Madonna – Rebel Heart

Madonna - Rebel Heart

Rumus untuk tetap bertahan bagi seorang artis pop (dan lagu-lagunya) adalah bersandar pada formula sukses. Formula yang terbukti ampuh untuk menempatkan dirinya selalu berada di bawah spotlight. Tapi, apakah rumus tersebut berlaku pada seorang Madonna? Jawabannya bisa ya, bisa tidak.

Tidak, karena Madonna selalu menemukan cara untuk tidak mengulang repetisi apa yang pernah dilakukannya dan bergerak pada sesuatu yang baru sebagai bagian proses reinvent her style and musicality.

Ya, karena pada dasarnya Madonna banyak mengambil referensi dari dirinya sendiri untuk kemudian didaur ulang dan dipoles dengan sesuatu yang baru, atau bisalah kita sebut dengan kekinian.

Hadir selama hampir 4 dekade, dan kini sudah memasuki usia 56 tahun, Madonna tidak pernah kelihatan lelah atau kehilangan enerji. Dan itu masih dibuktikan dalam album ke-13nya, “Rebel Heart“, sebuah album yang kaya akan warna EDM yang kini tengah menjadi trend.

Tapi, sebenarnya EDM bukanlah hal yang aneh bagi Madonna. Saat musik dansa electronic masih belum dikenal dengan istilah tersebut, ia sudah cukup sering mempersembahkannya. Bahkan bisa dikatakan “Ray of Light” (1998) menghadirkan barisan lagu EDM yang tidak hanya memiliki estetika bermusik yang brilian namun berkelas, ketimbang mengejar beat ritmis yang intens belaka.

Dan semenjak itu album-album Madonna selalu kaya akan electronica dan dance yang memadu dengan rapat.  Hanya saja, antara satu album dengan album lain selalu terdengar berbeda, karena Madonna menghadirkan konsep yang berbeda juga. Inilah kelebihan Madonna dibandingkan dengan banyak musisi pop lainnya.

Lantas bagaimana dengan “Rebel Heart”?

Sejujurnya ini bukan album terbaik Madonna. Secara umum, “Rebel Heart” adalah perwujudan sederhana bagaimana formula lama diasah ulang Madonna untuk terdengar baru dan kekinian. Bukan berarti ia seolah lelah dalam menemukan sesuatu yang baru, hanya saja sangat terasa geliat agar dirinya terdengar (dan terlihat) update dengan trend kekinian.

Album dibuka dengan ‘Living for Love’, sebuah nomor deep house yang mengembalikan kenangan ke era 90an. Seolah-olah Madonna tidak mau kalah denga Kiesza, Disclosure, atau siapalah yang sekarang tengah melakukan revivalitas house. Kerjasamanya dengan Diplo menghasilkan daur ulang cutting edge dari ‘Vogue’ atau ‘Justify My Love’.  Cutting edge, tapi tetap saja daur ulang.

Disambung dengan nomor balada folk electronica kolaborasinya dengan maestro EDM, Avicii, ‘Devil Pray’, yang disambung dengan balada mid-tempo lain, ‘Ghosttown’. Meski demikian, rasanya pas jika mereka menjadi bagian dari album “Music” (2000). Tiga track dan nuansa déjà vu sudah kental terasa.Uh oh, isn’t a good sign.

But bitch, this is Madonna we talking about! Ia langsung menghajar pendengaran dengan ‘Unapologetic Bitch’, sebuah nomor reggaeton yang membuai dengan irama dansanya yang menggoda. Diplo kembali bertugas membantu Madonna dan menjalankan tugasnya dengan mencorong.

Dan bukan Madonna namanya jika ia tidak senang bermain-main dengan konteks. Maka hadirlah track electro-RnB seperti ‘Illuminati’ yang menyebutkan banyak nama ternama di dalamnya, termasuk Lady Gaga serta Kanye West yang juga bertugas membantu Madonna di track ini. Tidak hanya memiliki beat menggelegar, tapi aspek tematis yang kuat menjadi kelebihan lagunya.

