Film Review: Snowden (2016)

Saat pembuat film dokumenter Laura Poitras, bersama dengan jurnalis Glenn Greenwald dan reporter The Guardian, Ewen MacAskill, dengan berani mengungkap kisah sang whistleblower NSA, Edward Snowden dalam Citizenfour, ia tidak hanya memenangi Oscar, namun membuka mata tentang praktek penyadapan yang dilakukan oleh pemerintah Amerika, tidak hanya kepada warganya, melainkan masyarakat dunia secara umum.

Kini kisah penuh ketegangan tersebut hadir melalui sebuah behind-the-scene yang dipaparkan oleh sutradara kenamaan Oliver Stone melalui Snowden. Tidak hanya tentang keberanian Poitras (diperankan Melissa Leo), Greenwald (Zachary Quinto) dan MacAskill (Tom Wilkinson) saja ingin dikupas oleh Snowden. Terutamanya juga signifikansi peran sosok kontroversial dalam salah satu skandal penting di dekade ini. Josep Gordon-Levitt diberi amanat mewakili sosok Edward Snowden di film.

Oleh karena itu, kita juga melongok sisi kehidupan Snowden; asal usulnya, hubungannya bersama sang kekasih Lindsay Mills (Shailene Woodley), serta mengapa akhirnya ia kemudian tergerak mengungkap apa yang dianggapnya bertentangan dengan nurani, dan bagaimana upayanya melakukan itu.

Stone bukan pemain baru untuk biografi berbau thriller-politik. JFK (1991), Nixon (1995) dan W. (2008) adalah bukti. Jadi seharusnya ekspos kisah Snowden tak kalah menarik. Hanya saja, terlepas dari aksi heroiknya (atau penghianatan dan mata-mata, tergantung sudut pandang), Snowden bukanlah karakter terlalu kharismatis. Terlepas dari upaya elaboratif mempresentasikan sisi hidup penting Snowdennya, film terasa miskin intensitas.

Snowden cenderung bergerak berdasarkan taburan dialog penuh eksposisi. Saat kemudian ada kesempatan memasukkan suspensi, film menahan diri dan senantiasa membumi, sehingga ketegangan pun nyaris absesn. Padahal bisa menjadi jeda dari monotonitas eksposisi. Film cenderung melelahkan, mengingat lumayan panjangnya durasi. Bisa jadi lebih efektif jika beberapa detil dipangkas atau dipadatkan.

Ia terasa lebih hidup dan dinamis justru saat menyoroti kisah di balik Citizenfour. Bukan hanya diisi oleh atmosfir berbalut kombinasi antara paranoia dan ketegangan, juga betapa hidupnya interaksi yang terjalin antara Snowden dengan tim Poitras-Greenwald-MacAskill. Dedikasi mereka tidak terbantahkan, meski kerapuhan dan rasa takut membayang di latar.

Gordon-Levitt berperan baik. Upayanya tidak hanya meniru secara perawakan dan suara, melainkan memberi kedalaman yang diperlukan. Pada akhirnya ia tidak hanya sekedar sebuah imitasi karikatural atau sketsa. Tidak benar-benar menjelma sebagai Edward Snowden, tapi  efektif sebagai penggerak ritme film.

Agak sulit menafikan keberfihakan film pada sisi “heroik” Snowden, atau tajamnya kritik terhadap aksi tak terpuji pemerintah Amerika dalam menginvasi privasi, sehingga film sulit menghindari bias subjketivitasnya. Mengingat film bergerak dari satu sudut pandang saja, maka hal tersebut memang sulit dihindari. Walau begitu, validitas muatan informasi dan pesan Snowden relatif kuat dan seharusnya ini cukup sebagai alasan untuk menyaksikannya.

★★★½☆☆

Advertisements