Film Review: Buka’an 8 (2017)

Dengan film demi film yang secara konsisten dirilisnya dalam beberapa tahun terakhir, Angga Dwimas Sasongko  dengan pasti telah meletakkan namanya di peta perfilman Indonesia sebagai salah satu sutradara terkemuka masa kini. Kuantitas bukan parameternya, melainkan upayanya untuk menghadirkan film-film yang relatif berbeda dari  film Indonesia kebanyakan. Jaminan kualitas kata orang. Kini hadir film terbarunya, sebuah drama-komedi berjudul Buka’an 8.

Ini pilihan menarik bagi Angga, mengingat film-film sebelumnya ia berkonsentrasi pada sisi dramatik yang kental. Agak mengingatkan akan Hari Untuk Amanda (2009), yang disebut-sebut sebagai film break-out dirinya. Hanya saja komedi Buka’an 8 hadir lebih frontal dengan asupan pesan sosial yang cukup berlimpah.

Film berkisah tentang Alam (Chicco Jerikho), yang demi prestise, atau tidak dianggap rendah mertua, mengantar sang istri, Mia (Lala Karmela), untuk bersalin di sebuah rumah sakit mewah. Apa dikata, ternyata paket murah ruang VIP sudah tidak berlaku, sehingga Mia untuk sementara harus menginap di ruang kelas II.

Tapi Alam, yang sepertinya adalah seorang selebtwit atau buzzer atau apalah yang tengah ngetrend saat ini, masih tetap berupaya untuk menempatkan sang istri di ruang VIP, sehingga kemudian di sepanjang film kita akan mengikuti lika-likunya dalam mengumpulkan tambahan uang guna menutupi biaya rumah sakit.

Buka’an 8 adalah gambaran sosok-sosok millennial yang seolah tak bisa lepas dari dunia media sosial. Naskah Salman Aristo cukup tangkas dalam menggambarkan hal ini, meski kadang terlihat komikal. Alam yang vokal dalam opini politiknya dimanfaatkan untuk menghadirkan beberapa sindiran yang cukup mengena, selain mengangkat isu-isu sosial lainnya. Sulit untuk tidak merasa tertampar oleh sentilan-sentilan yang disajikan Buka’an 8.

Hanya saja kepentingan untuk bersikap kritis ini justru membayangi aspek tematis lain yang seharusnya bisa membuat filmnya menjadi lebih sukses dalam menyampaikan pesannya, sehingga pastinya akan lebih berkesan.

Film terlalu cerewet berkomentar, sehingga galian emosinya menjadi kurang dalam. Padahal punya potensi untuk itu. Bukankah Buka’an 8 berkisah tentang proses kelahiran, yang otomatis juga mengungkap tentang proses bagaimana menjadi orang tua?

Alam menikahi Mia setelah sang istri hamil duluan. Kejadian yang membuat Abah (Tyo Pakusadewo), ayah Mia, menderita stroke  dan membuat Ambu (Sarah Sechan), ibunda Mia, memandang rendah sang mantu. Abah dan Ambu tentunya merasa kecewa dengan perbuatan Alam dan Mia, karena bisa saja sebagai orang tua mereka merasa gagal dalam membesarkan sang anak.

Sebelum melahirkan Mia menegaskan berkali-kali kepada Alam untuk berdamai dengan Abah, yang disikapi sang suami dengan bermain kucing-kucingan dengan mertuanya, ketimbang membangun jembatan emosional yang menyentuh. Toh, jika filmnya tidak ingin tampil klise dengan menghindarkan resolusi konflik mertua dan menantu dramatis, bisa memikirkan jalan lain, ketimbang membuat Alam sadar akan peran barunya sebagai orang tua dengan menghadirkan adegan-adegan konyol yang bermain-main dengan logika secara berlebihan.

Alih-alih menjadi operator mesin crane di sebuah proyek bangunan, ia bisa  berkomunikasi dengan sang Abah bagaimana bersikap menjadi orang tua yang ideal. Abah dan Ambu pada akhirnya hanya menjadi karakter sampingan yang bertugas menghadirkan comic relief ketimbang sebagai pemberi tongkat estafet kepada generasi berikutnya. Terlepas bagaimana berbedanya latar sosial mereka. Memang ada karakter mamanya Alam (Dayu Wijanto), tapi hubungan mereka terasa canggung, yang lebih pada kurang kuatnya chemistry antara Chicco dan Dayu untuk memerankan anak dan ibunya.

Berbicara tentang lemahnya logika film, adegan klimaks mungkin adalah puncaknya. I’m sorry, but I just can’t help to not rehash this. CMIIW, saat Mia hendak dibawa ke ruang persalinan, kamera menyorot ke crane yang berada di gedung seberang yang memberi pernyataan jika Alam masih mengoperasikan alat berat tersebut, di puncak sebuah gedung. Selepas ia berhasil menunaikan tugasnya (terimakasih YouTube), ia pun turun ke lantai bawah, menerima ucapan selamat dari rekan-rekannya, mendapatkan uang jasanya, dan kemudian menuju rumah sakit. Tentunya ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Anggaplah ia berlari, tapi agak  kurang masuk akal ia akhirnya tetap bisa menemui sang istri yang diperlihatkan baru beberapa meter saja dibawa dari kamarnya. Mungkin ia memang atlet lari handal atau bisa jadi adalah seorang superhero.

Terlepas dari kelemah-kelemahannya, Buka’an 8 tetap sebuah film yang menghibur. Ceritanya mengalir renyah dan didukung akting memikat para pemainnya. Hanya saja, sebagaimana fim-film Angga sebelumnya, Buka’an 8 adalah kumpuan hit-and-miss. Kadang komedinya mengundang gelak, kadang membuat bola mata berputar. Ada beberapa aspek dramatik menyentuh, namun banyak juga yang lempang. Entah karena kurang disiplin atau terlalu tergesa dalam mengeksekusi filmnya. Akhirnya Buka’an 8 tidak bisa jadi lebih baik dari sekedar… lumayanlah. Mungkin lain kali, karena jalannya masih panjang. Bagaimanapun film-film seorang Angga Dwimas Sasongko tetap memberi warna tersendiri di tengah keberagaman perfilman kita.

★★★ ☆ ☆

★★★ ☆ ☆

Advertisements