The Salt Of The Earth

The Salt of the Earth

‘The Salt of the Earth’ is both hauntingly beautiful and full of sorrow. Dalam dokumenter ini kita mengikuti perjalanan hidup seorang fotografer bernama Sebastião Salgado (71) yang dalam 40 tahun terakhir telah merambah berbagai sudut dunia dan merekamnya dalam bentuk fotografi yang menangkap penderitaan dunia dengan indahnya. Sutradara kenamaan asal Jerman, Wim Wenders, kemudian mentransformasikannya dalam sebuah narasi yang tak kalah menggugah.

Karya-karya Sebastião, yang hadir secara hitam putih, memerangkap berbagai kronika manusia yang terjebak dalam pusaran krisis. mulai dari dataran Afrika, lintas Eropa, hingga kampung halamannya, Brazil.

Gambar-gambar tersebut provokatif, dengan sudut-sudut yang dramatis, namun juga indah. Derita perang, kelaparan, kemiskinan, dan keserakahan manusia biasanya menjadi objek karya-karyanya. Sepanjang film kita akan melihat barisan foto memukai yang dihasilkan Sebastião, sementara ia dengan tenang, terkadang emosionil, menerangkan latar setiap foto.

Tapi ia bukan melulu tentang karya-karya Sebastião Salgado, melainkan juga tentang sang fotografer itu sendiri. Makanya kita akan dipapar oleh latar belakang, perspektif, objektif, dan idealisme Sebastião dalam berkarya.

Wenders tidak sendiri sebagai pengarah, karena putra Sebastião, Juliano Ribeiro Salgado, menjadi mitranya. Mengingat seringnya sang ayah absen dalam kehidupannya, Juliano ingin mengenal ayahnya secara lebih dekat, dengan menyertai Salgado dalam misi terbarunya. Ia menghadirkan dokumenter ini tidak hanya untuk mengeksplorasi Sebastião Salgado yang hebat, namun juga sang ayah.

Karena cenderung sebagai film biografi, maka kajian sosial ‘The Salt of the Earth’ meski menohok namun tidak menjadi porsi utama narasi filmnya.

Kehadiran beberapa subplot sebenarnya menganggu dramaturgi ‘Salt of the Eart’, semisal tentang adik Juliano yang menderita down syndrome, yang kemudian hilang tak dibahas. Atau peran dominan sang istri, Lélia Wanick Salgado, dalam karir Sebastião, yang di awal hanya dalam bentu narasi, namun kemudian ditampilkan dalam upaya rehabilitasi hutan tropis. Topik yang kuat, hanya saja terasa diluar konteks.

Kemudian narasi oleh Wenders, Juliano dan Sebastião terkadang saling berkelindaan dengan kurang mulus, sehingga pada beberapa kesempatan terasa agak membingungkan. Kemudian menjelang akhir keduanya seperti hilang dari peredaran dan Sebastião secara solo menjadi suar narasi.

Secara visual juga terdapat beberapa kejomplangan. Sinematografi memukau dari Hugo Barbier (Pina) harus bertabrakan dengan tangkapan Juliano yang terasa amatiran. Gangguan lain adalah kecendrungan film untuk menghindari topik sensitif seperti etika di lapangan saat Sebastião memotret objeknya (yang kerap berada dalam kondisi atau situasi menggenaskan).

Tapi ‘The Salt of the Earth’ adalah sebuah dokumenter yang menggugah. Ia begitu kuat, sehingga meminggirkan semua cacat celanya. Tidak hanya membuka mata tentang dinamika kehidupan manusia yang penuh duka dalam tangkapan lensa kamera menawan, juga sebuah drama bernas tentang dedikasi seorang fotografer handal bernama Sebastião Salgado dalam menjalani profesinya.

(4/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s