Knock Knock

Knock Knock

Nama Eli Roth sinonim dengan horor, gore atau torture porn. Jadi, saat ia berniat untuk mengerjakan sesuatu berbeda dengan ‘Knock Knock’, tentunya disambut dengan baik. Kali ini Roth menghadirkan thriller ala home invasion yang diharapkan dapat menggugah pikiran dan membawa pesan moral.

‘Knock Knock’ berkisah tentang seorang pria baik-baik yang pada suatu tengah malam berderai hujan dikunjungi dua orang perempuan muda seksi yang sepertinya salah alamat. Betapa teguhnya dedikasi dan kesetiaan Evan Webber (Keanu Reeves), nama sang pria, terhadap istri dan anaknya yang tengah ke luar kota, godaan dua perempuan ini lebih teguh lagi. Sebagaimana diduga, ada motif lain yang dibawa oleh Genesis (Lorenza Izzo) dan Bel (Ana de Armas), nama para perempuan tersebut, dan  Evan harus menanggung akibatnya.

Premis ‘Knock Knock’ sederhana saja. Penonton rasa-rasanya sudah bisa menduga kemana alur film mengarah bahkan dalam 5 menit pertamanya. Tapi Roth patut dipuji karena dengan cukup cermat membangun paruh pertama dengan bangunan tensi yang kuat.

Sayangnya, di paruh kedua, saat home invasion mengambil alih, tensi yang sudah dibangun dengan baik tadi hancur berantakan. Film kehilangan gregetnya. Tidak ada ketegangan dan sensualitas seperti yang dijanjikan pada paruh pertama. Lebih mirip parodi dengan kelucuan yang kering.

Diperparah dengan tidak meyakinkannya akting Reeves sebagai pria lemah tak berdaya di hadapan dua perempuan muda tadi. Saat harus menguras emosi, yang ada ia malah terlihat menggelikan.

Begitu pula dengan Izzo (istri Roth di kehidupan nyata) dan Armas. Awalnya keduanya tampil dengan cukup baik sebagai karakter yang dicurigai memiliki motif tertentu. Hanya saja kemudian berubah drastis layaknya dua orang gila. Alih-alih menyeramkan malah terkesan menjengkelkan.

Berdasarkan film eksploitatif murah meriah era 70-an berjudul ‘Death Game’, dalam ‘Knock Knock’ Roth tampaknya ingin memberi semacam komentar sosial tentang prilaku pria berumah tangga. Hanya saja kemudian ia  seperti tidak tahu mau dibawa kemana sebenarnya film ini. Ranah eksploitasikah? Thriller erotiskah? Horor kontemplatifkah? Tidak jelas.

Ketidak jelasan ini disesali, mengingat ‘Knock Knock’ memiliki potensi untuk menjadi lebih provokatif. Tentunya tidak perlu mengharapkan efek gelisah yang menyesakkan layaknya ‘Funny Games’ milik Michael Haneke, namun ‘Knock Knock’ bisa menjadi sebuah wahana untuk pengalaman adrenalin yang seru. Tidak perlu berpretensi menceramahi, sebagaimana wujudnya saat ini.

(2/5)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s