Film Review: Arrival (2016)

Dalam versi ulang buat The Day the Earth Stood Still (2008), Jennifer Connely berperan sebagai seorang astrobiologis bernama Dr. Helen Benson, salah satu dari tim peneliti yang ditugaskan untuk berkomunikasi dengan sosok alien bernama Klaatu (Keanu Reeves). Dalam perkembangan cerita, dikisahkan kemudian Helen dan Klaatu membangun jembatan interaksi antara makhluk angkasa luar dengan penduduk Bumi, meski pihak kedua seringkali penuh prasangka dan kecurigaan dan kemudian mengancam eksistensi komunikasi postif antara dua pihak tersebut.

Kini hadir Arrival, karya Denis Villeneuve (Incendies, Prisoners, Sicario) dengan premis kurang lebih mirip. Bedanya, Arrival mengesampingkan sisi epik atau aksi laga, karena ingin memberi ruang pada pengembangan sisi psikologis dengan lebih ekstensif. Agak mengingatkan akan Close Encounters of the Third Kind (1977), Contact (1997), serta Interstellar (2014).

Diangkat dari sebuah cerita pendek tulisan Ted Chiang rilisan 1998 berjudul Story of Your Life, naskah ditulis oleh Eric Heisserer. Dalam sepanjang karirnya, Heisserer nyaris hanya mengerjakan film-film bergenre horor saja, seperti A Nightmare on Elm Street (remake, 2010), Final Destination 5, The Thing (remake, 2011), hingga Lights Out (2016). Tidak heran jika Arrival memiliki beberapa momen yang sebenarnya memiliki potensi menyeramkan dan berbau horor (alunan tata musik creepy Jóhann Jóhannsson mendukung untuk itu). Menariknya, Heisserer menahan diri untuk mengeksplorasi lebih jauh ranah tadi dan memilih jalinan alur dalam koridor drama.

Arrival berkisah tentang 12 objek misterius yang mengambang di 12 titik Bumi, termasuk Amerika Serikat, tentu saja.. Ahli bahasa Louise Banks (Amy Adams) diundang oleh pihak militer, diwakili oleh Kolonel Weber (Forest Whitaker), untuk membantu berkomunikasi dengan entitas penghuni pesawat extraterrestrial tersebut. Hadir pula ilmuan lain, Ian Donnely (Jeremy Renner), seorang ahli fisika. Berkat ketelatenan dan dedikasi Banks, akhirnya terjalin komunikasi dengan entitas asing tersebut. Melalui perantara bahasa yang berhasil dibangun, Louise berniat untuk mengstrak rasa ingin tahunya tentang aspek sosiologis (mungkin juga antropologis) para alien, sementara pihak militer tentunya ingin tahu apakah mereka adalah ancaman atau tidak.

Friksi inilah sajian Arrival, meski sebagaimana tersebut di atas, film nyaris meminggirkan aksi eksplosif, karena secara konteks ia lebih tertarik untuk menjabarkan sisi humanis, baik dari sudut pandang makro, maupun mikro: Louise.

Alur Arrival disampaikan mundur-maju, berkelindaan antara masa lalu dan masa depan, melalui perantaraan narasi yang disuarakan oleh Louise. Ian pun berkesempatan bertugas memberikan narasinya untuk sebuah montase berisi eksposisi. Di bagian lain, barisan berita di televisi bertugas untuk itu. Terkesan bermain aman dan menggampangkan memang, namun naskah cukup cerdik dalam memasukkan narasi-narasi voice over tersebut tanpa terasa terlalu curang.

Dari segi teknis, Arrival adalah film “mewah”. Tata efek khusus canggih serta sinematografi mentereng menjadi alasan ia hadir layaknya sebuah film blockbuster Hollywood dengan high concept. Hanya saja, alih-alih memanjakan penonton dengan sensasionalitas, Arrival ingin kita tidak malas untuk menelan bulat-bulat apa tersaji di layar. Ia menawarkan sebuah wacana dan ingin penonton menyelami wacana tersebut. Pada satu sisi, menyaksikan Arrival seperti mengikuti sebuah perkuliahan berisi aneka konsep dan jargon ilmiah. Sementara di sisi lain ia adalah sebuah fiksi dengan spekulasi  yang cukup imajinatif.

Pendekatan ini cukup problematis sebenarnya. Jika disajikan dengan tidak tepat, justru menjadi bumerang bagi film. Terutama jika penonton tidak merasa terkoneksi dengan plot atau karakter-karakternya. Beruntungnya Villeneuve mampu menaklukkan kendala-kendala tersebut dengan mulus dan halus, sehingga film tidak terasa melelahkan. Justru Arrival sangat memancing rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, meski alur melaju dengan merambat.

Sebagai film tentang kontak bersama makhluk asing luar Bumi, Arrival tentunya juga berbicara dari sisi sosial politis, meski secara umum konteksnya masih simplistik. Film bukannya tanpa klise atau stereotipikalitas. Bahkan mungkin sistem komunikasi penemuan Louise masih bisa dipertanyakan validitasnya. Menjadi termaafkan saat mereka justru dimanfaatkan untuk memberi aksentuasi pada suspense-in-disbelief tanpa harus menjadi lini terdepan penceritaan yang mendistraksi dan dengan baik menjadi latar untuk aspek tematis utama film, komunikasi.

Saat Louise kemudian menjadi sentra karakter dengan lebih utuh, Arrival pun mulai menunjukkan rupa sebenarnya. Alur maju mundur tidak lagi sekedar menjadi gimmick atau plot device, tapi elemen integratif dalam narasinya. Amy Adams sebagai penggerak cerita menjalankan tugasnya dengan baik. Ia memberi nuansa dan kedalaman pada karakter yang sebenarnya memiliki tendensi dua dimensi atau arketipikal. Emosinya tersalurkan dengan nyaris sempurna, sementara tawaran heroismenya melantun subtil dan lembut, namun berartikulasi jelas, sehingga terhubung dengan baik dengan penonton.

Pada akhirnya high concept Arrival justru bertransisi menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan membumi, tanpa harus benar-benar terpinggirkan. Arrival menjadi sebuah “film petualangan” dalam kanvas berskala besar namun dipoles oleh pendekatan yang lebih intim dan personal, tanpa terlupa meniupkan jiwa dan hati di dalamnya. Layaknya sebuah drama artistik berkedok film pop; penuturan Arrival hadir dalam estetika penuh gaya (terkadang atmosfirnya nyaris terasa sangat ethereal), tapi tanpa harus  terlalu menguras otak untuk memaknainya.

★★★★½☆

Advertisements