Bush – Man on the Run

Bush - Man On The Run

Pada dekade 90-an Bush merupakan salah satu nama yang cukup diperhitungkan dalam skena Grunge yang saat itu tengah mewabah. Meski berasal dari Inggris, tapi mereka dengan sempurna merangkul “suasana” Amerika dalam musik mereka. Sayangnya usia mereka tidak panjang. Mulai dari album debut ‘Sixteen Stone’ di 1994, mereka membubarkan diri di tahun 2002 dengan meninggalkan album keempat, ‘Golden State’ di tahun 2001. Sampai mereka memutuskan untuk menghidupkan kembali Bush di tahun 2010 dan perjalanan baru Bush pun dimulai.

Sebuah album telah dirilis di tahun 2011 sebagai penanda rujuk. ‘The Sea of Memories’, demikian judulnya, disambut dengan cukup baik dan memuluskan jalan bagi Bush untuk tetap eksis. Kini, 3 tahun kemudian, band yang kini terdiri atas Gavin Rossdale, Robin Goodridge, Chris Traynor, dan Corey Britz menghadirkan album follow-up yang bertajukMan on the Run.

Tentunya Grunge bukanlah genre yang menjadi usungan utama bagi Bush, karena bagaimanapun Grunge kurang mendapat apresiasi sebagaimana era keemasannya. Tapi dengan menjadikan Alternative Rock sebagai sajian terkini, Bush tetap mendapat kesempatan untuk mengarsir lagu-lagu dalam ‘Man on the Run’ dengan nafas Grunge, meski tidak mutlak.

Simak The Only Way Out misalnya, yang seolah mengajak kita kembali ke dekade 90an, dimana Alternative Rock juga menemui era keemasaanya. Tapi senangnya, Bush tetap mampu memberikan sebuah lagu rock yang meski distorsif, tapi tetap mengedepankan melodi yang harmonis dan sedap didengar. Bush seolah tidak kehilangan tajinya dalam memberikan lagu Rock yang mampu menghadirkan gemerlapnya namun tidak terlupa untuk merangkul pangsa pendengar yang lebih luas dengan memberikan hook yang catchy.

Konteks yang sama bisa dilekatkan dengan ‘Man on the Run’ secara keseluruhan. Lagu-lagu yang disusun berdasarkan akar Metal yang kemudian direduksi sedemikian rupa menjadi Rock yang mengandalkan kekuatan melodi sebagai senjata. Memang, nyaris tidak ada eksplorasi instrumen yang berani dalam album ini, sebagaimana dulu bisa kita temui dalam album-album Bush. Tapi bagaimanapun Bush kini berada di usia yang tak lagi muda saat memulai lagi. Kultur Rock masa kini sangatlah berbeda dari duapuluh tahun lalu. Dan mereka harus beradaptasi untuk bisa eksis.

Dengan pengecualian beberapa band, contohlah Foo Fighters, Rock masa kini adalah Rock yang mengandalkan melodi catchy dan hook yang kuat. Mungkin jelek bagi para puritan Rock, tapi dalam konteks kekinian Bush menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Track semacam The Gift, The House Is On Fire, Eye of the Storm atau yang menjadi judul album, Man on the Run, mungkin bisa menjadi semacam melankolia akan sisi Grunge dari Bush. Tapi secara garis besar album diisi oleh lagu-lagu sejenis Just Like My Sins, Bodies in Motion, Dangerous Love, atau Eye of the Storm yang terdengar sangat kekinian.

Catatan khusus mungkin ada pada Loneliness is a Killer yang mengangkat Metal dengan bergemuruh yang kemudian berubah menjadi anthem ala Grunge di bagian Chorus. Perpindahan genre ini membuat lagu terdengar cukup stand-out. Tapi lagu-lagu bonus di edisi Deluxe juga jangan sampai terlewat. Entah kenapa track-track bonus di edisi Deluxe bisanya diisi oleh track yang dikerjakan dengan baik.

Kemungkinan terbesar karena secara tone ia terdengar berbeda dari track-track utama di albumnya. Itu bisa dibuktikan dalam album ‘Man on the Run’. Let Yourself Go, Speeding Through the Bright Lights dan Golden Age adalah tiga track yang cukup istimewa dalam menghadirkan Bush sebagai musisi Rock, baik dari segi artistik maupun produksi.

‘Man on the Run’ adalah album yang dikerjakan dengan produksi yang matang dan teknis yang mengesankan. Hanya saja ia kurang mampu dalam memberi impresi yang kuat. Gavin Rosdale bernyanyi dengan kredibel. Ia berteriak dengan gahar. Hanya saja melulu soal hal-hal yang “laku dijual” saat ini, bukan refleksi dan kurang tajam menggali sisi filossofi Rock tadi dalam nyanyiannya. Mungkinkah kemapanan yang telah diraih dalam hidup menjadi alasannya?

‘Man on the Run’ adalah album Rock yang entertaining. Itu tidak bisa kita nafikan. Sayangnya, bisanya selalu ada kata “tapi” untuk band rock masa kini. Rock bukan semata aliran musik yang kemudian dijual secara komersil. Ia juga adalah filosofi dan bahkan gaya hidup. Lagu-lagu di dalam sebuah album Rock seharusnya berbicara dengan konteks tertentu. Tidak harus megah atau ambisius, tapi setidaknya menyuarakan isi hati dengan tulus. Sayangnya hal tersebut tidak kita temukan dalam ‘Man on the Run’.

(3/4)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s