Lana Del Rey – Honeymoon

Lana Del Rey - Honeymoon

The one and only Lana Del Rey is return. Dan tak lama setelah ia merilis “Ultraviolence” tahun lalu. Dalam “Honeymoon“, album studio label besar ketiganya, Del Rey menyebutkan ia mencoba kembali pada pendekatan yang dilakukannya dalam “Born To Die” dan juga EP “Paradise”, yaitu retro dream-pop yang kental dengan nuansa sadcore atmosferik. Mungkin ini memang benar. Hanya saja “Honeymoon” tidak secerah atau se-pop “Born To Die”. Ia bahkan jauh lebih kelam daripada “Ultraviolence”.

It’s like no more summertime sadness but sadness for all season.

Baiklah. Mungkin Del Rey menyajikan ‘High By The Beach’ sebagai track utama untuk album ini. Dengan memasukkan unsur trap yang kekinian, lagunya memang terdengar accessible atau sederhananya, radio friendly.  Lengkap dengan hook pada chorus serta disertai oleh bridge yang i, meski tetap terdengar mengawang, tentu saja. Track yang pas menjadi bagian dari era “Born To Die”.

Namun album dibuka dengan ‘Honeymoon’, yang juga menjadi judul album, sebuah track yang mengedepankan aksen dreamy dengan tebal pada sisi blues-nya, serta melodi mengambang nan sinematis. Pas jadi soundtrack James Bond jika David Lynch menjadi sutradaranya. Tentu atmosfir film noir memang bukan hal aneh bagi Del Rey. Ini sudah menjadi kekuatannya sedari awal.

Dan kini ia semakin mempertegasnya. Mendengarkan “Honeymoon” seperti memasuki sebuah perjalanan sinematik ala film noir, dimana thriller dan sensualitas bergelut dalam pekatnya aura gelap yang menjadi tone alurnya, mengusung tema seperti romansa yang bermasalah, kepahitan, nafsu, narkoba, eskapisme dan kekerasan.

Memang, saat menyimak track seperti ‘Freak’, yang menggabungkan jazz ke dalamnya, ‘Art Deco’ dimana baroque pop dihadirkan dalam versi yang lebih “sederhana”, trip-hop pop dalam ‘Music To Watch Boys To’, flamenco-esque ’24’ , atau ‘Swan Swong’ yang sepertinya adalah power ballad dalam versi Del Rey, ia sepertinya memang masih berkeinginan untuk tetap mengajak kosa kata pop bergabung dalam repertoar musikalitasnya,

Tapi perlu ditekankan jika mereka jauh lebih gelap dan tidak mengandung ketukan melodi yang cenderung lebih ringan (baca: hip pop-ish) dibandingkan ‘Born To Die’, ‘National Anthem’, atau ‘This is What Makes Us Girls’ misalnya.

Dalam “Honeymoon”, lagu-lagu dihadirkan dengan keseriusan yang paripurna dalam mengusung rasa kelam dan kedukaan. Sulit untuk tidak merasa depresi saat mendengarkan vokal Del Rey yang terdengar tersiksa saat melantunkan ‘God Knows I Tried’ misalnya. Uniknya, meski depresif dan menusuk perasaan, tapi lagu juga terdengar menawan, mengalun dengan indah.

Ini semua berkat nyanyian Del Rey. Vokalnya terasa semakin bulat dan terasah. Yang paling utama, menghadirkan setiap emosi dengan detil yang kuat, seolah-olah ia berbicara dalam sebuah dialog alih-alih bernyanyi.

Kekuatannya dalam mengkontrol tone juga terasa lebih ekstensif kali ini. Coba dengarkan ‘Salvatore’. Selintas, nomor latin ini terdengar agak konyol dan terkesan bermain-main, tapi lirik yang terkandung di dalamnya justru terasa sangat sedih, dan Del Rey menerjemahkan liriknya dalam nyanyian yang  elastis saat berpindah-pindah dari badung ke sendu.

“Honeymoon” masih menghadirkan kolaborator setia Del Rey, produser kenamaan Rick Nowels, namun menyimak albumnya secara keseluruhan, jelas jika kontrol utama memang terletak pada Del Rey.

Personanya sebagai Gangsta Nancy Sinatra menguar dengan kuat, memoles kecintaanya pada retro-pop dengan mengkilat. Tak ragu pula menyodorkannya kepada para pendengar. Ia mungkin tidak orisinil, tapi dengan berani menjadikan ketidak-orisinalitasannya menjadi platform musikalitasnya. Dengan begitu, justru menjadi terdengar jujur dan…orisinil.

Seolah untuk menegaskan mispersepsi yang sering diarahkan kepadanya, Del Rey menyanyi ulang lagu milik Nina Simone, ‘Don’t Let Me Be Misunderstood’, sebagai penutup album. Sebagai balada minimalis dengan organ yang mencekam di latar, Del Rey ingin kita mencernanya dengan baik sebelum kita memberi praduga tanpa alasan yang kuat.

Mungkin masalah yang sama akan diderita “Honeymoon”. Ia akan sulit dicerna bagi yang kurang cocok dengan musikalitas yang ditawarkan Del Rey. Namun akan menjadi sebuah bintang yang memancar terang layaknya berlian di langit jika memahami konsep yang diusungnya.

Yang lebih penting, “Honeymoon” adalah bukti jika Del Rey tahu dengan pasti apa yang ingin dilakukannya. Ia dengan jeli dan cermat merangka konsep khas yang ingin ditunjukkannya pada dunia sekaligus menghadirkan dirinya sebagai sosok dengan karakteristik yang solid. Kental dengan ambient gelap, “Honeymoon” menegaskan jika kemarin-kemarin adalah upayanya untuk menetap di skena musik pop, maka kini Lana Del Rey sudah tinggal dengan mantap dan mapannya.

Like it or not, “Honeymoon” definitely is among this year best albums.

(4.5/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s