Book Review: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi (2016)

Novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah sensasi terbaru di dunia literer Indonesia. Debut dari Yusi Avianto Pareanom ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Meski sebuah debut, Pareanom memaparkan ceritanya dengan gaya tutur di atas rata-rata. Selain mengalir, mengikat, serta pemiliham diksi yang cukup kaya agar tidak menjemukan dan monoton, tulisannya terasa matang dan tajam.

Tidak heran karena sebenarnya Pareanom telah terasah berkat berbagai cerita pendek yang sempat sliweran di berbagai media masa atau kumcer berjudul Rumah Kopi Singa Tertawa (2011).

Disebutkan jika Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah sebuah dongeng. Melebur di dalamnya cerita petualangan, komedi, dan drama melalui petualangan seorang Sungu Lembu bersama dengan sosok yang menjadi judul, Randen Mandasia. Mereka datang dari dua kerajaan berbeda, dimana yang satu telah mencaplok yang lain. Sungu Lembu berasal dari yang kedua, sedang Raden Mandasia tentunya kerajaan pencaplok.

Nasib mempertemukan keduanya dan bersama mereka melintasi beberapa sudut dunia yang kemudian tertuang dalam aneka fragmen menggelitik, menjalin menjadi plot rumit penuh intrik, sebelum akhirnya bertemu dalam satu titik klimaks, menjawab apakah Sungu Lembu bisa atau tidak melaksanakan misi terpendamnya; membalas dendam.

raden-mandasia-si-pencuri-daging-sapi-quote.jpg.jpgJika menggemari cerita-cerita silat jadul karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo misalnya, gaya bercerita Raden Mandasia tentunya tidak asing, termasuk pemilihan diksi “vintage” yang akan membuat para hipster menggelinjang kegirangan.

Hanya saja gaya bertutur seperti ini cenderung seperti gimmick karena terdapat inkonsistensi dalam cara Pareanom menulis kisahnya. Lebih sering cerita disampaikan dengan tutur kontemporer dan kekinian. Belum lagi beberapa inkonsistensi untuk detil kecil. Contohlah awalnya disebut Cungkuo, namun di kali lain menjadi Cina untuk merujuk pada Tiongkok.

Terlepas dari itu, jika sudah membaca beberapa cerpen Pareanom, maka Raden Mandasia akan memuaskan dahaga melalui tutur bahasa dan penceritaanya yang bernas dan memikat. Bagi yang belum berkesempatan, Raden Mandasia juga akan tetap menjadi sebuah bacaan yang “mencerahkan”.

Dengan bebas mengimbuhi beberapa kisah “populer” di dalamnya, petualangan Raden Mandasia menjadi penuh warna. Meski fantastis dan kurang logis, namun Pareanom cukup tangkas untuk memadu-padan tanpa terasa berlebihan. Terkadang liar, namun kerap juga subtil. Didukung dengan karakterisasi tegas dan khas.

Pada akhirnya Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi hadir layaknya sebuah coming-of-age dengan kritisi sosial yang kontekstual untuk situasi kekinian. Inilah yang mungkin menyebabkan ia menjadi sebuah bacaan berbeda dan membuatnya menonjol di antara barisan karya di ranah fiksi Indonesia yang terlihat seragam.

Sayang untuk dilewatkan.

raden-mandasia-si-pencuri-daging-sapi-cover

★★★½ ☆ ☆

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements