Riverdale: S01E02 – Chapter Two: A Touch of Evil

Dengan meminjam judul film neo-noir Orson Welles, A Touch of Evil (1958), sebagai judul untuk bagian keduanya, Riverdale melanjutkan pengenalan karakter-karakternya. Atau mungkin lebih tepat pengembangan karakter. Jika di Chapter One kita berkenalan pada Archie, Betty, Veronica dan lain-lainnya, kali ini kita bisa melongok apa yang selanjutnya terjadi setelah itu melalui Chapter Two: A Touch of Evil.

Penemuan mayat Jason Blossom, dan tentunya pertengkaran antara Archie dan Betty, memberi imbas pada perkembangan dinamika antar karakternya. Alih-alih shock, Cheryl bertindak layaknya detektif untuk mengetahui siapa penembak saudara kembarnya, termasuk dengan mendekati Betty yang selama ini dibencinya.

Sementara itu hubungan Betty dan Veronica menjadi renggang. Meskipun Veronica mencoba segala upaya untuk kembali bisa berteman dengan Betty, namun ia menyambut dingin karena khawatir akan merasa kecewa untuk kedua kalinya. Archie sendiri masih disibukkan dengan urusannya bersama Ms Grundy. Ia mendesak sang guru untuk mengungkap apa yang mereka dengar di pagi saat Jason menghilang. Sementara Ms Grundy tentunya berupaya sedemikian rupa agar hubungan terlarangnya dengan sang murid tidak ketahuan.

Di sisi lain Archie juga mulai membuka kembali hubungannya yang sempat retak bersama sang sahabat, Jughead.

The obligatory (revealing) shot of Archie.

The obligatory shot of Archie’s game-changer body.

Saat Chapter One dengan solid membangun pondasi untuk Riverdale. Sementara Chapter Two, alih-alih memberi lagi sedikit ruang tambahan, justru dengan berani memutuskan untuk terus beranjak dari pondasi yang sudah dibangun tadi. Akhirnya tempo serial terasa cukup cepat.

Baiknya hal ini sama sekali tidak membuat RIverdale terasa tergesa-gesa atau keteteran, karena ritme bisa dibangun dengan baik. Yang mungkin bisa menjadi catatan adalah penekanan yang lebih condong pada sisi pada melodramanya ketimbang menggali lebih jauh aspek neo-noir. Sesuatu yang sebenarnya sudah dihadirkan dengan nyaris sempurna di Chapter One.

Meski begitu bukan berarti Chapter Two tidak menyisakan tempat untuk suspensi atau aspek psikologis atau humanis.

"I could lose my job, you could be expelled, we could go to jail!"

“I could lose my job, you could be expelled, we could go to jail!”

Penggambaran hubungan Archie dan Ms Grundi mungkin sangat tipikal opera-sabun, dengan sang guru, yang terlepas digambarkan dengan lemah lembut, namun tetap seorang predator, ketimbang mereka benar-benar menemukan cinta yang sebenarnya.

Terlepas dari itu, beberapa adegan dengan menarik memperlihatkan sisi lain dari karakter-karakternya. Contohlah saat Cheryl mendesak Betty tentang kemungkinan keterlibatan kakak Betty, Polly, atas kematian jason. Betty yang semula tampak tenang, berubah menjadi gusar dan mengancam akan membunuhnya, sehingga Cheryl menjadi ketakutan. Bisa jadi kilasan emosi agresif dari Betty ini akan dikembangkan lebih jauh ke depannya. Dan pastinya akan sangat menarik.

Cheryl sendiri ternyata tidak selamanya antagonistik. Sebagaimana kata Veronica, ia sulit menentukan apakah Cheryl benar-benar psikopat atau benar-benar jenius untuk menyalurkan rasa dukanya dengan merencanakan sebuah pesta.  Toh, ternyata Cheryl adalah sosok yang rapuh dan pada akhirnya pertahanannya ambruk saat tidak bisa menghindari pelampiasan duka atas kematian Jason.

Jika dalam dua episode awal ini Riverdale seolah-olah memberi petunjuk jika Cheryl memiliki keterkaitan dengan hilangnya Jason, dengan cliffhanger di adegan penutup Chapter Two, di mana ia dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk ditangkap polisi, justru memberi indikasi jika apa yang terjadi sebenarnya mungkin bukan seperti apa yang  terlihat.

Pastinya sangat memancing rasa penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya di Riverdale.


STRAY OBSERVATIONS:

  • Kevin dan Moose mungkin adalah karakter sampingan, tapi sub-plot di antara keduanya bisa sangat menarik, dibandingkan hanya sekedar tempelan atau plot-device di Chapter One misalnya. Memang hubungan antara gay yang sudah terbuka dan discreet cenderung klise, tapi Kevin adalah karakter yang tak kalah menarik, sehingga akan sangat disayangkan jika hanya menjadi “pelengkap” atau “pemanis” cerita.
  • Sejauh ini tidak ada perkembangan yang berarti dari Josie dan The Pussycat-nya. Bahkan cover ‘Sugar-Sugar’ mereka pun kurang berkesan.
  • Is Veronica  the new Blair Waldorf? Karangan bunga  darinya untuk Betty dengan pesan “xoxo V” memberi kesan seperti itu, which is fine with me.
  • How about that uninspiring The River Vixens’s cheerleading routines? Can the show make it more… attractive next time? 

Chapter Two: A Touch of Evil : ★★★★☆

 

Advertisements