Film Review: Kung Fu Yoga (2017)

Jackie Chan sebagai imitator Indiana Jones bukan hal baru. Meski tidak orisinal, namun seri Armour of God bisa dipastikan sebagai bagian aksi terbaik Chan di layar lebar. Kali ini ia datang kembali dengan pendekatan serupa, seorang profesor arkeologi bernama (tentu saja) Jack, dalam Kung Fu Yoga. Film menandakan reuni Chan bersama sutradara Stanley Tong (Supercop, Rumble in the Bronx), setelah terakhir kali berduet dalam The Myth (2005). Kung Fu Yoga juga menandakan kembalinya Tong ke bangku sutradara setelah absen selama satu dekade lebih.

Di atas kertas, seharusnya Kung Fu Yoga menjanjikan, mengingat kerjasama Chan dan Tong selama ini biasanya cukup berhasil, dengan pengecualian The Myth yang mendapat ulasan buruk. Namun rupanya Kung Fu Yoga lebih mirip The Myth dibandingkan film-film mereka di era 90-an. Bahkan bisa dibilang Kung Fu Yoga adalah sekuel The Myth, mengingat karakter Chan juga seorang arkeleog bernama Jack, serta juga memasukkan elemen India ke dalam ceritanya.

Kung Fu Yoga jelas masih berusaha untuk mengekstraksi aksi Chan sebagai aktor dengan kemampuan bela diri mumpuni serta aksi komedinya. Sayangnya, usia Chan yang kini sudah menginjak 62 tahun sudah tidak bisa dibohongi lagi.

Chan masih tangkas dan beberapa aksi komiknya cukup berhasil. Sayang sebagian besar sudah terlihat kehilangan semangat sehingga terasa melelahkan jika tidak mau disebut membosankan. CGI buruk pun sama sekali tidak membantu.

Belum lagi bahan komedi Kung Fu Yoga masih sebatas klise yang mungkin menarik 20 tahun lalu. Sudah tahun 2017, tapi yang terlintas di benak orang-orang di belakang layar tentang India hanya sebatas stereotip seperti pawang tali atau sādhu yang melayang.

Seolah belum cukup absurd, selepas klimaks dan adegan dimana Chan menceramahi sang antagonis (diperankan Sonu Sood), tiba-tiba para karakternya berjoget ala film Bollywood diiringi puluhan penari latar yang tiba-tiba memenuhi seting. Untungnya koregorafi dari Farah Khan (Main Hoon Na, Om Shanti Om) menyelamatkan adegan yang mungkin dimaksudkan sebagai epilog tersebut dari kekonyolan lebih lanjut.

Kung Fu Yoga mungkin berniat memadukan antara dua kultur terkemuka, Tiongkok dan India. Sayangnya hanya sebatas lip-service dengan lebih banyak kung fu dibandingkan yoga yang ternyata hadir dalam porsi yang amat-sangat-terbatas. Secara umum Kung Fu Yoga tidak lebih dari sebuah komedi slapstick yang memanfaatkan ketenaran Chan, namun tidak dibarengi stamina memadai.

Hadirnya barisan bintang-bintang muda, baik dari Tiongkok atau India sama sekali tidak membantu mengingat akting mereka yang amat sangat terbatas. Pengecualian mungkin pada aktor dan penyanyi muda asal Hong Kong, Aarif Rahman, yang tidak hanya memberikan penampilan paling gemilang, bahkan mungkin melampaui karisma Chan.

Sekira sebulan yang lalu Chan hadir dalam Railroad Tigers, sebuah aksi-komedi berseting Perang Dunia II yang juga mencoba mengadaptasi formula komedi akrobatik Chan di era 80 atau 90-an. Hanya saja, dibandingkan Kung Fu Yoga, film tersebut relatif lebih berhasil dalam misinya, karena selain memaklumi keterbatasan Chan saat ini sehingga tidak memaksakan diri, juga karena mampu mengeksekusi dirinya secara lebih rapi, serta didukung barisan aktor yang lebih kredibel tentunya.

★★½☆☆☆

★★☆☆☆

Advertisements