ARKIPEL 2016: My Talk With Florence (2015)

My Talk With Florence WP

Siapakah Florence Burnier-Bauer? Mengapa ia menjadi subjek dari film arahan Paul Poet ini? Apa urgensinya?

Sebenarnya tidak perlu merasa kurang informasi juga jika tak mengenal perempuan yang berada di pertengahan 60-an ini. Namun Poet merasa jika kisah hidup Florence perlu dan penting untuk disampaikan, sehingga hadirlah My Talk With Florence.

Film sebenarnya sebuah doumentasi dari wawancara Poet bersama Florence sepanjang kurang lebih dua jam. Nyaris tanpa potongan atau terputus. Florence mendominasi dengan narasi verbalnya. Hanya sesekali Poet mengajukan pertanyaan, entah untuk memandu atau menggali, mengingat Florence terasa sangat menggebu dalam mengungkap kisah kelam hidupnya.

Tuturnya tidak linear. Terkadang melompat-lompat dalam kronologi, sehingga Poet hadir sebagai suar dari pusaran kisah Florence. Terlepas dari itu, ini adalah film Florence secara utuh. Dan kita, penonton, terpaku mendengarkan kisahnya yang disampaikan dengan intensitas emosi yang kuat.

Florence adalah pencerita yang baik. Ia sangat ekspresif. Gestur dan mimik adalah aksesoris dalam ceritanya. Duduk nyaman di sebuah sofa dengan sebuah boneka rusak senantiasa berada di sisinya.

Entah kebetulan atau tidak. Disengaja atau bukan, hadirnya sosok boneka rusak tersebut seolah menjadi bahasa visual bagi kelamnya cerita Florence. Ini penting, karena film dengan sengaja hadir dalam shot yang staging dan monoton. Nyaris tidak ada ornamen narasi, kecuali beberapa teks sebagai penjelas.

Dalam bahasa Jerman yang terkadang beraksen Prancis, Florence mengajak kita untuk mengenal siapa dirinya. Kelahiran Paris dari keluarga kelas menengah, ia akrab dengan pelecehan seksual domestik semenjak usia dini. Menjelang dewasa ia memutuskan untuk hidup sendiri dengan bebas, bersama tiga anak yang lahir kemudian.

Sayangnya ia kemudian terjebak dalam sebuah komunitas bernama Austrian Friedrichshof-Commune, yang dipimpin oleh Seniman Aksionis bernama Otto Mühl. Di sinilah penderitaan Florence yang sejati baru dimulai.

Nama Florence mengemuka karena keterlibatannya dalam memenjarakan Mühl untuk kasus pedofilia, pemerkosaan dan juga pelecehan, semenjak ia mampu melarikan diri dari komunitas tersebut di tahun 1989. Komunitas yang seharusnya membebaskan secara sosial justru menjadi penjara di bawah kendali diktator yang memerangkap Florence dan anak-anaknya. Sebagaimana garis tagar film, My Talk With Florence adalah tentang pelecehan, perlawanan dan bertahan hidup.

Poet cukup cerdik untuk membiarkan Florence larut dalam ceritanya sendiri, karena sadar akan potensinya untuk bercerita dengan lugas. Terlepas dari sedikit berputar-putar. Dan ia memilih untuk mengungkap sosok Florence muda, melalui bantuan foto, secara perlahan, sampai kemudian jelas menjelang akhir. Efektif bagi film untuk membiarkan objektivitas penonton tidak menjadi bias.

Hanya saja, masalah dari dokumentasi verbal ini adalah subjektivitas sang interviewee sendiri. Sebagai bahasa verbal, subjek pasti mengandalkan ingatan. Dan ingatan adalah sesuatu yang sifatnya plastis. Ia gampang tereduksi atau tercampur dengan ingatan subjek lain yang kemudian diklaim sebagai milik sendiri. Oleh karenanya, terlepas adanya dukungan dokumen sah sebagai validitas, agak sulit untuk tidak berasumsi adanya bias dalam kisah Florence.

Mungkin banyak Florence-Florence lain di luar sana yang mengalami nasib serupa. Mungkin yang dialaminya tidak khas bersifat unik. Namun, keberanian Florence dalam melepas rantai perangkap derita jelas sebuah catatan yang penting untuk dilongok.

Dengan menghadirkan Florence Burnier-Bauer, Paul Poet mengajak kita untuk menganalisa ulang tentang apa itu rasa nyaman dan apa itu tanda bahaya. Yang pasti, menjadi penyintas dari teror psikologis adalah sebuah pilihan yang harus diambil oleh diri sendiri. Demikian pesan moral filmnya, jika memang My Talk With Florence memang bertujuan untuk mengumbar itu.

★★★★☆☆

==========

My Talk With Florence adalah salah satu film yang disertakan dalam sesi International Competition segmen Angst dalam “social/kapital” ARKIPEL 2016, Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s