Film Review: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)

Meski diangkat dari buku karangan Ransom Riggs (terbitan 2011), namun Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children seperti tercipta khusus untuk Tim Burton. Ada aspek fantasi-horor-gothik di dalamnya yang tentunya merupakan warna khas ala Burton sekali. Dan sebagai film Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children memang terasa sangat Burton-esque sekali, meski sayangnya ada yang mengganjal. Tidak hambar juga, masih renyah disimak, hanya saja pengolahannya kurang matang.

Jacob “Jake” Portman (Asa Butterfield) adalah remaja asal Florida dengan kehidupan membosankan. Eksistensinya nyaris tidak teraba. Bahkan ia pun merasa dirinya tak istimewa dan memiliki banyak kekurangan. Sampai kematian kakeknya, Abraham “Abe” Portman (Terrence Stamp), secara misterius, maka ia memulai petualangan ke sebuah pulau di wilayah Wales, Inggris, bernama Cairnholm, untuk mengunjungi sebuah sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus pimpinan Miss Peregrine (Eva Green), sebagaimana yang sering diceritakan kakeknya semasa hidup.

Awalnya Jake mengira jika sekolah ini hanyalah dongeng sang kakek belaka. Lantas ia kemudian bertemu langsung dengan Miss Peregrine dan anak-anak istimewanya, terutama si cantik Emma Bloom (Ella Purnel), remaja aerokinetik yang mampu memanipulasi udara. Ternyata sang kakek dulu pernah menghabiskan masa remajanya di sekolah ini di era Perang Dunia II. Berarti sang kakek juga termasuk istimewa juga, kan? Sesuatu yang tak pernah dibayangkan Jake sebelumnya.

Uniknya, Miss Peregrine dan para anak asuhnya hidup disebuah time-loop yang membuat mereka tak keluar dari satu hari di era Perang Dunia II, sebelum pesawat Nazi membombardir sekolah mereka. Berpuluh-puluh tahun mereka hidup tersembunyi karena menghindari ancaman Mr. Barron (Samuel L. Jackson), pimpinan komplotan peculiar jahat bernama Wight yang mengincar para anak-anak peculiar dengan bantuan barisan monster disebut Hollow yang hanya bisa dilihat oleh Jake.

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children diset sebagai konsumsi remaja, atau keluarga, sehingga mau tidak mau Burton harus mengurangi tone suram dan unsur kekerasan dalam film. Ada beberapa bagian di mana ciri khas Burton masih bisa diraba, seperti duel boneka-boneka yang dihidupkan salah satu anak peculiar, Enoch (Finlay MacMillan), atau mungkin adegan akhir dimana terjadi pertarungan antara Jake bersama anak-anak peculiar melawan para Hollow. Ada kinetisme gelap dan cita rasa macabre ala Burton dalam adegan-adegan tersebut.

Namun sebagian besar Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children lebih banyak diisi oleh dialog demi dialog eksposisi. Setidaknya sampai paruh pertama film. Barulah mulai pertengahan menuju akhir, ritme film mengalami eskalasi dan terasa lebih memiliki intensitas.

Sebenarnya secara sederhana bisa disebut jika Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah X-Men versi gothik ala Tim Burton. Idealnya demikian. Superhero dan fantasi bukan hal aneh bagi Burton. Dua film Batman-nya masih dianggap sebagai salah satu terbaik. Film tidak terlalu mengeksplorasi kekuatan super para anak peculiar ini. Setidaknya sampai adegan klimaks, yang tentunya terasa sedikit terlambat.

Film  cenderung memberi fokus pada Jake, yang sayangnya diperankan dengan datar oleh Asa Butterfield. Ia gagap dalam  menggali sisi ambigu karakternya, apalagi menunjukkan perkembangan karakter secara signifikan dalam konteks from zero to hero. Kurang memberi bekas berkesan ke benak penonton.

Eva Green tentunya merupakan bintang paling bersinar dalam Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children.  Kharismatis dan memesona, meski ada sesuatu yang ganjil dalam dirinya. Namun naskah tak memberi ruang bagi karakternya untuk berkembang lebih jauh. Begitu pula dengan Samuel L. Jakson, tentunya sang aktor fenomenal senantiasa memberikan penampilan meyakinkan, walau  agak sedikit over-the-top dalam aksi antagonistiknya.

★★★☆☆

 

 

 

Advertisements