U2 – Songs of Innocence

U2 - Songs of Innocence

Dibuka dengan nomor familiar, The Miracle (of Joey Ramone), band rock fenomenal dan legendaris, U2, menghadirkan album terbaru mereka, album ke-13 tepatnyaSongs of Innocence. Jeda lima tahun dengan album sebelumbnya,No Line on the Horizon (2009) mungkin cukup lama. Tapi para penikmat musik dan juga fans mungkin boleh berlega hati, karena U2 masih menyimpan pesona mereka. The Miracle (of Joey Ramone) merupakan single pertama mereka. Dedikasikan kepada pentolan The Ramones, U2 mengoles lagunya dengan nafas punk, meski tentu saja tetap rock ala U2 yang mendominasi.

Track berikutnya mungkin berkurang nuansa rock-nya dan lebih memilih untuk hadir dengan pendekatan ala balada mid-tempo. Every Breaking Wave akan mengingatkan kenangan akan With or Without You, (The Joshua Tree, 1987). Tapi vokal Bono yang senantiasa membawakan sentimentalia dan melankolia tertentu dalam lagu-lagu seperti ini memang sulit untuk ditolak. Sukseslah ia menghanyutkan pendengaran kita dalam lantun lagunya.

Lantas ada Song for Someone, sebuah balada akustik yang tak kalah mengharu-biru, yang kemudian langsung disusul oleh Iris (Hold Me Close) yang antemik dan megah, namun etap kental dengan nuansa melankolia tadi. Menarik bagaimana U2 mengajak frontman OneRepublic sekaligus sosok hitsmaker terkemuka saat ini, Ryan Tedder, dalam lagu-lagu tersebut di atas. Kolaborasi mereka terjalin dengan cukup baik, terlepas apakah sentimentalia dan juga melankolia yang kental mewarnai merupakan hasil pengaruh Tedder atau tidak.

Uniknya, nomor yang bisalah kita sebut terdengar sangat Ryan Tedder-esque, California (There Is No End to Love), sama sekali absen dari campur-tangan Tedder. Track ini merupakan buah karya Declan Gaffney, Paul Epworth dan juga Danger Mouse sebagai produser. Nama terakhirlah yang memang berperan besar sebagai produser dari album ini. Ada alasan yang jelas mengapa U2 mengajak pria yang bernama asli Brian Joseph Burton untuk bertugas sebagai produser, karena berkat tangan dinginnya, ia memiliki resume yang cukup bernas. Sebutlah Modern Guilt (Beck), The Odd Couples (Gnarls Barkley), Attack & Release (The Black Keys) atau Pieces of the People We Love (The Rapture).

Seusai Iris (Hold Me Close), track-track berikutnya adalah kreasi Danger Mouse sebagai produser. Berbeda dengan Tedder yang memilih warna yang moody dan sebutlah mendayu, maka pendekatan Danger Mouse adalah pada intensitas pada kosa kata rock. Maka hadirlah track mengentak seperti Volcano, Raised by Wolves, Cedarwood Road, This Is Where You Can Reach Me Now atau The Troubles. Namun, ia cukup berani untuk mengajak U2 berelektronika ria melalui track Sleep Like a Baby Tonight yang bahkan menjurus ke EDM yang tengah populer saat ini, meski kemudian ia menunjukkan jati dirinya sebagai balada murung ala U2.

Terlepas dari nama-nama yang membantu U2 dalam mengerjakan album ini, tetap saja Songs of Innocence adalah milik mereka secara utuh. Trademark khas dan formula yang biasa mereka usung masih kerap terdengar di album ini. Tidak ada sesuatu yang baru. Danger Mouse, Paul Epworth, Declan Gaffney dan Ryan Teder yang bertugas sebagai produser, cenderung mengikuti warna U2 secara mutlak ketimbang benar-benar meniupkan ruh mereka secara kental. Ini bisa jadi buruk, bisa juga baik, untuk albumnya. Tergantung sudut pandang.

Songs of Innocence adalah album yang masih menampilkan kekuatan U2 sebagai musisi. Dengan konsistensi mereka bisa menjaga eksistensi. Dan album ini merupakan pembuktiannya. Hanya saja, akan agak sulit untuk memandang U2 sebagai band yang berani keluar dari comfort zone dengan mencoba sesuatu yang baru. Terlepas dari hadir nama-nama kekinian yang hadir membantu, mereka masih memercayai formula lama mereka, jika tidak mau disebut jenerik. Dan sayangnya tidak didukung dengan kekuatan lirik yang bernas, berani, dan dalam, sebagaimana yang mereka tunjukkan di awal karir ataupun dekade 90-an.

Dengan konteks lagu yang lebih banyak berbicara hal-hal yang bersifat artifisial dalam menjangkau banyak orang (album ini bahkan diberikan secara gratis via iTunes saat awal rilisnya, terlepas apakah pengguna iTunes menginginkannya atau tidak). Tema-tema yang dihadirkan bukan untuk mendobrak nilai sosial, mengecam ketidakadilan, atau hal-hal politis lainnya, namun merupakan hal-hal yang dirasakan bisa menarik perhatian orang banyak secara lebih luas. Tidak ada salahnya memang, karena toh U2 harus bertahan.

Songs of Innocence mungkin saja akan cukup memuaskan bagi para penggemar setia U2. Sayangnya mungkin tidak demikian bagi generasi sekarang yang kurang familiar dengan karya-karya mereka. Tidak begitu banyak materi yang secara musikal bisa berbicara secara langsung kepada para millennial. Sebuah jarak yang mungkin tercipta karena perbedaan kultur dan trend, terlepas dari upaya U2 untuk menghadirkan lagu-lagu dalam konteks yang lebih awam.

Album ini dikemas dalam versi deluxe berkeping ganda. Sebagaimana biasa, dalam keping kedua yang berfungsi sebagai bonus, materinya menarik, meski mungkin kurang dapat membaur dengan warna yang seragam dengan materi yang terdapat dalam keping pertama yang merupakan menu utama. Padahal track Lucifer’s Hands atau The Crystal Ballroom adalah nomor-nomor cerdas yang mampu memadukan pesona klasik U2 dengan sentuhan kekinian. Bahkan The Crystal Ballroom dengan cukup baik menjadikan U2 sebagai penampil disko klasik yang berkelas.

Keping kedua juga menampilkan sebuah sesi akustik sepanjang 22:49 menit yang merangkum Every Breaking Wave, California (There Is No End to Love), Raised by Wolves, Cedarwood Road, Song for Someone dan The Miracle (of Joey Ramone) (Busker Version). Album ditutup dengan versi berbeda dari track The Troubles dan Sleep Like a Baby Tonight.

(3.5/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s