A Rose, Reborn

A Rose Reborn

Park Chan-wook, mungkin sebagian besar dari kita sudah mengenal auteur asal Korea Selatan ini berkat karya-karya prestisiusnya seperti Sympathy for Mr. Vengeance, Oldboy, Thirst atau  Stoker. Kini ia datang kembali dengan karya baru. Bukan sebuah film panjang. Sebaliknya, sebuah film pendek bertajuk A Rose, Reborn.

Film pendek bukanlah hal yang aneh bagi Chan-wook. Yang paling terkenal mungkin Cut yang merupakan segmen terakhir di film antologi, Three… Extremes (2003). Istimewanya A Rose, Reborn bukanlah film pendek biasa. Tapi ini adalah semacam iklan oleh salah satu perusahaan pembuat baju pria terkenal asal Italia, Ermenegildo Zegna.

Promosi berbentuk film pendek sudah banyak dilakukan oleh berbagai produsen terkenal dan tampaknya Ermenegildo Zegna tidak mau ketinggalan dalam melakukan hal yang sama. Menjadi menarik karena mereka mengajak Chan-wook yang terkenal dengan film-filmnya yang terkenal… unik dan mengandalkan kekerasan. Apakah ini berlaku juga bagi  A Rose, Reborn?

Unik mungkin, tapi jelas A Rose, Reborn jauh dari hal-hal berbau sadisme, karena Chan-wook justru menghadirkan sebuah film yang dihadirkan melalui tone yang lembut dengan ambient yang terkadang terasa mengawang. Arsiran musik latar oleh Clint Mansell, yang merupakan kolaboraror setia Darren Aronofsky, mempertegas kesan tersebut.

Dikisahkan tentang seorang pria bernama Stephen (Jack Huston, Broadwalk Empire, American Hustle, Pride and Prejudice and Zombies) yang ditugaskan untuk menemui seorang pria misterius bernama, Mr. Lu (Daniel Wu, The BanquetProtégé, The Man with the Iron Fists) untuk keperluan sebuah investasi. Pertemuan mereka dilakukan di berbagai lokasi yang berbeda, Wyoming, Shanghai, dan berakhir di Milan.

Setiap pertemuan selalu mengandung misteri yang kuat dari keberadaan Mr. Lu, Dan setiap perjalanan yang dilakukan Stephen selalu bermakna ganda. Ditutup dengan adegan ekposisi yang berlangsung di sebuah kompleks pemakaman kuno di kota Milan.

Sebagai sarana promosi tentunya A Rose, Reborn yang berdurasi sekitar 19 menit ini kaya dengan pameran koleksi busana Ermenegildo Zegna. Dengan visinya yang unik, Chan-wook (yang juga bertugas sebagai penulis naskah, bersama dengan Ayako Fujitani, Chung Chung-hoon dan Michael Warwie) berhasil menjadikan busana sebagai kunci utama dari kisahnya. Busana bukan hanya sebagai plot device, tapi adalah penggerak plot.

Ritual pertukaran busana dan aksesoris lain yang dilakukan oleh Stephen dan Mr. Lu dalam seriap pertemuan mungkin penanda sebagai pertukaran informasi ataupun kebijakan. Tapi, dengan balutan unsur fiksi-ilmiah yang menghiasi klimaks film, filosofi tentang kelahiran kembali jelas menjadi sentra utama.

Park Chan-wook harus dipuji karena meski berbau “pesan sponsor”, ia tetap mampu menghadirkan A Rose, Reborn dengan elegan dan berkelas. Tidak terlupa pula untuk membungkusnya dengan aspek sinematis yang terjaga.  Tabik kepada Ermenegildo Zegna yang berani mempercayakan produk mereka untuk ditangani dengan pendekatan “tidak populer” oleh Chan-wook.

A Rose, Reborn, bersama dengan film pendek Night Fishing (2011) dan Day Trip (2012) yang juga diproduksi oleh perusahaan komersial, Park Chan-wook membuktikan jika cita rasa artistik berseni tinggi juga efektif sebagai sarana promosi. Kuat sebagai media pengenalan produk, mencorong pula dari segi filmis.

(4/5)

Tonton filmnya:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s