Favorite Films of Summer 2014

Summer 2014

Summer is over. So does the blockbuster film fest. Secara umum film-film yang ditayangkan tahun ini cukup menghibur, tapi tidak banyak yang benar-benar berkesan, dibandingkan tahun lalu misalnya.

Anyway, tetap ada beberapa film that became my favorite. And they are:

01. Godzilla
Proyek remake/reboot monster klasik yang diarahkan oleh Gareth Edwards menangkap semangat ironi yang ditawarkan oleh versi tahun 1954, tapi juga menghadirkan konsep monster vs monster yang kemudian menjadi ciri khas seri Godzilla yang ditampilkan dalam pendekatan yang lebih realistis. Kuat dari aspek dramatis, fantastis dalam segi laga, Godzilla adalah salah satu film dengan efek visual terbaik saat ini.

02. Edge of Tomorrow
Edge of Tomorrow came as the biggest surprise of this summer. Diangkat dari buku  All You Need Is Kill karya Hiroshi Sakurazaka, film yang mengingatkan akan Groundhog Day dan Source Code ini menghadirkan drama, roman, aksi, serta komedi dalam takaran yang tepat. Duet Tom Cruise dan Emily Blunt akan sulit untuk dilupakan dalam beberapa tahun ke depan.

03. X-Men: Days of Future Past
Perlu dua kali tonton untuk bisa benar-benar mengapresiasi seri terbaru dari X-Men ini. It didn’t impressed me much at first viewing. Tapi setelah ditonton ulang,  I realized that it’s simply among the best of super-hero movies mowadays, which is few in amount in my opinion. Lupakan The Avengers, karena XMDOFP mampu menghadirkan karakter yang beragam dengan porsi pas . Bryan Singer pun membungkus filmnya tidak hanya dengan penuh gaya, tapi juga dengan kedalaman emosi yang kuat.

04. How to Train Your Dragon 2
HTTYD 2 adalah bukti jika mengerjakan sekuel tidak hanya dengan niatan mencari keuntungan, tapi harus memiliki nilai lebih yang membedakan dirinya dengan prekuel. Perpindahan narasinya terasa organis dan dieksekusi dengan mulus, seolah-olah kedua film ini memang sudah seharusnya menjadi satu bagian.

05. Lucy
Apakah Lucy film yang istimewa? Tidak juga. tapi Luc Besson dengan berani memadukan antara aksi-laga popcorn dengan semangat art-house. Terkadang terkesan terlalu bermain-main, tapi lebih sering serius. terlepas apakah konsep yang diapungkan dalam film valid secara ilmiah atau tidak. Dan itu membuat Lucy tampil lebih “eksentrik” ketimbang film aksi-laga-fantasi biasanya.

Advertisements