My Straight Son / The Other Son

My Straight Son - The Other Son

Kesempatan menonton film secara back-to-back atau maraton sudah semakin jarang bisa dilakukan akhir-akhir ini. Tapi kali ini berkesempatan untuk menyaksikan dua film drama dari dua negara yang berbeda dengan embel-embel ‘son’ di judulnya.  And here’s my thought about them:

MY STRAIGHT SON
Poster, trailer dan bahkan judul film Venezuela ini memang kurang terasa meyakinkan. Satu-satunya alasan kenapa tertarik untuk menyimaknya karena film ini telah meraih Goya Awards.

Dan pepatah never judge a book by its cover berlaku di sini. Ternyata film yang berjudul asli ‘Azul no Tan Rosa’ atau dengan judul lain ‘Blue and Not So Pink’ ini menarik untuk disimak.

Kisah antara seorang fotografer sukses, Diego, yang tiba-tiba harus mengurus anak laki-laki semata wayangnya, Armando, disampaikan dengan penuh lika-liku dan terkadang dramatis. Masalah terletak bukan karena Diego seorang gay, tapi karena mereka telah lama tidak bertemu dan gap di antara mereka pun hadir sebagai penguji hubungan antara ayah dan anak.

Film mengalir dengan lancar, meski kadang ia terasa gelap dan pekat, namun lebih sering cerah dan hangat. Miguel Ferrari, sutradara, patut dipuji karena berhasil mengemas filmnya dengan memasukkan elemen drama dan komedi secara pas.

(3.5/5)

THE OTHER SON
Kisah tentang anak yang tertukar semasa bayi bukanlah barang baru di ranah melodrama. Mungkin sudah ratusan judul yang mengangkat hal ini. Film Prancis ‘The Other Son’ (Le Fils de l’Autre) karya Lorraine Lévy mencoba mengangkat kembali tema usang ini.

Menjadi menarik saat film berseting di Israel-Palestina dan krisis identitas yang mendera Joseph dan Yacine, sepasang anak yang tertukar tersebut, bukan hanya masalah keluarga, tapi juga bangsa dan agama.

Meski demikian, film tidak mau menjadi terlalu politis dengan membahas konflik Israel dan Palestina secara berlebihan. Ia lebih memilih untuk memberi penekanan pada aspek keluarga dan pilihan tersebut adalah tepat.

Sulit untuk mengusir rasa haru yang ditimbulkan oleh beberapa adegannya. Dan film memberi perspektif yang cukup tegas jika keluarga lebih penting dibandingkan hal-hal lain yang mungkin membuat goyah keutuhannya

(3.5/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s