Album Review: Various Artists – La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)

Selamat datang di “La La Land”, dunia di mana mimpi dan cita-cita dirayakan dengan penuh cinta dalam warna-warni musikal penuh gaya. Sebuah film yang memadukan antara realita dan eskapisme musikal yang dulunya riuh mengisi layar lebar di era 40 hingga 60-an. Kini dalam “La La Land”, jiwa musikal yang sinematik tersebut dihadirkan kembali dengan penuh kejayaan oleh sutradara pemenang Golden Globe, Damien Chazelle (“Whiplash”) dengan Justin Hurwitz (“Whiplash”) sebagai komposer, serta duo Benj Pasek dan Justin Paul (“Smash”) sebagai penulis lirik lagu. Tentunya ada Ryan Gosling dan Emma Stone yang menghadirkan vokal mereka untuk membawakan lagu-lagu yang dipersembahkan oleh “La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)“.

Berseting di Los Angeles, “La La Land” berkisah tentang percintaan Sebastian (Gosling), seorang musisi jazz, bersama Mia (Stone), seorang calon aktris. Keduanya adalah sosok-sosok mudah di tengah gemerlap Hollywood yang mencoba untuk meraih mimpi-mimpi mereka dan mewujudkan menjadi nyata. Karena “La La Land” dipengaruhi oleh dua unsur, jazz dan film, maka secara musik, pendekatan “La La Land” pun memadukan dua hal tersebut. Kadang jazzy, kadang megah sinematik.

Album dibuka dengan track upbeat yang sangat Broadway-esque, ‘Another Day of Sun’, yang dinyanyikan oleh barisan pemain extra serta didukung oleh vokal choir. Jika sudah menyaksikan filmnya, maka ‘Another Day of Sun’ merupakan nomor pembuka yang dengan sukses menghantarkan “jiwa” film; serangkaian muda-muda yang dengan optimistik menyanyikan isi hati mereka, di tengah kemandegan lalu lintas yang seolah-olah tak membawa mereka ke mana-mana.

Selanjutnya hadir track up-beat berikutnya, ‘Someone in the Crowd’. Meski Emma Stone turut menyanyikan lagunya, namun di awal lagu jazzy ini “rekan-rekannya sesama calon aktris” yang mendominasi, Callie Hernandez, Sonoya Mizuno and Jessica Rothe. Sebagaimana ‘Another Day of Sun’, tema lagu ini adalah optimisme berbalut pesimisme. Di pertengahan lagu, motif nada ‘Another Day of Sun’ diimbuhi lagi secara instrumental, sebelum Stone kemudian menyanyikan bridge secara lirih dan melankolis. Lagu diakhiri dengan kembali ke dalam semangat upbeatnya.

Berbicara tentang motif, pada dasarnya lagu-lagu dalam “La La Land” berangkat dari ‘Mia and Sebastian Theme’, sebuah lagu instrumental yang dibuka dengan denting lembut piano, yang manis-romantis, dan kemudian bergerak menjadi lebih “liar” serta ekspresif. Motif ‘Mia and Sebastian Theme’ ini dapat ditemui dengan berbagai variasi dalam beberapa track lainnya, terutama untuk lagu-lagu instrumental.

Jika ‘Mia and Sebastian Theme’ adalah dasar untuk nomor-nomor instrumental, maka ‘City of Scars’ adalah tema untuk lagu-lagunya. Awalnya ditampilkan Gosling secara solo, balada manis ini kemudian dinyanyikannya secara duet bersama Stone hanya dengan bertemankan denting piano. Menarik bagaimana film memilih untuk tetap menghadirkan vokal Gosling dan Stone alih-alih mencari penyanyi yang lebih profesional misalnya, karena justru dengan vokal mereka yang biasa-biasa saja, film ingin menegaskan jika orang kebanyakan pun berhak memiliki “fantasi” musikal dalam hidup mereka. Meski “La La Land” memberi penghormatan kepada film-film musikal klasik, namun sejatinya ia juga adalah sebuah drama kontemporer dengan karakter yang lekat dengan keseharian.

Bukti paling pas untuk itu tentunya bisa ditemukan dalam track ‘A Lovely Night’, sebuah track swing yang dinyanyikan seolah-olah tengah berbicara oleh Sebastian dan Mia, sebelum di pertengahan menghilangkan vokal menjadi track instrumental yang gempita. Jika menilik filmnya, maka di bagian ini adalah saatnya bagi Sebastian dan Mia memamerkan ketrampilan mereka menari dengan atraktif, sebelum kemudian bergerak secara lebih harmonis dan sinkron, pertanda jika sebenarnya ada saling ketertarikan yang kuat di antara mereka.

Emma Stone mendapatkan tempat untuk bersinar dengan menyanyikan track solo dalam sebuah balada berjudul ‘Auditon (The Fools Who Dream’. Awalnya dibuka dengan sebuah monolog, secara perlahan Stone kemudian menyanyikan lagunya. Awalnya lirih dengan vokal yang terdengar agak goyah, namun menjelang pertengahan ia mulai terasa lebih percaya diri. Pada akhirnya ia memberi klimaks dengan powerfully belting the song out of her heart.

Mengingat karakter Sebastian lebih menggemari jazz klasik, maka lagu-lagu dalam “La La Land” pun cenderung bergerak dalam ranah klasik pula. Namun, tentunya akan lebih berwarna jika hadir pula sebuah lagu jazz kekinian yang menggambarkan apa yang sedang tengah dihadapi oleh genre ini. Oleh karenanya hadir John Legend yang menyanyikan lagu ‘Start A Fire’ yang terdengar lebih pop dari track-track lainnya. Jika kemudian ia terdengar out of place di dalam album ini, maka tentunya hal tersebut adalah sebuah kesengajaan.

Menjelang akhir, ada sebuah instrumental panjang, sekitar 7 menitan, berjudul ‘Epilogue’. Jika ‘Another Day of Sun’ adalah semacam overture untuk “La La Land”, maka track ini pastilah bagian coda, yang memadukan berbagai nada dan motif “La La Land” dalam sebuah medley yang saling silang dari lirih, upbeat, sampai megah dramatis. Sebuah persembahan yang dengan sempurna menggambarkan filmnya.

“La La Land” adalah film yang istimewa dan jarang ada. Ia mengemas sesuatu yang lawas agar tetap bisa diapresiasi oleh kalangan kekinian. Sebuah penghormatan kepada genre yang sekarang bisa dikatakan nyaris tenggelam, namun tetap memberi tempat pada karakternya sendiri. Begitu pula dengan soundtracknya. Mendengar lagu-lagu dalam “La La Land” sontak memicu kita untuk memasuki sebuah dunia musikal penuh warna. Seolah-olah memberi keyakinan, jika kita pun bisa memiliki dunia musikal kita sendiri. Meski mungkin hanya sebatas angan, tapi layak untuk diwujudkan.

★★★★½☆ 

Advertisements