Film Review: Ae Dil Hai Muskhil (2016)

Semenjak debutnya di tahun 1998 dengan Kuch Kuch Hota Hai, nama Karan Johar kemudian identik dengan drama  yang memadukan drama, komedi, tari dan nyanyi secara extravaganza. Film-film Johar selalu menjadi blockbuster karena trademark-nya tadi. Dengan pengecualian My Name Is Khan (2010), ia kembali dengan ciri khasnya melalui Student of the Year (2012) dan kemudian dilanjutkan dengan film terbarunya, film panjang keenam lebih tepatnya, melalui Ae Dil Hai Mushkil.

Student of the Year menandakan kali pertama ia tidak berkolaborasi bersama Shah Rukh Khan dan memilih untuk menampilkan cerita dengan kadar melodrama ala masala secara lebih ringan, serta pendekatan urbanistik. Trend tersebut berlanjut dengan Ae Dil Hai Mushkil.

Dalam skala seorang Karan Johar, Ae Dil Hai Mushkil adalah sebuah film kecil dan sederhana, dalam arti populasi karakternya tidak banyak dan plot yang lebih fokus dengan sub-plot nyaris absen. Tapi apa artinya film Karan Johar tanpa roller coaster emosi dramatis? Maka Ae Dil Hai Muskhil pun masih dibekali dengan hal itu.

Ayan Sanger (Ranbir Kapoor) adalah seorang pria berasal dari keluarga berada dan bercita-cita menjadi penyanyi. Di sebuah pesta ia bertemu dengan Alizeh Khan (Anushka Sharma), seorang gadis happy-go-lucky. Setelah upaya kencan yang tidak berhasil, Ayan dan Alizeh memutuskan bersahabat saja.

Sejalan waktu, Ayan tak bisa menafikan jika ia mencintai Alizeh. Menjadi masalah karena perasaan sama tidak dirasakan sang gadis. Selain ia hanya menganggap Ayan sebagai teman, hati Alizeh masih belum bisa melupakan sang mantan kekasih, seorang DJ bernama Ali (Fawad Khan).

Saat Alizeh memutuskan menerima pinangan Ali, Ayan yang patah hati bertemu dengan sosok perempuan matang bernama Saba Taliyar Khan (Aishwarya Rai Bachchan). Meski demikian, Ayan tetap tidak bisa menyingkirkan Alizeh dari sudut hatinya, bahkan setelah sekian lama.

Coming of age tampaknya adalah tema yang kerap diusung oleh Karan Johar akhir-akhir ini. Tidak hanya melalui Student of the Year, namun juga film-film yang diproduserinya, seperti misalnya Yeh Jawaani Hai Deewani (2013) atau yang terbaru, Kapoor and Sons (2016). Dua film ini merupakan perpaduan pas antara drama kontemporer dan masala, di mana melodrama atau romansa tidak membayangi esensi utama cerita secara berlebihan. Sayang, Ae Dil Hai Muskhil cenderung gagal dalam mengikuti jejak mereka. Muatan film sebenarnya baik, dimana romansa tidak harus terjebak pada formula star-crossed lover dan mengandung pesan berdamai dengan hati dan kemudian moving-on. Hanya saja kecendrungan Karan Johar dalam eksekusi secara over-dramatis menjadi pengganjal.  Tidak masalah untuk kasus film-film Karan Johar sebelumnya, karena memang memiliki high concept. Namun tidak terasa tepat bagi film beraspek tematis sederhana seperti Ae Dil Hai Muskhil.

Sebagaimana tribut kepada klise roman Bollywood era 80-an yang menjadi aksesoris plot, film pun terjebak dalam klise sama. Pada akhirnya film terasa usang, meski berbaju kekinian. Belum lagi hadirnya semacam twist di pengujung film. Alih-alih memberi aksentuasi, malah terkesan konyol dan out-of -the-blue.

Sementara itu, meski jumlah karakternya relatif kecil, namun film terdengar sangat riuh. Mereka secara konstan meletup-letup, cerewet mengekspresikan diri. Nyaris tidak memberi jeda untuk sebuah ruang sunyi, sehingga terasa melelahkan. Sebenarnya tidak mengherankan jika momen terbaik dalam film justru datang saat karakter-karakter ini tampil hanya dengan mengandalkan gestur tubuh atau sinar wajah, karena mereka diizinkan berkontemplasi. Beruntung film dibekali dengan barisan aktor mumpuni, sehingga pesan subliminal dari ekspresi fisik ini tersampaikan dengan baik.

Ranbir dan Anushka adalah jajaran bintang muda Bollywood terkemuka masa kini dan mereka menunaikan tugas mereka dengan baik, terlepas dari betapa banalnya karakter mereka. Begitu pula Aishwarya, yang kecantikannya seolah tak lekang dimakan waktu. Disayangkan ruang lingkup karakternya sempit dan tidak mengizinkan Aishwarya bereksplorasi lebih jauh ketimbang sekedar pemanis, meski memiliki modal untuk hadir dengan nuansa yang lebih kompleks.

Mungkin Ae Dil Hai Muskhil adalah film terlemah seorang Karan Johar. Meski begitu, ia selalu bisa dihandalkan dalam memberikan sebuh hiburan. Terlepas dari berbagai kekurangan, atau lagu-lagu yang sebagian besar kurang berkesan, setidaknya film masih renyah disimak di layar lebar.

★★★☆☆

Advertisements