Hozier – Self-titled

Hozier

Tanah Irlandia biasanya dikenal sebagai penghasil musisi-musisi rock solid bernafas pesan sosial yang kuat, sebutlah seperti U2 atau The Cranberries. Jika pun kemudian mereka juga menghasilkan Boyzone dan banyak pengekor lain, tetap saja mereka adalah musisi yang memiliki kedalaman tersendiri. Kini hadir Hozier, yang bukan membawa rock atau pop, tapi soul. Ia hadir dalam album debut, sebuah self-titled, yang impresif.

Bernama asli Andrew Hozier-Byrne, Hozier dibesarkan dengan semangat blues. Ayahnya seorang drummer bergenre blues. Namun dengan nama-nama antara lain Nina Simone dan Pink Floyd yang menjadi teman saat dirinya tumbuh dewasa, tentunya memberi pengaruh pada gaya bermusik Hozier. Dan itu juga yang memberi tekstur kepada album ini.

Album dibuka dengan track yang kini menjadi hits yang membesarkan namanya, ‘Take Me to Church’. Meski berbau gospel, tapi menghimbuhinya dengan semangat indie-rock. Tentunya sub-genre tersebut yang menjadi esensi lagunya. Dengan tempo sedang dan mood yang gelap, lagunya memang terdengar murung, tapi tak mengurangi kekuatan rock Hozier. Yang pasti vokalnyalah yang menjadi penggerak lagu yang berkisah tentang hubungan dengan gereja Katolik Irlandia ini. Lagu pun terdengar sangat kaya warna.

Sayangnya mungkin kaya warna tidak bisa disematkan dengan albumnya secara keseleuruhan. Tapi hey, jangan takut. Karena bukan berarti jelek. Hozier memenuhi albumnya dengan lagu-lagu yang memadukan blues, soul dan rock dengan takaran yang pas, dan setiap lagu hadir dengan jangkauan dinamika tersendiri.

Rasakan pengalaman eklektis yang disampaikan oleh ‘From Eden’ yang dihadirkan dengan gempita, lengkap dengan pengaruh flamenco di dalamnya. Sementara dalam ‘Someone New’, ia memberi penekanan pada kosa kata soul tadi dengan maksimal. Simak juga ‘Jackie and Wilson’ yang sontak membawa kita ke dekade 70-an, dimana Rolling Stone atau Pink Floyd berjaya. Dalam ‘To Be Alone’ ada imbuhan southern rock terdengar di dalamnya, meski terkadang justru mengingatkan akan folk asungan Fleet Foxes.

Mungkin ‘Angel of Small Death and the Codeine Scene’ akan agak mengingatkan akan Adele (‘Rolling in the Deep’ anyone?), tapi kesamaan ini tak lebih karena mereka memiliki dasar musik yang setipe. Persamaan lain adalah vokal yang mampu memekik dengan bertenaga, namun di saat lain melantun dengan subtil. Album ini menyediakan ruang bagi Hozier untuk melakukan hal tersebut.

‘In a Week’, sebuah balada yang melantun manis, terdengar begitu syahdu dan melakolis. Apalagi ada kehadiran Karen Cowley yang membantu Hozier di sini. Sedang dalam ‘Work Song’ kembali dimanfaatkan, meski vokal Hozier sebagai sentra cenderung lirih dan subtil. Semangat folk lembut mengalun bisa ditemui dalam ‘Like Real People Do’. Lagu ini memang terdengar agak menjauh dari lagu-lagu Hozier lain, yang meski memiliki gaya berbeda, tapi terdengar seragam. Mungkin karena pilihan Hozier untuk menyanyikan lagu ini dalam gaya berbeda dari biasanya.

Mungkin Hozier mewarnai albumnya dengan tone yang sama. Gelap, dengan getir mendominasi. Namun, harus menjadi perhatian di mana lagu-lagunya terdengar organis, bahkan cenderung mentah, nyaris tanpa polesan modernitas, yang membuat album ini seolah-olah berasal dari masa lalu.

Justru itulah yang menjadi kekuatan dari Hozier. Ia mampu membawa musik kembali ke bentuknya, bahasa jiwa. Bebas ikatan akan norma populeritas. Musik yang dinyanyikan sebagai wadah ekspersi. Bukan bentukan industri. Jelas sebuah album debut yang menjanjikan.

(3.5/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s