Björk – Vulnicura

Bjork - Vulnucira

Akhirnya Björk! Dalam karir yang terbentang selama kurang lebih 3 dekade penyanyi Islandia ini mengukuhkan sosoknya sebagai musisi yang lekat dengan orisinalitas dan juga eklektisme yang sulit untuk diimitasi oleh orang lain. Ia selalu memberikan impresi yang kuat, tidak hanya melalui aksi panggungnya, tapi (tentu saja) album-album yang mencorong.

Periode 90-an mungkin merupakan era penegasan eksistensi dirinya. Album-album semacam “Debut” (1993), “Post” (1995), dan “Homogenic” (1997) sekarang sudah bisa dikatakan klasik dan lagu-lagu yang terdapat di dalamnya seolah menjadi bagian dari sejarah musik yang tak lekang oleh waktu.

Memasuki era 2000-an, Björk tetap memiliki selera artistik yang kuat, akan tetapi terasa lebih tersegmentasi dan mungkin hanya bisa dinikmati oleh kalangan fans yang biasa menikmati karya-karyanya. Di luar itu, album-album seperti “Medúlla” (2004), “Volta” (2007) dan terakhir “Biophilia” (2011), terasa asing dan berjarak. Björk seolah bermain dalam dunianya sendiri dan terputus dari dunia luar. Terlalu “aneh” untuk dipahami? Mungkin.

Tapi Björk yang accessible kini kembali. “Vulnicura“, album studio ke-9nya, bisa menjadi bukti.

“Vulnicura” adalah album yang menampilkan lagu-lagu yang membawa melodi harmonis ala 90-an yang dibalut oleh semangat techno-electronica-house yang sama dulu kita kenal. Tentu saja tidak terlupaquirkiness yang menggoda.

Meski terdengar kental dengan semangat retrospective, bukan berarti Björk melakukan repetisi dalam “Vulnicura”. Ia hanya mengusung semangat dan pendekatan yang sama, tapi materi “Vulnicura” jelas kekinian dan masih dalam garis yang sama dengan album-album Björk di dekade terakhir ini. Yang membedakan adalah “Vulnicura”, terlepas masih akan sangat “aneh” untuk selera awam, tapi memiliki lagu-lagu dengan struktur notasi dan melodi yang lebih linear dan gampang dicerna.

Ini menjadikan “Vulnicura” terasa lebih “manusia” di tengah deru musik mesinnya. Tidak terlalu canggih untuk dicerna. Björk menginfusi roh serta emosi dengan takaran pas pada lagu-lagunya sehingga terasa lebih berjiwa.

Dalam “Vulnicura” Björk mengajak Arca yang sebelumnya sudah membantu Kanye West atau FKA twig dan produser/musisi electronica, Haxan Cloack.  Kolaborasi mereka menghasilkan track-track yang mengandalkan dentum beat dan bassline yang rapat dan berdentum, layaknya sebuah anthem EDM. Tapi materi “Vulnicura” tidak sesederhana itu. Ia juga merupakan barisan lagu electronica yang lebih tradisional dan terdengar dipengaruhi oleh folk.

Gelagat ini sudah ditunjukkan oleh track pembuka, ‘Stone Milket’ yang entah mengapa mengingatkan akan ‘All is Full of Love’. Sederhananya, lagu terbuat dari string section yang mengalun merdu, vokal Björk yang bernyanyi dengan sedikit lirih dan sentimentil, serta bebunyian artifisial yang atmosferik menjadi latar. Lagu terdengar syahdu dan menghanyutkan. Pilihan yang sangat tepat sebagai pembuka album.

Secara umum “Vulnicura” diisi oleh lagu sejenis, seperti ‘Lionsong’ atau ‘Family’ atau ‘Mouth Mantra’ atau ‘Black Lake’. Untuk track terakhir mungkin bisa dikatakan sebagai ‘Hyperballad’ untuk “Vulnicura”. Dibuka dengan lirih dan minimalis, memasuki pertengahan beat mulai merapat dan dentumtrance menjadi bentukan utamanya.

Yang juga menjadi highlight adalah lagu seperti ‘Not Get’ yang terdengar seperti sebuah world musicyang tidak konvensional. Björk bernyanyi seperti tengah menghembuskan mantra, sementara musik latar terdengar intens dan menghentak-hentak. Segera saja kita terseret dalam pusarannya. Seolah terhipnotis dan enggan keluar dari segala eklektismenya.

Jangan lewatkan juga ‘Atom Dance’ yang subtil dan penuh perasaan. Jika saja Björk kembali membintangi film musikal seperti “Dancer in the Dark”-nya Lars von Trier, maka lagu ini harus menjadi salah satu bagiannya. Speaking of mantra, “Vulnicura” pun menghadirkan ‘Mouth Mantra’ yang bisa kiya sebut sebagai EDM versi Björk.

Jadi, selamat datang kembali Björk. “Vulnicura” adalah bukti bagaimana seorang musisi kaya pengalaman menjadikan materi lama menjadi sajian yang segar. Adaptif dengan perkembangan tapi tidak menghianati karakteristik aslinya.

Lagu-lagu electronica yang mengandalkan ambient dan atmosfir, tapi tidak steril, melainkan kaya warna dan berjiwa. Lagu-lagu menghanyutkan yang tidak hanya disebabkan oleh dentuman musik mesin, tapi juga digerakkan oleh emosi manusia yang membuatnya terdengar hidup.

Dengan “Vulnicura”, Björk kembali ke gemilangannya. Dengan “Vulnicura”, Björk membuktikan eksistensinya. Dengan “Vulnicura”, Björk memberikan salah satu album terbaik tahun ini.

(4.5/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s