La Sapienza

La Sapienza

Sepertinya sudah saatnya Eugène Green (68) dianggap sebagai salah satu sineas penting masa kini. Karya paling mutakhirnya, kelima tepatnya, ‘La Sapienza’, bisa jadi alasan. Sineas Prancis, yang merupakan ekspat asal New York ini, bisa jadi telat masuk ke dunia film (circa awal 2000-an), tapi ia sudah mengembangkan sebuah gaya yang mungkin sudah bisa disebutkan sebagai auteurship-nya.

Latar belakang Green di dunia teater Baroque tentu saja mempengaruhi gayanya dalam mengerjakan film. Dipadu dengan pemilihan visual yang cenderung sederhana. Ini bisa terlihat dalam ‘La Sapienza’, sebuah drama komedi yang dihadirkan dengan gaya ala drama panggung, hanya saja dengan aksi teatrikal yang lebih stagnan dan tertahan.

Para aktor bermain dengan ekpresi yang nyaris datar dan intonasi dialog yang kaku. Mirip seperti yang kita dengar saat berada di kelas listening sebuah kursus bahasa misalnya. Ditambah dengan kerapnya para karakter ditangkap secara close-up dan tepat menatap layar sembari mengantarkan dialog mereka.

Anehnya, pendekatan yang non-realistis ini terasa sangat membumi dan lekat saat menyaksikan filmnya secara keseluruhan. Terlepas dari dominasi eksposisi berbau akademis, namun dialog yang terasa bersayap justru memberi kedalaman untuk karakterisasi para tokoh yang terlibat. Pada akhirnya mereka terasa manusiawi, meski ditampilkan dengan gestur yang (kadangkala) mirip dengan robot.

‘La Sapienza’ berkisah tentang sepasang suami istri asal Prancis bernama Alexandre dan Aliénor Schmidt (Fabrizio Rongione dari ‘Two Days One Night’ dan Christelle Prot Landman) yang berkunjung ke Italia guna kepentingan pekerjaan Alexandre sebagai arsitek. Tidak sengaja mereka bertemu dengan kakak-beradik remaja Goffredo dan Lavinia (Ludovico Succio dan Arianna Nastro).

Alexandre dan Aliénor yang awalnya terlihat kaku dan tegang, secara perlahan mulai terlihat hidup dan santai saat menghabiskan waktu bersama kakak-beradik tersebut; Goffredo (yang akan mengambil arsitektur sebagai studi perguruan tingginya) menemani Alexandre melintasi Italia mencermati berbagai bangunan klasik dan Aliénor menemani Lavinia yang sakit.

Tema ‘La Sapienza’ sebenarnya sederhana saja, jika tidak mau disebut klise: berdamai dengan masa lalu. Dengan mengambil nama salah satu bangunan Baroque terkenal karya Francesco Borromini, Sant’Ivo alla Sapienza, sebagai judul, ‘La Sapienza’ jelas ingin memproyeksikan bangunan tersebut dalam jalinan ceritanya. Bangunan kokoh yang terasa monoton, namun indah menawan saat kita mengeksplorasinya.

Kinerja sinematografer Raphaël O’Byrne begitu baik dan cekatan saat memerangkap berbagai bangunan klasik Italia dalam kameranya. Pergerakan kamera statis dan terkadang didaktis, namun mengurai pesona bangunan tersebut dengan kuatnya, sehingga tidak terasa terlalu superfisial atau turistis ala kartu pos. Setiap sudut dan detil dijelajah secara cermat. Akan memuaskan bukan hanya penggemar seni bangunan, namun juga penonton awam.

Perpaduan bahasa visual dan verbal yang tak biasa inilah yang menjadikan ‘La Sapienza’ sebagai sebuah pengalaman sinema yang unik. Ia bukan sebuah film tentang seni bangunan atau arsitektur. Ia mengajak penonton untuk tidak hanya untuk mengamati, tapi juga menelaah dan peduli.

Saat sudah merasa lekat, kemudian terlupa betapa artifisialnya para tokoh ini saat diperkenalkan di awal. Alih-alih merasa teralienasi, kemudian kita terlibat secara emosi dalam perjalanan Alexandre dan Aliénor dalam menemukan kembali diri mereka.

Inilah mengapa pengarahan Green terasa superior. Ia tidak hanya membuat filmnya memiliki cita rasa artistik yang khas dan berani, namun juga sebuah proses transformatif yang afektif dan mencerahkan.

(4.5/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s