1001 Grams

1001 Grams

‘1001 Grams’ merupakan karya dari Bent Hamer, yang biasa dikenal karena film komedi deadpan miliknya, seperti ‘Factotum’ (2005) atau ‘Home For Christmas’ (2010). Tidak heran kalau ia disebut-sebut sebagai Wes Anderson-nya Norwegia. Komedi deadpan masih menjadi andalan dalam ‘1001 Grams’, hanya saja terasa sangat low-key, sehingga harus sedikit berusaha untuk merabanya.

Sesuatu yang quirky masih bisa dirasakan dalam ‘1001 Grams’, tapi secara umum ia terlihat seperti sebuah film kontemplatif penuh simbolisasi. Dimaklumi, karena ‘1001 Grams’ mencoba untuk mengangkat masalah tentang rasa duka dan kekecewaan sebagai objek kajiannya.

Film mengikuti seorang perempuan yang senantiasa terlihat murung bernama Marie (Ane Dahl Torp). Ia bekerja di sebuah pabrik yang sepertinya memproduksi timbangan. Ayahnya juga bekerja di tempat yang sama. Karena mendapat serangan jantung, Marie pun harus menggantikan sang ayah untuk menghadiri sebuah seminar di Paris, sembari membawa prototipe kilogram milik perusahaan ia bekerja.

Saat Marie diperiksa petugas Prancis di bandara, sulit untuk menghindari kesan konyol di adegan tersebut. Tapi ekspresi Marie begitu datar, sedatar eksekusi Hamer, sehingga jadinya malah terasa menggelisahkan. Secara umum, kesan seperti ini yang didapat sepanjang menyaksikan ‘1001 Grams’.

Film dipaparkan dalam kombinasi antara adegan (yang seharusnya) mengundang tawa dengan eksekusi yang cenderung tanpa emosi. Seolah-olah mengekspresikan isi hati Marie pada saat itu. Terbukti, saat ia berkenalan dengan seorang mantan professor bernama Pi (Laurent Stocker) di Paris, film terasa lebih hangat. Tone pucat dan steril, yang sedari awal mendominasi layar, perlahan mulai menjadi penuh warna.

Tentu saja ‘1001 Grams’ tentang pembatasan dan pengendalian diri, sehingga Hamer dengan cermat membangun filmnya dengan pendekatan yang sama. Tapi ia juga tentang keseimbangan (Marie bekerja di pabrik timbangan), sehingga monotonitas pun berangsur digantikan dengan semangat yang lebih ceria. Duka dan kecewa itu perlu, tapi life goes on and we should move on eventually. Mungkin demikian pesan moralnya.

Di tangan yang salah, ‘1001 Grams’ akan menjadi film yang membosankan. Oleh Bent Hamer ia menjadi sebuah tontonan yang meski bergumam dengan perlahan, sehingga memaksa kita untuk mendengarkan dengan lebih fokus, namun menyenangkan untuk disimak.

kemudian saat kita telah terbiasa dengan gumamannya, kita sadar ia mempertanyakan tentang sesuatu yang penting; berapa berat rasa duka dan berapa pula untuk menjadi hidup dan bahagia?

(4/5)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s