Film Review: Don’t Knock Twice (2017)

Film horor yang mengisahkan hubungan retak antara ibu dan anak sudah cukup banyak beredar. Dan Don’t Knock Twice mencoba untuk kembali mengangkat tema serupa melalui tangan sutradara Caradog W James. Jika konsisten dan disiplin dengan tema yang dipilihnya, Don’t Knock Twice bisa saja menjadi sebuah horor film yang berkesan. Tapi film terlalu banyak maunya, yang menyebabkan potensinya menjadi tidak tergali optimal dan berakhir menjadi film yang relatif menggelikan.

Sayang sebenarnya, karena dari segi atmosfir, di tengah keringnya film horor yang menyeramkan, Don’t Knock Twice lumayan berhasil menghadirkannya. Film cukup mampu dalam membangun suasana, sehingga saat kengerian benar-benar hadir bisa tereksekusi dengan baik. Beberapa pendekatan, yang sepertinya  terinspirasi dari J-Horror atau horor klasik Amerika, menjadi sentuhan tersendiri untuk memperkaya visual. Masalahnya, film seperti bingung sebenarnya mau berbicara tentang apa.

Don’t Knock Twice bercerita tentang Jess (Katee Sackhoff, Battlestar Galactica, Oculus), seorang mantan pecandu yang ingin berhubungan kembali dengan putrinya, Chloe (Lucy Boynton, Sing Street, Murder on the Orient Express) yang 9 tahun sebelumnya terpaksa dititipkan di panti asuhan.

Sementara itu Chloe memiliki masalahnya sendiri. Sang pacar, Danny (Jordan Bolger), menghilang. Chloe percaya jika Danny diculik roh Mary Aminov (Ania Marson). Menurut mitos, dilarang mengetuk dua kali pintu rumah tua tak bepenghuni di mana dulu Mary tinggal, karena arwahnya akan datang untuk menjemput. Dan ia dan Danny telah melanggar pantangan tersebut.

Tidak butuh lama bagi sang mahluk halus (diperankan aktor Spanyol Javier Botetyang makin laris menjadi sosok jadi-jadian; [REC], Mama, Crimson Peak, The Conjuring 2 dan barisan film horor lainnya) untuk mendatangi Danny dan membawanya ke “alam lain”. Herannya, entah mengapa kasus yang sama tidak berlaku bagi Chloe, karena sang mahluk tampaknya lebih senang menghantui dirinya.

Merasa ketakutan, Chloe lantas memutuskan untuk tinggal bersama ibunya. Namun rupanya Baba Yaga, demikian sebutan untuk sang mahluk halus disebut, memiliki rencana lain, termasuk dengan mulai meneror Jess pula. Dan film pun berakhir dengan twist yang lebih terasa mengada-ada ketimbang mengejutkan.

Sebenarnya, jika Don’t Knock Twice memberi penekanan pada perkembangan hubungan antara Jess dan Chloe sementara horor menjadi latar, pastinya film akan lebih padat dan terfokus. Atau mungkin menggali lebih jauh tentang mitos ketukan dua kali pemanggil hantu, ketimbang hanya menjadi gimmick atau tempelan belaka? Atau bolehlah mengeksplorasi tentang si Baba Yaga itu.

Tapi tidak. Elemen-elemen tadi disebarkan nyaris secara acak dalam narasi dan kemudian saling berkelindaan tanpa pengikat yang rapi. Tidak heran film terasa melompat-lompat akibat logika bertutur yang kacau.

Sungguh sebuah kesia-siaan, karena baik Sackhoff maupun Boynton bermain baik dan meyakinkan. Hanya saja naskah yang inkoheren tidak mengizinkan karakter mereka untuk hadir secara lebih dalam atau menjadi sosok manusia utuh ketimbang bagian dari sketsa. Akhirnya dinamika interaksi mereka terasa dipaksakan dan kurang meyakinkan. Tidak heran jika ironi, metafora, filosofi, atau apapun yang ingin disampaikannya, Don’t Knock Twice gagal melakukan itu.

Don't Knock Twice

★★½☆☆☆

Advertisements