Iseng

Iseng

‘Iseng’ mungkin sebuah film yang dikerjakan bukan untuk sekedar keisengan saja. Mengangkat cerita-cerita yang lekat dengan keseharian, meski mungkin dipandang sebelah mata, dan membungkusnya menjadi sebuah film dengan pesan sosial yang kuat. Dengan beberapa plot sekaligus, serta barisan karakter penuh warna, yang saling menjalin, tentunya beban Adrian Tang sebagai sutradara semakin berat.

Terinspirasi dari berbagai kisah nyata, ‘Iseng’ adalah sebuah film berkonsep interwoven yang berkisah tentang seorang polisi muda yang tengah menghadapi sebuah kasus pembunuhan yang terjadi kepada seorang perempuan simpanan yang menuntut kepastian pada kekasihnya, komplotan pembunuh sang perempua simpanan, sekretaris genit dan seorang perempuan lesbian, seorang pekerja seks komersial dan rekannya yang baru datang dari kampung, serta seorang koki berkelakukan ganjil dan majikannya yang cerewet.

Karakter-karakter ini (diperankan antara lain oleh Donny Damara, Tio Pakusadewo, Wulan Guritno, Donny Alamsyah, Fandi Christian, dan Yayan Ruhian) saling bersinggungan tanpa mereka ketahui, mengisi sebuah hari dan malam di Jakarta yang padat penduduk, dengan berbagai cita, nafsu, ambisi, motivasi, niat, tujuan dan sebagainya.

Dengan memadukan antara drama dan thriller, ‘Iseng’ sebenarnya memiliki kekuatan untuk tampil memikat. Hanya saja Adrian Tang sepertinya belum siap untuk mengeksekusi materi yang kaya dan kompleks seperti ini.

Pada beberapa bagian jalinan antar-plotnya tidak begitu mulus dan terasa kasar. Walhasil kompleksitas tadi malah terasa sangat sederhana, kalau tidak mau disebut terlalu memudahkan banyak hal. Dan ia masih belum bisa lepas dari tipikalitas melodrama yang mengharu-biru, Secara teknis, film juga tampil terlalu sederhana.

Tapi harus diakui, meski ada aral seperti tersebut di atas, Adrian Tang sebenarnya punya kemampuan dalam menghadirkan sebuah alur yang cukup enak untuk diikuti. Dan ia beruntung barisan aktor yang terlibat dalam  ‘Iseng’ bermain dengan baik, sehingga kelemahan-kelemahan yang menyertai film bisa sedikit terlupakan.

Sayangnya ‘Iseng’ juga adalah jenis film yang gampang terlupakan. Walaupun secara substansi memiliki kandungan pesan sosial yang cukup kuat, namun ia terlalu memberi penekanan pada sensasionalitas isu ketimbang isi cerita. Dan perspektif yang ditawarkan dalam ‘Iseng’ sebenarnya sudah banyak kita temui di berbagai media masa.

Mungkin akan lebih menarik jika Tang memberi penekanan pada aspek psikologis atau sosiologis, sebagaimana yang telah cukup baik disampirkan oleh ‘Selamat Pagi, Malam’ atau ‘A Copy of My Mind’ yang juga membahas tentang manusia-manusia yang “tersesat” di belantara urban ibu kota.

★★½☆☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s