika, meski porsinya terbatas. Sebuah kombinasi yang memperkaya musikalitas Sheeran.

Sheeran pun mengeksplorasi kemampuan nge-rapnya dengan lebih berani. Ada beberapa track yang memberi ruang bagi dirinya untuk tampil sebagai rapper, yaitu The Man dan Take It Back. Tentunya jangan mengharapkan sebuah nomor Hip-hop yang paripurna, karena di tangan Sheeran, lagu-lagu ini dihadirkan dalam balutan pop-folk yang merupakan kekuatan utamanya.

Tapi, kekuatan utama Sheeran memang masih lagu-lagu melankolis tadi. Maka, terlepas dari perluasan ranah musikalitas, tapi secara umum X masih dipenuhi oleh lagu-lagu sejenis, dengan highlight mungkin terdapat dalam track paling menyentuh dalam album ini, Photograph.

“And if you hurt me
That’s okay baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won’t ever let you go”

Dengan segala kontradiksi yang terdapat dalam liriknya, Photograph justru dengan secara lugas mengisahkan tentang duka dan lara dalam cinta yang tak berjalan mulus. Keberhasilannya tentunya pada bagaimana Sheeran menyanyikan lagu ini, sehingga para pendengarnya pun merasa larut dalam kesedihan yang terdapat dalamnya.

X versi Deluxe memang kaya. Ada 17 lagu di dalamnya, termasuk dua lagu dimana Sheeran menyumbangkan kreasinya untuk film. Yep, ada dua lagu soundtrack dalam album ini, yaitu I See Fire dari film The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013) dan All of the Stars dari film The Fault in Our Stars. Dua lagu ini terasa sangat pas dalam menutup lagu. Kredit lebih untuk Sheeran yang mampu menyusun kronologis setiap track dengan presisi yang pas sehingga menjaga atmosfir dan tempo albumnya dengan baik, sehingga meski berdurasi cukup panjang, X tidak terasa melelahkan.

Dengan X, Ed Sheeran membuktikan jika ia bukan one hit wonder. Dengan usia yang masih sangat muda (23), ia terdengar sangat matang dan mengerti benar musik yang ingin dipersembahkan. Tidak hanya artikulatif, akan tetapi setiap lagu dalam X menunjukkan kelas tersendiri sebagai musisi matang. Salut!

Dan kita boleh yakin jika Ed Sheeran here to stay. And for a long, long time, I guess.

(4/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s