Tori Amos – Unrepentant Geraldines

Tori Amos - Unrepentant Geraldines

Tori Amos seolah tak ada matinya. Dalam rentang karir sepanjang dua dekade lebih, konsistensinya dalam bermusik tetap terjaga. Album keempat belasnya, Unrepentant Geraldines, menjadi pembuktiannya. Merangkum pop alternatif, pop baroque, dan juga rock, Amos memastikan kita untuk tetap mencermati estetika bermusiknya.

Album dibuka oleh America, sebuah balada yang memadukan antara kesan manis dan getir secara bergantian, tapi menariknya dengan takaran yang pas, sehingga bisa dinikmati secara utuh. Mendengarkan lagu ini kita seolah kembali ke dekade 90-an, dimana karir Amos dibangun dan juga menjadi besar.

Dilanjutkan dengan Trouble’s Lament dimana pop yang gelap dan depresif sepertinya masih menjadi andalan Tori Amos untuk memikat pendengarnya. Masih ada sentuhan manis dengan pemilihan gitar akustik, tapi secara keseluruhan terdengar getir dan pahit.

Lalu ada Wild Way, yang lagi-lagi memajukan balada sebagai sajian utama. Tapi balada dalam versi Amos tidak melulu harus berkesan berlarat atau melodramatis atau murung. Wild Way mungkin punya lirik yang gelap, tapi Amos menyanyikannya dengan bernafaskan edginess.

Bermodalkan tiga track ini saja, Amos memang menegaskan jika Unrepentant Geraldines memang diniatkan untuk kembali ke akar musiknya. Tapi masih ada 11 track lagi yang bisa kita nikmati dan apakah Amos masih konsisten dengan gaya ini?

Dan jawabannya adalah “tentu saja!”. Mulai dari Wedding Day yang sedikit mengingatkan akan hits klasiknya, Sparks, dimana emosi yang kuat menjadi serat utama tanpa harus terdengar meledak-ledak. Sementara 16 Shades of Blue mengedepankan semangat alternatif dengan intens. Lagu ini terpinspirasi dari lukisan bergaya impresionis berjudul The Black Marble Clock karya Paul Cézanne dan Amos cukup cermat dalam menangkap semangat lukisan tersebut dalam lagunya.

Unrepentant Geraldines digambarkan sebagai “an appreciative portrayal of the singer’s experiences with visual art“. Album merupakan hasil refleksi Amos terhadap karya-karya visual, baik fotografi ataupun lukisan. Oleh karenanya elemen-elemen musik klasik juga menjadi infusi dari album ini. Selain 16 Shades of Blue, ada Maids of Elfen-Mere yang secara harafiah terinspirasi dari puisi berjudul sama karya Dante Rosset.

Tapi album ini tidak melulu mengejar sensasi klasik atau baroque dalam lagu-lagunya. Dalam menghindari monotonitas, Amos menyelingi dengan beberapa track yang bergaya berbeda. Contohlah Giant’s Rolling Pin yang terdengar lebih cerah dengan ketukan drum yang bertenaga serta gaya bermusik yang memadukan antara pop, folk dan americana.

Ada juga Rover Dover yang seperti rock alternative era 90-an dihadirkan dalam bentuk akustik dengan piano menjadi instrumen yang paling mendominasi. Begitu juga dengan track yang menjadi judul album, Unrepentant Geraldines yang kali ini mengedepankan ketukan drum yang rapat untuk menjadi teman pianonya.

Tidak bisa dinafikan memang jika Unrepentant Geraldines lebih banyak diisi oleh nomor balada, dengan piano sebagai senjata utama, termasuk lagu yang menjadi penutup album, Invisible Boy. Denting piano yang lirih dan manis terdengar menghantui sementara Amor bernyanyi dengan ekpresif. Gambaran sederhana yang bisa juga dipakai untuk mendeskripsikan albumnya.

Dengan corak seperti itu dan juga lirik-lirik beraspek sosial politis yang cukup berat dan dalam, Unrepentant Geraldines mungkin hanya bisa menarik perhatian para penggemarnya atau penikmat musik serupa. Meski demikian sulit untuk ditolak jika Amos masih memiliki kekuatan dalam menyuarakan idealismenya.

Tentunya ia memiliki album-album yang lebih baik, dan orisinil, daripada ini. Tapi ini Tori Amos yang kita bicarakan. Ia masih menjadi sosok terdepan sebagai musisi dengan ekletisme dan emosi yang kuat dalam setiap karyanya. Dan Unrepentant Geraldines bukan pengecualian.

(3.5/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s