Steve Aoki – Neon Future I

Steve Aoki - Neon Future I

Setelah cukup sukses dengan album debutnya, Wonderland, di tahun 2012, maestro Electro House, Steve Aoki menghadirkan album keduanya yang bertajuk Neon Future I. Yep, dengan embel-embel angka 1 di belakang judul albumnya, kita bisa berharap jika akan ada “sekuel” dari album ini. Rencananya memang Neon Future I dikemas sebagai album berdua bagian, dengan bagian kedua akan dirilis sekitar tahun 2015 mendatang. Menurut Aoki, jika album pertama ini akan lebih banyak menampilkan lagu-lagu club anthem sedang album kedua dijanjikan akan hadir dengan tone yang lebih gelap.

Tapi sebelum kita membahas bagian kedua, yang masih belum bisa dinikmati tentu saja, ada baiknya kita menelaah apa yang ditawarkan Aoki di album ini. Dan jika memang tujuan dirinya dengan Neon Future I adalah membangun suasana pesta yang meriah dalam barisan lagu-lagu dansa beradrenalin tinggi dan intensitas yang padat, maka bisa dipastikan ia memenuhi janjinya.

Menarik bagaimana rekan-rekan yang diajak Aoki untuk membantunya dalam album ini sebagian besar datang dari ranah Hip-hop, namun justru mayoritas lagu dalam album adalah barisan EDM yang kental dengan Electro House. Contohlah Rage the Night Away. Dengan mengundang rapper Waka Flocka Flame, tentunya nuansa Hip-hop memenuhi lagunya, walau tentu saja beat-beat yang berderap ritmis dan intens tetap mengedepankan semangat dance yang kental. Dan menjelang lagu berakhir, Hip-hop harus meminggirkan diri karena Electro mengambil alih kendali dengan penuh, memanaskan dengan hentakan yang mengundang untuk menggerakkan tubuh secara aktraktif.

Sementara itu dalam track berjudul Born to Get Wild, Aoki mengajak musisi Hip-hop yang akhir-akhir ini lebih dikenal sebagai pengusung EDM, will.i.am. Bagaimana hasil kolaborasi mereka? Ternyata Aoki juga memilih untuk menghadirkan Electro House agar lebih dekat dengan will.i.am. Apalagi will.i.am juga diberi kesempatan untuk memamerkan kekuatannya sebagai rapper.

Bahkan kerjasamanya dengan sesama musisi EDM, Chris Lake dan Tujamo, Boneless, akhirnya juga mengandalkan aksi rap dari Kid Ink. Aksi kolaborasi mereka terbungkus dalam versi remiks Boneless yang kini berjudul Delirious (Boneless), yang dengan beat berderapnya memang bertujuan mengajak pendengarnya untuk segera menuju lantai dansa dan menggerakkan tubuh secara aktif. Track pesta lain, bisa ditemui dalam Free the Madness yang menampilkan rapper Machine Gun Kelly yang ternyata dipilih Aoki untuk juga “bernyanyi” selain ngerap.

Kekuatan track-track yang menampilkan barisan rapper ini memang pada beat yang mengandalkan bebunyian riuh dengan eskalasi intensitas yang dinamis. Dengan adanya vokal rap, maka derap rapat Electro yang dibangun Aoki bisa terdengar lebih “meriah” dan mendukung beat rapat dan intens tadi. Tentu saja tidak terlewatkan hadirnya hook yang dihadirkan melalui instrumen mesin atau synth. Bahkan saat Bonnie McKee membantu Aoki dalam track Afroki, pendekatan serupa pun masih diambil.

Tentu saja Neon Future I tidak melulu menghadirkan Rapper. Selain McKee, ada Fall Out Boy yang diajak untuk mengerjakan Back to Earth yang berbau Rock, meski Disko tentunya masih sajian utama. Atau kolaborasinya dengan sesama musisi EDM, Flux Pavillion dalam nomor Electro berbau Dubstep, Get Me Outta Here. Track-track ini menunjukkan kemampuan Aoki dalam mengeksplorasi genre maupun gaya di luar yang biasa dibawakannya dengan cukup baik.

Meski begitu, dengan dibukanya album oleh track seperti Transcendence yang bertugas sebagai Outro, jelas jika Steve Aoki mengincar Neon Future I lebih dari hanya sekedar album pesta. Dengan mengambil kutipan dari Ray Kurzweil, seorang pengarang yang juga dikenal sebagai ilmuan dan futuris, ada sisi kontemplasi yang ingin ditawarkan oleh Aoki. Meski Transcendence yang berbau Dubstep ini tetap kental dengan nuansa elektronik, tapi ada kesan meditatif di dalamnya.

Album ditutup oleh Beyond Boundaries yang bertindak sebagai Outro dan kali ini diisi oleh kutipan dari Aubrey de Grey, juga seorang pengarang dan ahli teori teori, dimana kata-kata “Neon Future” yang terdapat di dalamnya, kemudian diambil Aoki menjadi judul album. Track ini singkat saja dengan ambient yang futuristik sekaligus psikedelik memenuhi seratnya. Membuat Neon Future I terasa mistis dan misterius. Hanya saja, dengan meriahnya isi album, terkadang track pembuka dan penutup yang “kontemplatif” ini malah terasa seperti gimmick ketimbang membangun konsep album secara keseluruhan. Bagaimanapun kemeriahan pesta masih menjadi andalannya. Kita tunggu saja Neon Future II untuk mengetahui konsep Aoki secara utuh.

Meski begitu, inilah yang mungkin membedakan Neon Future I dengan kebanyakan album musisi EDM lain yang beredar akhir-akhir ini. Meski track-track pesta masih mendominasi, tapi ada upaya memberi kedalaman, baik dari aspek tematis dan lirik, juga pendekatan dalam konsep albumnya. Pop bukan semata-mata tujuan Aoki guna menarik perhatian, namun juga muatan isi. Dan jelas ini penting sebagai penegas bagi seorang Steve Aoki untuk kekuatannya sebagai musisi, baik di ranah EDM maupun secara umum.

(3.5/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s