Film Review: The Conjuring 2 (2016)

The Conjuring 2 poster

Tentunya James Wan dan horor bukan hal yang asing. Semenjak debutnya bersama Saw (2004), ia sudah menekuni genre ini. Namun namanya semakin lekat semenjak sukses Insidious (2011) beserta sekuelnya dan tentu saja The Conjuring (2013). Tidak heran jika kemudian lahir kelanjutan film yang diangkat dari kisah nyata pasangan penyelidik peristiwa supernatural, Ed dan Lorraine Warren.

Kali ini cerita berseting di London, tahun 1977. Ed dan Lorraine (Patrick Wilson dan Vera Varmiga) mencoba membantu seorang ibu tunggal bernama Peggy Hodgson (Frances O’Connor) yang bersama empat anaknya mengalami gangguan paranormal di rumah mereka. Teror terutama dialami sang putri kedua, Janet (Madison Wolfe). Meski sang mahluk halus kerap tak malu-malu dalam aksinya, seperti menggeser kursi di hadapan dua polisi yang menghadapi keluhan Peggy, namun banyak juga yang skeptis, seperti Anita Gregory (Franka Potente) yang menganggap jika peristiwa ini hoax belaka.

Seting 1970-an kembali dimanfaatkan Wan untuk menggali pendekatan ala film horor dekade tersebut dalam The Conjuring 2, sebagaimana film pendahulunya. Harus diakui jika pengetahuan Wan akan hal ini cukup luas dan komprehensif sehingga lagi-lagi sentimentalia ala horor lawas (The Omen dan The Shinning terlintas di benak saat menyimak filmnya) kental mewarnai film, meski tetap dalam pendekatan kontemporer.

Keterlibatan pasangan Warren dalam kasus rumah Amityville yang terkenal pun tak dilewatkan Wan untuk menjadi pembuka film dan kemudian menjadi semacam benang merah untuk jalan cerita utama. Beberapa menit awal dalam The Conjuring 2 adalah bagian paling menegangkan dari film.

Bukan berarti setelahnya film menjadi kurang menegangkan. Hanya saja, dengan durasi 134 menit, film terasa berkepanjangan, dengan teror pada keluarga Hodgson, terutama Janet, terasa repetitif. Dipangkas beberapa menit, film bisa jadi akan lebih solid lagi.

Di samping itu, pengetahuan Wan yang luas akan genre horor justru menjadi jebakan tersendiri. Ia mengandalkan formula seram familiar, sehingga tertebak dan mengurangi atmosfir seram dan suram yang sebenarnya bisa membuat filmnya menjadi lebih menyeramkan. Frekuensi adegan mengagetkan yang berlebih juga tidak membantu.

Untungnya ini James Wan yang kita bicarakan. Di tangan sutradara yang kurang pengalaman, konvensi formula dalam film akan membuat film terasa klise dan menjemukan. Oleh Wan, formula ini disampaikan dengan ritme dan intensitas terjaga, sehingga film terasa mengikat untuk disaksikan sampai tuntas.

Sisi drama dan humanis yang menyertai pun menjadi nilai lebih, terutama menyangkut pasangan Ed dan Lorraine. Angkat sisi horornya, bisa jadi The Conjuring 2 akan menjadi drama domestik yang cukup menyentuh untuk disimak. Chemistry yang terjalin antara Wilson dan Farmiga kini pun terasa lebih tebal.

Sayangnya, meski O’Connor, dan pemeran anak-anaknya bermain dengan baik, namun karakter mereka kurang memiliki resonansi yang luas. Dibandingkan Lily Taylor dari film pertama misalnya, dimana ia memberikan kedalaman dengan presisi pas, sehingga kita sebagai penonton benar-benar merasa peduli dengan dirinya.

Secara garis besar, The Conjuring 2 mengingatkan akan The Conjuring. Alur dan dramaturginya mirip, sehingga bisa dikatakan sebagai film yang sama alih-alih sebuah kelanjutan yang bergerak maju. Meski begitu, harus diakui Wan mampu membuat filmnya terasa menyenangkan untuk disimak. Dan sebagaimana halnya wahana roller coaster, meski sebenarnya kita tahu arahnya ke mana, tetap terasa seru untuk dinaiki.

★★★☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s