A Copy Of My Mind

ACOMM

Saya selalu percaya, selain komedi, seorang Joko Anwar itu kuat di sisi dramatik romantik. Dan itu terbukti dalam film terbarunya, ‘A Copy of My Mind’.

Setelah komedi sebagai debut (‘Janji Joni’) dan barisan thriller high conceptsetelahnya, kini Joko mencoba mengangkat sesuatu yang lebih “membumi”. Realistislah kalau bisa kita sebut.

Film berkisah tentang Sari (Tara Basro) seorang pegawai salon kelas menengah penggemar film dan hubungan kasihnya bersama Alek (Chicco Jerikho), seorang pembuat subtitle DVD bajakan. Pertemuan tidak seketika. Awalnya kita menyimak keseharian mereka. Banal, tapi lekat dan personal. Seketika kita merasa karib dengan kedua insan ini.

Sebuah DVD dengan terjemahan yang jelek merekat perkenalan yang berlanjut dengan hubungan kasih. Kamar kos yang sumpek tidak menghalangi keintiman yang terjadi di antara mereka.

Sebagai kisah cinta ‘A Copy of My Mind’ mungkin tidak mengusung gambar-gambar indah. Cenderung mentah bahkan, lengkap dengan shot-shot yang terkesan mengintil, sementara lingkungan sekitar yang tanpa polesan hadir begitu nyata. Hanya saja justru inilah yang menjadi kekuatan film untuk memberikan penegasan jika romansa itu tidak melulu milik orang-orang dengan gelimangan harta atau trendi.

Saat film beralih ke sisi thriller, yang bermula dari Sari mencuri sebuah DVD dari tahanan “eksklusif” langganan salon tempat ia bekerja, yang dikiranya berisi film monster sebagaimana kegemarannya, transisi berjalan mulus.

Kemudian ketegangan merambati alur film. Atmosfir mulai terasa menggelisahkan. Tapi tidak lantas ia memilih menjadi sebuah permainan petak umpet jenerik yang kerap kita saksikan di sebuah film thriller.

‘A Copy of My Mind’ lebih bernas dari itu. Dengan pendekatan realismenya, saat menyajikan kisah cinta antara dua sosok marjinal di sebuah kota metropolitan, ia justru ingin memaparkan kerasnya dinamika sosial politik masyarakat urban-kontemporer justru pada karakter-karakter yang menjadi penopangnya. Dan kemudian saat juga menyentil sisi politis, ia terasa sangat organis. Meski sebenarnya terasa sebagai tempelan, karena cerita Sari dan Alek sebenarnya tidak harus bersinggungan dengan carut marut dunia perpolitikan juga.

Pada akhirnya ia cenderung mengajukan pertanyaan atas wacana ketimbang memberi jawaban. Dengan pengarahan yang mengalir dan bergaya dari Joko Anwar dipadu akting menawan duet Basro-Jerikho, ‘A Copy of My Mind’ menjelma menjadi sebuah kontemplasi. Namun ini bukan sebuah pengalaman meditatif. Ia adalah cerminan jika tulusnya cinta dan kasih sayang sayang justru lebih diapresiasi oleh sosok-sosok minor. Tanpa kepentingan. Tanpa pretensi. Walaupun kadang membuat hati menjadi patah.

★★★★☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s