Tove Lo – Queen of the Clouds

Tove Lo - Queen of the Clouds

Swedia sepertinya memang ladang banyak musisi (juga komposer atau produser) bertangan dingin. Sebut saja Robyn, Lykke Li atau yang paling panas, Icona Pop. Kini bertambah satu lagi nama baru yang pantas untuk diperhatikan. Perkenalkan Ebba Tove Elsa Nilsson atau yang bisa dikenal dengan Tove Lo. Penyanyi 27 tahun ini adalah triple threat yang patut untuk diwaspadai. Ia bernyanyi, menulis lagu dan memainkan instrumen. Semua dibuktikannya dalam album debut yang berjudul Queen of the Clouds.

Tentunya masih jauh perjalanan yang harus ditempuh Tove Lo untuk mencapai singgasana Ratu Pop. Tapi ia boleh saja menjadi Ratu di album ini, karena menunjukkan dengan tegas siapa dirinya sebagai seorang penampil pop. Tove Lo mungkin sudah menulis lagu hits untuk Icona Pop atau Girls Aloud, tapi namanya sontak menjadi pusat perhatian saat merilis lagu “pedih” tapi bertenaga, Habits (Stay High). Indie pop berbalut elektro-pop bukan hal yang aneh sekarang ini, namun Tove Lo sukses memberi ciri khas tersendiri dengan vokalnya yang unik dan berkarakter hingga Habits terdengar begitu menusuk.

Bermain dengan kontras dalam sebuah lagu bisa dikatakan mudah, tapi bukan berarti gampang juga. Yang diperlukan adalah high sense of emotional dan subtilitas sang musisi pencipta lagunya. Dan Tove Lo punya ini, sehingga ia bisa menafsirkan rasa duka dalam sebuah dikotomi musik. Cenderung eksplosif, tapi juga menyentuh.

Habits (Stay High) awalnya terdapat dalam EP Truth Serum yang juga berisi track Not On Drugs dalam album ini. Not On Drugs adalah sebuah nomor pop yang mengedepankan rock-alternatif sebagai balutannya, tapi sekali lagi Tove Lo menekankan pada sisi emosinil yang mendalam ketimbang mengejar beat besar belaka. Berisi 6 lagu, EP Truth Serummemang sangat memuaskan untuk disimak dengan setiap lagu berhasil menjadi sosok sendiri yang sama kuatnya. Lantas bagaimana denganQueen of the Clouds?

Ternyata Tove Lo tidak kehilangan tajinya saat menghadirkan album yang memiliki durasi yang lebih panjang ketimbang album mini. Setelah interlude berjudul The Sex. Tove Lo segera mengganjar pendengaran dengan track My Gun yang super catchy, menjual hook dengan percaya diri sementara lagu meliuk-liuk atraktif, menjual pesona pop dengan ektensif. Tapi dibalik itu, ada kesan gelap yang menyelubungi. Desau kokangan pistol yang hadir di latar mengingatkan akan Paper Planes milik M.I.A., meski lagunya tak sekelam yang diindikasinya juga.

Unsur gelap tadi banyak mewarnai album. Tove Lo menghadirkan track-track seperti Moments, sebuah power balada dalam versi Tove Lo, atau balada yang lebih “konvensional” seperti The Way That I Am, juga Thousand Miles yang menekankan pada sisi balada dengan intensitas. Tentunya Habits (Stay High) boleh dimasukkan ke kategori ini.

Tapi Tove Lo tak ingin hadir dengan imej sebagai penyanyi pop gelap super serius juga, karena Queen of the Clouds masih menyisakan ruang bagi dirinya untuk tampil feminim, girly, dan bahkan usil dalam track-track seperti Moments, Got Love, dan Like Em Young (yang bisa menjadi anthem bagi penggemar berondong). Bahkan ia bisa hadir antemik yang dibuktikan dalam track Timebomb.

Queen of the Clouds adalah pembuktian bagi seorang Tove Lo jika aia adalah sosok pengusung pop yang berkarakter. Tidak hanya diberkahi vokal bagus berkarakter, tapi juga piawai dalam merumuskan lagu-lagu penuh hook, namun kental dengan sisi emosional yang membuat lagu-lagunya terdengar berjiwa, terlepas apakah sebagian besar dari mereka merupakan produk olahan musik mesin.

Gambaran paling umum untuk musik Tove Lo adalah electro-pop yang menyentuh ranah EDM. Meski tak kental bernuansa dansa elektronik juga. Jadi yah tidak heran jika ia kerap diajak bekerjasama oleh banyak musisi EDM, seperti Alesso atau Seven Lions. Bahkan The Chainsmokers melakukan remiks Habits (Stay High) dengan nyaris tak tercela, karena lagunya memiliki dasar yang kuat untuk menjadi EDM. Namun keutamaan dari sosok Tove Lo adalah kemampuannya dalam mengajak pendengar untuk terlibat dalam lagu-lagunya. Maka ia berhasilah ia menjalankan tugasnya sebagai seorang penyanyi.

Dengan adanya sosok seperti Tove Lo, skena pop pun terlihat menjadi cerah kembali dan menjanjikan pengalaman musikal yang bernas, ketimbang pop permen karet yang renyah tapi alih-alih diserap tubuh, ia harus segera dienyahkan setelah manis menghilang. Sebagai album pop, Queen of the Clouds adalah album yang cukup kaya akan variasi. Tangan dingin Tove Lo menegaskan jika album ini bukan sekedar filler, tapi sebuah album dengan materi yang kuat dan berkesan.

Jadi, selamat datang Tove Lo dan ditunggu gebarakan berikutnya!

(4/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s