Film Review: Logan (2017)

Setelah 17 tahun terakhir ini menjadi salah satu ikon utama film ber-subgenre superhero, baik sebagai bagian seri The X-Men ataupun film solonya, akhirnya Wolverine hadir dalam aksi terakhirnya, Logan. Sebagai film yang (diniatkan) sebagai yang terakhir, tentunya ia diharapkan bisa memberi impresi yang kuat akan statusnya sebagai ikon tadi. James Mangold kembali duduk di bangku sutradara setelah The Wolverine (2013).

Mangold masih menempatkan Logan sebagai Ronin. Hanya saja, seting berpindah dari daratan Jepang ke dataran tandus Dunia Barat Amerika di tahun 2029. Berbeda dengan dystopia X-Men: Days of Future Past (2014) yang futuristik dan dingin, maka Logan menampilkan masa depan yang tak berbeda jauh dari masa sekarang, meski lebih kering dan mungkin lebih suram.

Dengan usia yang mencapai 200 tahun, Logan sudah melewatkan masa primanya. Ia kini adalah sesosok uzur yang mulai kehilangan “kesaktiannya” dan memiliki ketergantungan akan minuman keras dan obat-obatan. Di dunia di mana selama 25 tahun terakhir tidak ada lagi mutan yang dilahirkan, Logan adalah seorang supir Uber Texas yang merawat Professor X atau Charles Xavier (Patrick Stewart), yang mulai mengalami kepikunan di usia 90-an tahun, bersama dengan mutan pencari jejak, Caliban (Stephen Merchant).

Rutinitasnya terganggu saat ia terpaksa harus membawa seorang anak kecil bernama Laura Kinney (Dafne Keen) ke sebuah tempat yang misterius. Tentu saja bukan tugas yang gampang karena ada sosok Donald Pierce (Boyd Holbrook) beserta komplotannya, Reavers, yang memburu. 

Memanfaatkan premis cerita seperti di atas, Mangold sukses dalam memisahkan tone atau atmosfir Logan dari judul-judul X-Men lain yang cenderung cerah dan penuh warna. Walhasil, Logan lebih terasa gelap juga membumi. Satu tahun setelah Deadpool (2016), Logan adalah film superhero lain yang mengizinkan dirinya berada dalam rating R atau Restricted sehingga adegan kekerasan atau kata-kata kasar hadir dengan lebih ekstensif kalau tidak mau disebut vulgar.

Kekerasan dengan level yang lebih tinggi ini sebenarnya sudah cukup ditunggu-tunggu karena dengan rating PG-13 untuk setiap film X-Men di mana Logan hadir, maka segenap potensinya cenderung terpangkas. Kini kita bisa menyaksikan bagaimana sebenarnya darah dan ceceran tubuh yang bisa dihasilkan secara maksimal oleh cakar-cakar Adamantium sang Wolverine.

Untuk urusan sumpah serapah, cenderung agak berlebihan karena banyak penempatan yang tak perlu. Seolah-olah Logan, atau bahkan Charles Xavier, selama ini dibekap mulutnya dan sekarang memiliki kesempatan untuk berteriak lepas.

Sebenarnya itu bukan gangguan utama Logan. Yang meresahkan adalah bagaimana sebuah film yang diset sebagai semacam coda untuk tokoh ikonik ini tidak memiliki kualitas naskah memadai alias lemah. Tentunya Mangold, yang pernah mengerjakan remake untuk 3:10 to Yuma (2007),  patut dipuji dalam membangun suasana film western untuk Logan secara cukup efektif, lengkap dengan filosofi akan kekerasan ataupun tema tentang penebusan. Ini adalah pilihan yang cukup cerdik, karena banyak yang menyebut jika trend superhero dalam dua dekade terakhir ini mengingatkan akan trend film koboi atau western yang dulu mendominasi layar lebar di era 50 hingga 60-an.

Plot Logan sebenarnya tipis. Jadi adalah masuk akal untuk menghadirkannya dalam sebuah road movie sebagai alat untuk membangun koneksi antara Logan bersama Laura, sang X-23, yang bisa dikatakan adalah penerus dirinya. Hubungan yang terjalin antara Logan dan Laura, yang tentu saja awalnya tidak mulus, kemudian berangsur-angsur membaik, berkat berbagai peristiwa yang terjadi di sepanjang perjalanan mereka. Sebagian besar dilekatkan cukup rapi dan meyakinkan.

Hanya saja sulit menghindari kesan film terasa berpanjang-panjang, sehingga agak bertele dan membosankan di beberapa bagiannya. Belum lagi para villain yang karikatural dan kurang kharismatis. Karakterisasi mereka tanpa kedalaman atau motivasi yang lebih kuat dibandingkan hanya sekedar eksis sebagai tuntutan antagonis cerita. Pastinya Logan yang diniatkan sebagai send-off ini akan lebih layak atau berkesan, jika saja faktor resiko tidak datang dari hanya kelemahan fisiknya, namun juga antagonis yang lebih mengancam dan impresif.

Mungkin memang disengaja, karena film lebih memilih untuk menampilkan sisi psikologis Logan di akhir riwatnya ini, di mana ia belajar menjadi figur ayah, meski  sebenarnya tak pernah menginginkannya, kepada Laura. Untuk itu,  film mendapatkan nilai lebih. Apalagi, terlepas dari pendekatannya yang jenerik, dinamika antara Logan dan Laura cukup bernuansa dan pada akhirnya menyentuh. Ditambah lagi baik Jackman dan si bintang cillik Dafne Keen, bermain dengan baik serta dibekali chemistry yang meyakinkan.

Jika kemudian mengatakan Logan sebagai film superhero terbaik, atau seri X-Men terbaik, mungkin agak berlebihan. Tapi sebagai entry terbaik dari trilogi Wolverine? Itu sudah pasti. Dengan segala kesederhanaannya, ia justru tampil mencolok. Fakta jika Logan dibekali dengan berbagai adegan laga seru adalah bonus, karena sejatinya ia justru berbicara tentang humanisme akan seorang manusia yang kebetulan saja memiliki kemampuan super. Sesuatu yang jarang ada di cakrawala film per-superhero-an.

★★★½ ☆ ☆

★★★½ ☆ ☆

Advertisements