Tiësto – A Town Called Paradise

Tiesto - A Town Called Paradise

Tiësto merupakan nama veteran di kancah Electronic Dance Music. Di awal 2000-an hingga akhir, ia (lengkap dengan embel-embel DJ) dikenal sebagai nama panas di skena Trance. Namun, kini tampaknya Tiësto siap untuk meninggalkan ranah trance dan siap untuk menyambut crowd yang lebih luas dengan merangkul EDM yang lebih nge-pop dengan album kelimanya, A Town Called Paradise.

EDM berbasis Progressive House sebenarnya bukan tak asing bagi Tiësto. Di album terakhirnya, Kaleidoscope (2009), sub-genre ini mulai terdengar menghiasi, tapi bukan menu utama. Berbeda dengan A Town Called Paradise. Seluruh materi dalam album ini seutuhnya berada dalam ranah Progressive House dengan balutan Pop yang pekat. So, au revoir Trance?

Ia memberikan kita Red Lights sebagai teaser albumnya. Lagu ini jelas merupakan penanda jika Tiësto ingin terdengar jauh lebih nge-pop dibandingkan biasanya. Bahkan agak mengingatkan lagu milik Avicii. Ini dipertegas karena Tiësto meminggirkan semangat trance dan lebih memilih menghadirkan lagunya dalam progressive house. Akan tetapi, Tiësto sudah cukup kenyang makan asam garam di skena dance music, sehingga tidak usah diragukan lagi kemampuannya meramu lagu dance yang seru.

Setelah Red Lights, menyusul Wasted. Tiësto mengajak Matthew Koma, yang tampaknya wajib menjadi bintang tamu bagi banyak musisi EDM, dalam lagu yang mengacu pada mix folk-EDM yang tengah nge-trend. Namun, di lagu ini ia mengizinkan Matthew Koma untuk menyalurkan hasrat rocknya, meski secara umum, ini adalah lagu dance yang memikat.

Seolah belum puas dengan semangat pop-nya, dalam Let’s Go, ia menampilkan duo Icona Pop. Tentunya ada alasan mengapa Tiësto mengajak mereka, karena Let’s Go memang mengingatkan akan lagu-lagu up-tempo catchy milik Icona Pop sebelumnya. Mulai dari nyanyian yang enerjik hingga chorus yang kaya dengan hook. Tapi kali ini berbalut electro-house hingga terdengar lebih club-ready.

Dengan tiga lagu yang menjadi single untuk album A Town Called Paradise, seharusnya kita sudah menebak jika album akan memiliki materi yang serupa. Call it generic or formulaic, tapi A Town Called Paradise memang dipenuhi oleh banyak lagu yang setipe. Namun, seharusnya ini bukan masalah, karena keinginan Tiësto untuk meminggirkan estetika dentuman ritmis Trance dan menggantinya dengan lagu-lagu yang mengejar hook catchy tidak dikerjakan dengan asal-asalan.

Oleh karenanya, lagu-lagu seperti A Town Called Paradise (dengan vokal diisi oleh vokalis American Authors, Zac Barnett), Footprints, atau Close to Me meski terkadang mengingatkan akan lagu-lagu milik musisi lain, tapi tetap terdengar menyenangkan untuk disimak, jika saja mau meminggirkan sisi komersialitas yang tebal memenuhi rangkanya.

Meski begitu, A Town Called Paradise tetap memiliki beberapa gem yang cukup standout. Sebut saja Last Train yang menampilkan Ladyhawke. Dikerjakan bersama dengan Firebeatz, Last Train menghembuskan sesuatu yang subtil, tidak hanya dari nyanyian Ladyhawke, namun juga komposisinya yang berdentum kencang tanpa harus terdengar berlebihan.

Atau Echoes yang terdengar seperti sebuah anthem rock yang berbalut EDM, meski rock terdengar jauh lebih mendominasi. Kehadiran vokal penyanyi asal Swedia, Andreas Moe, ternyata secara mengejutkan sukses membawa lagunya kepada tensi dan mood yang tepat. Kolaborasi Tiësto bersama Krewella dalam Set Yourself Free bisa juga menjadi highlight untuk album ini. Synth-pop 80-an yang difusikan dalam Electro-Pop bukanlah hal yang baru, tapi dalam lagu ini mereka dileburkan dalam konteks EDM yang cantik dan terdengar kaya.

Sayangnya Tiësto hanya menghadirkan satu track instrumental di sini, yaitu Rocky yang beat-nya mengingatkan akan film (tentu saja) Rocky. Setidaknya dalam track ini kita bisa sedikit bernostalgia akan Trance yang dulu biasa diusung olehnya, meski rasa-rasanya porsinya terbatas karena pastinya Progressive House adalah sajian utama.

Oh ya, bagi yang kangen dengan vokal kolaborator lawas Tiësto, Christian Burns, ia hadir dalam track Shimmer. Tentu saja jangan harapkan komposisi seperti In The Dark misalnya, karena, seperti diduga, Shimmer adalah EDM kekinian yang jika diisi oleh Mathhew Koma misalnya, tidak akan terdengar berbeda. Tapi, vokal Burn yang khas bisalah untuk memuaskan kerinduan.

Sebenarnya jika dilirik dalam konteks penuh rasa sinis, A Town Called Paradise membuat Tiësto terdengar seperti pria murahan yang rela mengenyahkan idealitasnya demi popularitas dan (mungkin) materi. Karena bagaimanapun tidak bisa dinafikan jika lagu-lagu dalam A Town Called Paradise terdengar dikerjakan dengan “pop”, “catchy”, “easy listening”, “easy to sell” dalam benak.

Tapi jika albumnya ternyata sukses dalam menjalanlan tugasnya sebagai album pop yang catchy, easy listening dan easy to sell, rasa-rasanya Tiësto tetap layak mendapat kredit lebih. Mengikuti pasar itu sebenarnya bukan hal yang mudah, meski terlihat gampang. Kita setidaknya harus faham benar apa yang dimaui oleh pasar. Dan Tiësto mengerti benar yang dibuktikan dengan hadirnya A Town Called Paradise. Setidaknya ia seorang pebisnis yang cermat dan A Town Called Paradise adalah album yang menyenangkan untuk disimak.

(3.5/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s