Berbicara soal lagu yang yang kuat dengan konteks, “Rebel Heart” punya ruang yang cukup lega untuk itu. Dengan mengajak Mike Tyson untuk menyumbangkan dialog dalam track ‘Iconic’, Madonna membuktikan tidak bermain-main dalam memainkan tema dan konsep.  Begitu juga ‘Joan of Arc’ yang awalnya menjanjikan sebuah balada minimalis, sebelum menunjukkan rupanya sebagai pop 90-an yang khas.

Juga senang rasanya Madonna memanfaatkan Avicii justru bukan untuk track-track EDM bergelora, melainkan lagu-lagu subtil seperti ‘HeartBreakCity’ dan ‘Wash All Over Me’, meski keduanya memiliki gaya yang cukup berbeda. Jika yang pertama mengandalkan electro-pop sebagai anthem, maka track kedua adalah badala electronica yang mengawang, kaya ambient dan atmosfir, mengingatkan kinerja William Orbit dalam “Ray of Light”.

“Rebel Heart” mungkin awalnya mengindikasikan sebagai sebuah proyek EDM, tapi kita tersadar jika “MDNA” (2012) sudah pernah melakukannya. Jadi yang dilakukan Madonna sekarang adalah mengksplorainya dalam ranah yang lebih pop. Tidak heran jika ada track seperti ‘Body Shop’ yang menunjukkan kelas Madonna sebagai seorang bintang pop dengan kekuatan musik yang tegas. Memadukan antara folk, world music, new wave dan pop, lagunya terdengar sangat menyentuh.

Hanya saja, dengan tetap memasukkan track-track “hip-hop” seperti ‘Bitch, I’m Madonna’, yang kembali mengajak Nicki Minaj (hey, sekarang ini tidak akan trendi tanpa mengajak Minaj mengisi rap lagu kita, kan?) yang terdengar narsistik,atau ‘Holy Water’ yang memanfaatkan sentimen religi sebagai kontroversinya, “Rebel Heart” enggan untuk merangkul pop yang subtil secara penuh, meski sebenarnya tendensi untuk itu ada dan kuat.

Dengan banyaknya referensi ke album-album sebelumnya, “Rebel Heart” terlihat seperti sebuah upaya dalam mengakumulasi musikalitas Madonna dan memolesnya dalam pendekatan kekinian. Tidak ada yang salah. Materinya dikerjakan dengan baik.

Tapi jika mencermati “Rebel Heart” secara keseluruhan, ia terdengar belang-belang. Antara satu lagu dengan yang lain terdengar berbeda sehingga terkadang tidak cocok untuk disandingkan. Ada lagu yang brilian dan berkelas. Ada juga lagu yang terdengar cheesy dan dangkal.

Memang, lagu dengan tone dan gaya yang berbeda bukan hal yang aneh bukan Madonna, cuma biasanya selalu ada benang merah yang menyambungkan sehingga setiap lagu bisa berdiri sejajar di bawah naungan payung yang sama. Mungkin dengan mengedit ulang materinya (membuang yang tak perlu, menyatukan yang bercorak sama),  “Rebel Heart” akan jauh lebih stand-out dan bisa disejajarkan dengan “Like a Prayer”, “Erotica”, “Ray of Light”, atau setidaknya “Music”.

Terlepas dari itu, ini Madonna yang kita bicarakan. Di tangan musisi yang tidak berpengalaman, album ini akan menjadi mimpi buruk. Sebuah mishmash yang kacau. “Rebel Heart” masih menjadi sebuah album pop yang menyenangkan untuk disimak, bukan hanya karena faktor Madonna itu sendiri, namun juga karena materi yang kaya akan nuansa, artistik terjaga, serta irik dan tema yang kuat. Hal-hal yang selalu bisa kita andalkan dari seorang Madonna.

(3.5/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s