Mencari Hilal

To call ‘Mencari Hilal’ as the best film is kinda overstatement. Really. But I beg not to differ if people mentioned it as the best Indonesian film for this year.

Mengingatkan akan ‘LA Grand Voyage’, pake banget, cuma ganti soal perjalanan naik Haji menjadi mencari Hilal antara ayah dan anak yang memiliki hubungan kurang harmonis.

Dan sebagai road trip, it’s all about the trip, not the final destination. Sepanjang perjalanan ayah dan anak ini bertemu dan mengamati berbagai hal yang kemudian mengevaluasi hubungan mereka.

I have problem with the script. Terlalu banyak kebetulan dan memaksakan diri untuk memasukkan isu-isu sosial, tapi tidak dijahit rapi, sehingga terkesan tempelan. Dan hampir lebih dari separuh durasi membahas ini, ketimbang secara perlahan melekatkan gap antara dua karakternya. Walhasil, menjelang akhir, film menjadi terasa tergesa untuk merapatkan mereka.

Tapi, terlepas dari kelemahannya, ini film yang cukup kuat secara emosi. Berkat akting bagus dari Dedi Soetomo, film bergerak dengan smooth dan menggugah. We can feel the heart. Oka Antara juga bisa menjadi tandem yang baik. Tanpa ketepatan akting mereka, film pasti akan terasa datar, mengingat pendekatan Ismail Basbeth, sutradara, yang cenderung low-key pada narasinya.

So, ‘Mencari Hilal’ adalah film tentang ayah dan anak yang menyentuh dengan cukup baik. Sayang untuk dilewatkan.

(3.5/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s