Film Review: Sword Master (2016)

Ssebelum ia mencatatkan namanya sebagai salah satu sutradara terkemuka Hong Kong, Derek Yee (Erl Tungsen) lebih dulu dikenal sebagai aktor film-film silat Shaw Brothers  era 70 hingga awal 80-an. Namanya terangkat ke permukaan berkat film berjudul Death Duel (1977) arahan Chu Yuan yang diangkat dari salah satu novel Ku Lung. Kini, 4 dekade kemudian dan bekerjasama dengan salah satu maestro sinema Hong Kong lain, Tsui Hark, ia kemudian mengulang buat  film yang membesarkan namanya tersebut dengan Sword Master ( 三少爺的劍).

Menarik untuk mengetahui bagaimana Yee menangani genre WuXia, karena selama ini ia cenderung mengerjakan film-film berseting moderen. Selain faktor sentimental masa lalu (dan keterlibatan beberapa pemain dari Death Duel; Norman Chu, Ku Kuan-Chung dan Jamie Luk), menjadi pertanyaan apakah Yee melakukan sentuhan berbeda dibandingkan film-film sejenis?

Sword Master bisa dikatakan sebagai pemuas dahaga bagi yang merindukan film-film WuXia yang lebih tradisional, mengingat film-film epik asal Tiongkok akhir-akhir ini seolah-olah begitu terobsesi dengan efek khusus dibandingkan memberi penekanan pada kisah dunia persilatan yang lebih tradisional.

Bukan berarti Sword Master tidak memanfaatkan perkembangan teknologi efek khusus, karena bagaimanapun teknologi ini memberi tempat untuk menggambarkan kedigjyaan karakter-karakternya (yang kadang sulit ditangkap nalar) dengan lebih leluasa, ketimbang film-film WuXia tempo dulu. Apalagi dengan memanfaatkan 3D, maka secara visual pastinya film lebih mumpuni dalam menerjemahkan adegan laga fantastisnya.

Secara garis besar ceritanya masih sama. Seorang pendekar kenamaan Hsieh Shao-Feng (Lin GengXin) atau Tuan Muda Ketiga, yang mengasingkan diri dari dunia persilatan dan memilih hidup menjadi seorang gelandangan bernama Ah Chi. Ia kemudian bekerja di sebuah rumah bordil dan berkenalan dengan salah seorang pramurianya, Hsiao Li (Jiang Mengji) yang berjuluk Putri.

Sementara itu, seorang pendekar pedang bernama Yan Shisan (Peter Ho) diprovokasi oleh seroang pendekar wanita dari partai terpandang, Mu-yung Chiu-Ti  (Jiang Yiyan) untuk berduel dengan Shao-Feng untuk mendapatkan gelar pendekar nomor satu.

Death Duel, sebagaimana umumnya film-film silat Chu Yuan yang diangkat dari cersil Ku Lung, cenderung berbelit-belit dengan hiasan adegan laga di sana-sini. Sedang Sword Master memiliki plot yang relatif lebih lempang, meski ada beberapa modifikasi di sana-sini, baik di jalan cerita ataupun karakterisasi untuk memberi penekanan pada sisi dramatik.

Film mungkin berniat menyisipkan pesan filosofis tentang hidup atau persahabatan di dalamnya, namun sayangnya terlalu jenerik untuk memberi kedalaman yang menyaingi visual 3 dimensinya. Belum lagi karakter-karakter setipis kertas yang kurang berkesan, terlepas dari keinginan naskah untuk menghadirkan  mereka secara lebih berwarna dan humanis.

Bukan berarti Sword Master tidak menghibur. Hanya saja tidak memberi impresi kuat setelah menyaksikannya. Yes, it’s glossy and spectacular. Tapi pada akhirnya, Death Duel dengan segala “kelawasannya” justru lebih membekas di benak.

★★★☆☆

★★★☆☆

Advertisements