Film Review: The Invitation (2015)

The Invitation adalah jenis thriller cerdas dan dewasa yang sayangnya mungkin tidak akan diapresiasi dengan baik oleh penonton awam. Ada beberapa alasan. Pertama, film bertutur dengan perlahan, sehingga memancing ketidaksabaran penontonnya. Dua, terlalu banyak dialog, minim aksi. Tiga, ia adalah jenis film yang mengandalkan atmosfir dan ketegangan secara bertahap.

Jadi kalau mengharapkan sebuah film dipenuhi jump-scares, adegan mengagetkan dan banjir darah, The Invitation sebaiknya tidak jadi pilihan. Tapi jika ingin terjerat dalam sebuah jalinan kisah misterius membuat penasaran, The Invitation layak untuk disimak.

Sebagaimana umumnya film thriller atau horor yang bertema “dinner party“, acara yang awalnya berjalan biasa-biasa saja berubah menjadi penuh intrik dan kemudian (barulah) ditutup dengan kengerian.

Film berkisah tentang Will (Logan Marshall-Green, Prometheus) dan kekasihnya, Kira (Emayatzy Corinealdi), yang diundang oleh sang mantan istri, Eden (Tammy Blanchard, Into The Woods) dan suami barunya, David (Michael Huisman, Game of Thrones) di acara makan malam sekaligus reuni bersama teman-teman mereka yang lain.

Will dan Eden berpisah setelah kematian putra semata wayang mereka. Jika Will sepertinya masih sulit untuk melupakan kesedihannya, Eden tampaknya sudah bisa melanjutkan hidupnya dan hidup bahagia. Will kemudian mulai mencurigai niatan pasutri ini setelah menemukan beberapa keanehan. Tapi apa? Dan mengapa?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang mengisi hampir durasi film. Kita sebagai penonton pun memposisikan diri layaknya Will. Apakah kecurigaanya beralasan atau sebenarnya ia hanya sekedar paranoid. Atau bisa jadi ia hanya tak rela jika sang mantan istri sudah bisa melepaskan rasa duka dan melanjutkan hidupnya.

Dinamika plot ini dieksekusi Karyn Kusama (Girlfight, Æon Flux, Jennifer’s Body) dengan penuh kehati-hatian. Hasilnya The Invitation hadir seperti sebuah drama psikologis tentang rasa duka dan pengaruhnya. Hanya saja, ia juga dengan jeli memasukkan suspensi di dalamnya, meski disuntik secara perlahan, sebelum akhirnya ditutup dengan babak ketiga mendebarkan. Kita bisa merasakan bahaya yang semakin mendekat, meski sulit untuk meraba bentuknya.

Adegan klimaks The Invitation dihadirkan dengan tempo yang jauh lebih cepat. Seharusnya tidak konsisten dengan tempo di dua pertiga film. Namun, mengingat ketegangan telah dibangun secara perlahan tapi pasti, maka tidak terasa mengganggu. Mungkin menjadi mengganggu karena The Invitation ditutup dengan adegan aksi yang terasa klise. Padahal film awalnya mengandalkan subtilitas sebagai sajian ceritanya.

Belum lagi karakter-karakter lain pada akhirnya hanya menjadi alat penggerak cerita. Tidak lebih menjadi bagian dari body-count saja, ketimbang sosok yang secara penuh masuk dalam ornamen ceritanya.

Tidak mengapa juga. Toh, Marshall-Green bermain dengan sangat baik sebagai fokus dan penggerak utama film. Sebagai catatan, ia makin mirip saja dengan Tom Hardy, tidak hanya secara fisik, juga dalam berakting.

★★★½☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s