Various Artists – The Hunger Games Mockingjay, Pt. 1

Various Artists - The Hunger Games Mockingjay, Pt. 1

Tim kreatif di balik film The Hunger Games: Mockingjay, Part 1 tampaknya sangat terkesan dengan Lorde hingga mengajak sang penyanyi muda yang tengah naik daun untuk bertugas sebagai kurator dan memilih siapa musisi atau lagu yang terlibat dalam album soundtracknya. Dan Lorde tak menyia-nyiakan kesempatan dengan mengerahkan enerjinya dengan memilih nama-nama yang tengah menanjak di skena musik dunia untuk mengisi album tersebut.

Lorde memposisikan dirinya sebagai Katniss Everdeen, tokoh utama seri The Hunger Games, saat mengerjakan Yellow Flicker Beat, lagu tema dari Mockingjay – Part 1. Dan dengan cemerlang Lorde mengerjakan tugasnya. Tidak hanya menghadirkan atmosfir gelap dan moody sebagaimana ciri khasnya, namun ia juga membangkitkan nuansa antemik megah yang filmis dalam Yellow Flicker Beat. Electronica dan pop yang menjadi kandungan single ini diperdayagunakan dengan efektif pula oleh Lorde, menunjukkan kekhasan dirinya sebagai musisi. Tidak heran jika lagu ini kemudian mendapat nominasi sebagai Lagu Soundtrack Terbaik di ajang Golden Globe mendatang dan dipercaya jika akan mendapatkan nominasi yang sama untuk Oscar.

Sebagai sosok yang bertanggung jawab akan album ini, Lorde tentunya tidak hanya hadir di satu lagu. Ia membantu Stromae sebagai penyanyi verse di track pembuka, Meltdown. Tapi Lorde tidak sendiri, karena ada Pusha T, Q-Tip dan Haim yang juga hadir memeriahkan. Lorde menyanyikan Ladder Song yang merupakan karya Connor Oberst yang bertugas sebagai penutup album. Lagu balada atmosferik ini memang pas bagi vokal Lorde, meski kini ia terdengar lebih rapuh daripada biasanya.

Sementara itu Yellow Flicker Beat mendapat sentuhan remiks dari Kanye West yang kini berjudul Flicker saja. Secara umum lagunya tidak berubah banyak, hanya saja mendapat sedikit rombakan dari segi instrumen, sehingga lagunya menjadi lebih kental akan nuansa trip-hop.

Yang menarik adalah bagaimana Lorde memilih siapa saja artis yang terlibat dalam album ini. Sebagai contoh Lorde memilih Ariana Grande untuk bertugas sebagai salah satu pengisi soundtrack The Hunger Games: Mockingjay, Part 1. Mereka pun kemudian bekerjasama dalam mengerjakan single yang bertajuk All My Love ini. Mereka tidak hanya berdua, karena ada penyanyi yang juga tengah naik daun, MØ, yang membantu. All My Love sendiri merupakan sebuah lagu EDM yang sangat catchy dengan beat yang mengundang perhatian. Dan bagian EDM ini dipercayakan kepada proyek sampingan Diplo, yaitu Major Lazer, yang dilaksanakannya dengan sangat baik.

Lorde juga mengajak penyanyi-penyanyi muda berbakat lain untuk bergabung dalam Mockingjay, Part 1, seperti penyanyi RnB penuh talenta, Tinashe, yang mempersembahkan nomor moody berjudul The Leap. Atau Tove Lo yang hadir dengan Scream My Name, yang seperti biasa adalah electro-pop eklektis ala Tove Lo. Mencengkram kuat melalui dimensi emosi yang diteriakkan dalam nyanyiannya yang terkadang terddengar getir. Sementara Charli XCX tetap terdengar slengean saat menghadirkan Kingdom. Juga nomor electro-pop. Masih kental dengan pengaruh rock. Tapi Charli XCX kini terdengar lebih edgy, sebagaimana yang dulu kita kenal melalui album-album awalnya. Uniknya ia mengajak Simon Le Bon dari band Duran Duran untuk membantunya.

Simon Le Bon bukan satu-satunya nama senior di album ini. Ada penyanyi sekaligus aktris yang pernah menjadi Bond Girl, Grace Jones, yang menyanyikan lagu electronica berbau tribal dan industrial, Original Beast. Sementara band pengusung electronica, The Chemical Brothers, hadir dalam This is Not a Game, dengan Miguel sebagai pengisi vokal. Industrial dan hip-hop bertemu dalam olahan The Chemical Brothers yang tak kalah edgy, sementara Lorde hadir di latar, sebagai aksesoris lagu.

Edgy tampaknya memang kata kunci bagi Lorde dalam mengerjakan album ini. Sehingga tidak heran jika para musisi yang direkrutnya mengerjakan lagu-lagu yang menerjemahkan semangat edginess tersebut. Dan Lorde patut dipuji karena mengerti benar bagaimana menyusun sebuah album soundtrack yang eklektis. Selain nama-nama di atas, ia juga menarik beberapa nama pendatang baru lain, yang meski relatif kurang terkenal, (terkecuali CHVRCHES yang hadir dengan Dead Air, sebuah lagu synth-pop yang kental dengan ciri khas mereka atau Bat For Lashes yang melakukan cover version dari lagu milik Son Lux), akan tetapi cukup menjanjikan.

XOV memperkenalkan electro-pop berbau synth dalam nomor mid-tempo, Animal, yang mungkin menyusupkan semangat edgy ke dalamnya karena ingin menyamakan persepsi dengan musisi lain yang terlibat di dalam album. Sedang Raury menginjeksikan gemuruh yang antemik dalam Lost Souls, sebuah pop-folk berbumbu elektronika yang mengandalkan atmosfir.

Jadi, di sinilah keberhasilan Lorde sebagai kurator. Meski datang dari berbagai musisi yang memiliki usungan genre musik yang cukup berbeda, tapi Lorde mampu menyajikan mereka dalam tone dan aspek tematis yang cukup seragam. Dan ini bukan berarti jelek. Album tetap terdengar kaya, akan tetapi ada benang merah dari setiap lagu yang menjadi penghubung warna antar satu lagu dengan lagu lainnua. Komposisinya mungkin tak kaya warna (kelam seolah menjadi syarat mutlak untuk bergabung), tapi jelas sangat variatif dalam segi sound dan teknis.

Sebuah album soundtrack yang juara!

(4/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s