Legion: S01E01 – Chapter 1

Setelah beberapa judul serial yang hadir terkoneksi dengan Marvel CInematic Universe (MCU), kini hadir serial baru yang memilik hubungan dengani semesta komik Marvel, meski bukan MCU tapi seri X-Men. Istimewanya, Legion, demikian judulnya, tidak hanya mengandalkan Bryan Singer (sosok di belakang franchise film X-Men), namun juga Noah Hawley, yang sebelumnya telah membidani serial FX sukses lain, Fargo. Hawley menjabat sebagai showrunner untuk Legion serta terjun langsung mengarahkan dan menulis naskah episode pertama, yang diberi judul Chapter 1.

Mungkin kita tidak terlalu familiar dengan Legion. Tapi itu bukan menjadi halangan untuk bisa menyaksikannya. Menilik materi aslinya, Legion adalah alias untuk David Haller, seorang mutant yang merupakan putra dari Professor X alias Charles Xavier. Terlepas dari kemungkinan Patrick Stewart atau James McAvoy mengulangi peran mereka untuk serial ini, Legion memastikan jika untuk sementara kita menyimak saja dulu siapa dan bagaimana itu David Haller (diperankan jebolan Downton Abbey dan pemeran Beast dalam Beauty and the Beast, Dan Stevens).

Dalam Chapter 1 kita akan memasuki dunia David yang mengaburkan batas antara realita atau imajinasi. Tidak heran, karena ia dianggap sebagai pengidap schizophrenia yang harus di rawat di rumah sakit. Episode dibuka dengan montase yang efektif memperlihatkan perkembangan David dari kanak-kanak hingga dewasa serta tentunya gangguan mental yang dideritanya.

Di rumah sakit tersebut ia berteman dengan sesama pasien Lenny “Cornflakes” Busker (Aubrey Plaza, Safety Not Guaranteed) dan berpacaran dengan pasien baru, Sydney “Syd” Barrett (Rachel Keller, Fargo), pasien baru yang enggan bersentuhan fisik dengan orang lain. Saat Syd keluar dari rumah sakit, kekuatan super David pun seolah terlepas dari sarangnya.

Dance off! Bollywood style.

Dance off! Bollywood style.

Sekitar kurang lebih 80% adegan awal Chapter 1 dinarasikan melalui alur yang maju-mundur, meski tidak jelas mana yang maju atau mana yang mundur atau mana yang asli mana yang karangan, seperti halnya dunia di benak David. Ini menyebabkan ia sebagai narator yang kurang bisa diandalkan. Adegan interogasi bersama sang interogator misterius (Hamish Linklater) menegaskan hal ini.

Gaya pengarahan Hawley sepertinya terpengaruh oleh Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Masuk akal, karena memiliki aspek tematis yang mirip. Di beberapa bagian ia meminjam quirkiness dari Wes Anderson lengkap dengan obsesi pada simetrisme dan retro-psychedelia. Sedang di bagian lain, terutama untuk penekanan situasi damai dan permai, giliran Terence Malick yang menjadi referensi.

Uniknya, ini tidak menjadikan Legion terasa sebagai rip-off, mengingat acuan-acuan tadi hadir hanya sebagai penekanan pada narasi, bukan esensi ceritanya itu sendiri. Contohlah saat Stevens beserta para pemain lain, baik utama atau figuran, tiba-tiba berjoget Bollywood sembari diiringi lagu ‘Pauvre Lola‘ milik Serge Gainsbourg. Lepaskan konteksnya, bisa jadi ia merupakan bagian dalam sebuah film Wes Anderson. Keceriaan dalam adegan tersebut memberi penegasan pada emosi yang saat itu dialami David.

Sementara itu, di bagian akhir episode, tone, tempo dan atmosfir berubah menjadi lebih konvensional dan mendekatkan Legion pada aksi spektakuler X-Men sebagai induknya. Apakah adegan ini bertentangan dengan “keliaran” dan ketidak-teraturan adegan-adegan sebelumnya? Tentu saja. Tapi adegan ini penting  untuk berbeda. David sudah bisa menerima fakta jika apa yang tengah dialaminya adalah nyata dan apa yang sebelumnya terjadi bukan melulu akibat gangguan psikis, namun lebih karena kekuatan supernya sebagai mutant. Seorang superhero (atau antihero) yang tidak biasa, tentu saja.

Chapter 1 definitely an admirable effort for a starter. It’s a stylistically frenzy-fest. It’s also a witty and heartwarming humane-story. And it makes you wanting more. Until next week then.

Chapter 1 : ★★★★☆

Chapter 1 : ★★★★☆

Advertisements