Crimson Peak

Crimson Peak

Meski sebagian besar penonton awam mengenal Guillermo del Toro berkat film-film blockbusternya, (‘Blade’, ‘Pacific Rim’), namun namanya terangkat justru berkat karya-karya horor-fantasi seperti ‘Cronos’, ‘Mimic’, dan ‘The Devil’s Backbone’. Bahkan ‘Pan’s Labyrinth’ (2006) bisa disebutkan sebagai masterpiece dari del Toro. Kini ia kembali membawa genre yang membesarkan namanya, horor, dalam sebuah film berjudul ‘Crimson Peak‘.

Tapi ini bukan film horor. Setidaknya dalam pakem konvensional. Sebagaimana Edith Cushing (Mia Wasikowska) sebutkan saat menjelaskan tentang novel yang tengah dikerjakannya, ‘Crimson Peak’ bukan cerita hantu, tapi sebuah cerita dengan hantu. Bahkan ia merasa perlu untuk menghabiskan porsi awalnya sebagai sebuah roman.

Sebagaimana disebutkan del Toro, ‘Crimson Peak’ pada sejatinya adalah sebuah roman Gotik yang menghadirkan supernaturalisme dan ketegangan sebagai bagiannya. Sebutlah sebagai versi R-Rated for violence and gore untuk ‘Jane Eyre’ karya Charlotte Brontë. Apakah kebetulan jika Wasikowska, pemeran Eyre dalam film versi adaptasi Cary Joji Fukunaga di tahun 2011, terpilih pula sebagai pemeran utama ‘Crimson Peak’? Sepertinya tidak.

Meski dibuka dengan adegan yang memperlihatkan Edith kecil yang dihantui almarhum ibunya, ‘Crimson Peak’ justru menghabiskan perkenalan karakter dalam nuansa drama yang kental. Del Toro rasanya boleh juga kali lain mengerjakan sebuah drama murni berlatar abad lalu seperti ini, karena cukup tanggap dalam menggali aspek dramatisasinya.

Barulah saat adegan berpindah ke kampung halaman suami yang baru dinikahi Edith, Sir Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) di pedalaman Inggris yang sepi, tone berubah menjadi lebih kelam dan misterius. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan baru, Edith juga harus berhadapan dengan kakak suaminya, Lady Lucille (Jessica Chastain) yang dingin. Namun masalah Edith bukan hanya iparnya, tapi juga hantu-hantu penghuni Allerdale Hall, puri bobrok dimana mereka berdiam bersama.

‘Crimson Peak’ adalah film yang cantik. Atmosfir Gotik dibangun dengan baik. Didukung dengan tata busana istimewa oleh Kate Hawley, yang seolah-olah menjadi salah satu karakter dalam film. Begitu juga tata artistiknya yang tak kalah menawan.  Secara visual filmnya juga sangat memanjakan mata, Kelemahan mungkin pada tata efek khusus yang terlihat agak kasar. Terlepas dari itu, dari segi teknis ‘Crimson Peak’ adalah film yang juara.

Del Toro sendiri tampak sangat bersemangat dengan menjadikan ‘Crimson Peak’ sebagai film penuh referensi kepada berbagai film horor klasik. Banyak adegan yang “meminjam” dari pendahulunya, sebutlah seperti ‘Nosferatu’, ‘The Haunting’, ‘Rebecca’, ‘Bride of Frankenstein’ hingga ‘Bram Stoker’s Dracula’ atau film-film horor Hammer.

Hanya saja ini juga menjadi kendala, karena film terlalu bernafsu untuk menghadirkan semangat tribut sehingga kehilangan karakter aslinya. Sulit untuk menemukan orisinilitas secara visual. Sebenarnya atmosfir misterius, gelap dan mengerikan tergali dengan baik. Hanya saja pemilihan scare tactic yang klise dan formulaic menghalangi film untuk bisa memunculkan kosa kata seram dengan efektif. Ditambah barisan hantu yang kurang mengandung karisma yang berkesan.

Diperkeruh dengan plot yang tak kalah tertebaknya, meski ada kejutan yang diharapkan mengejutkan. Naskah yang ditulis oleh Guillermo del Toro dan Matthew Robbins  banal dan terlalu familiar. Lebih mirip melodrama ala opera sabun ketimbang roman Gotik. ‘Jane Eyre’ atau ‘Wuthering Heights’ juga memasukkan sesuatu yang kelam, sinis, serta tragedi. Tapi kekuatan utama mereka justru terletak pada karakterisasi yang kuat dan dramaturgi yang mengikat.

Karakter-karakter dalam ‘Crimson Peak’ terasa datar dengan dimensi yang sempit. Mereka adalah arketipe ala horor atau thriller yang hadir  hanya sebagai alat penggerak unsur ketegangan dan tanpa kedalaman atau kompleksitas secara psikologis. Sebagus apapun Wasikowska, Hiddleston dan Chastain bermain, sayangnya tidak memberi impresi yang benar-benar membekas, karena mereka tidak diizinkan menjadi karakter yang lebih utama (meski punya potensi untuk menjadi salah satu rekaan kakak-beradik Brontë) ketimbang sensasi horor itu sendiri.

Pada akhirnya film terasa seperti kebingungan, mana yang ingin ditonjolkan, Drama? Roman? Thriller? Horor? Semua bertabrakan dan ingin terlihat menonjol, tanpa ada jalinan yang mulus. Lebih mirip sebuah pakaian dari kumpulan perca, ketimbang busana dari berbagai bahan yang terjahit dengan rapi.

Ini menjadi mengecewakan, mengingat del Toro sudah pernah dengan gemilang menghadirkan drama berbumbu horor dengan takaran yang pas melalui ‘The Devil’s Backbone’ dan (terutama) ‘Pan’s Labyrinth’. Ironisme, kegetiran atau duka adalah yang menonjol alih-alih kengerian dan teror belaka.

Meski begitu, del Toro selalu bisa diandalkan dalam menghadirkan film yang renyah untuk dinikmati. Terlepas dari betapa konyolnya sebenarnya ia bertutur, film tidak membosankan. Del Toro paham bagaimana membangun dan menghantarkan ketegangan. Seperti sebuah wahana, ‘Crimson Peak’ menjanjikan intensitas yang seru dan rasa-rasanya masih bisa tetap dinikmati walau sudah dinaiki untuk kesekian kalinya.

(3.5/5)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s