Itazura

Laki-laki di depan saya ini adalah Arya, 17 tahun. Gay dengan G kapital. Hanya saja dia tidak pernah tahu soal itu atau mungkin saja dalam penyangkalan. Entah satu yang mana, yang pasti sekarang ia akan mengetahuinya. Itulah gunanya saya.

Kalian tanya mengapa saya yakin dia seorang homoseksual? Ada jawaban gampang untuk itu. Tapi lebih baik jika kita merunut kebelakang dulu, beberapa hari sebelum kami disini, disebuah café, berdua, dalam sebuah kencan!

Saya satu sekolah dengan Arya, satu kelas lebih tepatnya, meski bukan sebangku. Tidak ada yang istimewa dengan saya, berbeda dengannya; ketua kelas, kapten basket sekolah, siswa ranking satu dan populer tentu saja. Sedang saya hanya bisa ngumpet di bangku jejeran belakang. Meski berteman dengan yang lain dan mereka juga berteman dengan saya, akan tetapi tingkat medikoritas menghalangi saya untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi.

Siang itu panas mentari seterik biasanya, namun tidak mengurungkan niat saya untuk duduk di bangku taman, dibawah rindang pohon dan membaca, acuh pada kegiatan segerombolan anak yang tengah mengejar-ngejar bola basket. Sebuah bayangan tiba-tiba menutupi arah cahaya membuat saya mendongak untuk melihat bayangan siapa itu.

“Arya? Ada apa?”

“Gue udah sering banget ngeliat elu disini. Kenapa sih lu engga pernah mau ikut eskul basket kayak kita?”

“Mmm..mungkin karena bukan urusan kamu?”

Dia mengangkat alis matanya, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang saya katakan.

“Hahaha, saya cuma bercanda. Kamu engga usah kaget seperti itu.”

“Bukan. Gue sama sekali engga kaget. Cuma heran ternyata elu suka bercanda juga. Gue kirain elu serius 24 jam.”

Dia memandang kelapangan dan berteriak kepada teman-temannya kalau dia ingin istirahat. Dan dia sukses membuat kaget karena kemudian duduk disamping saya.

“Kalo elu memang engga tertarik ikutan, kenapa engga langsung pulang aja. Kenapa harus milih duduk di bangku ini?”

“Karena……kalau saya langsung pulang, sederet pekerjaan rumah udah menunggu. Dan buku ini engga bakal bisa saya sentuh. Kecuali disini, sepulang sekolah. Yah, satu jam satu hari,lama-lama kelar juga.”

“Elu suka banget baca ya?” Dia mencermati sampul buku saya. Remains of The Days karangan Kazuo Ishiguro. “Tebal ya? Gue sih pengen suka baca. Tapi entah kenapa baru juga beberapa lembar aja gue udah ngantuk.”

Dia terkekeh.

Terus terang saya sedikit bingung dengan maksud dan tujuan dia duduk di sini, mengajak berbicara. Saya bukan tipe orang yang suka basa-basi, jadi sebaiknya ini segera dikonfirmasi.

Cut the crap, Ya. Maksud kamu sebenarnya apa sih?”

Sesaat dia tidak menjawab, hanya memandang dengan tatapan menyelidik. Lamat- lamat saya seperti mendengarkan tanda bahaya di udara. Saya mendengus dan membuang muka.

“Gue ngeliat elu kemarin,” jeda dan saya memandang dia. Heran, bukannya hal yang aneh jika dia melihat saya diluaran bukan?

“Di Itazura.”

Advertisements