Album Review: Ed Sheeran – Divide (2017)

Saat ini siapa penikmat musik pop yang tak mengenal Ed Sheeran. Penyanyi asal Suffolk, Inggris, 26 tahun lalu ini telah menuai kesuksesan berkat dua albumnya, “+” (2011) dan “×” (2014). Kini, setelah sempat memvakumkan diri selama beberapa tahun dengan niat untuk menjalani kehidupan yang lebih “normal”, Sheeran kembali dengan album ketiganya, yang masih meminjam istilah perhitungan sebagai judul, “÷” atau “Devide”.

Jika di album pertama adalah tentang penambahan, kedua tentang pengalian, maka album ketiga adalah pembagian. Mungkin demikian filosofi sederhananya. Berbicara tentang bagi-bagi, maka “÷” terasa cukup representatif, karena di dalamnya Sheeran seperti membagi enerjinya dalam berbagai corak musik, meski tak benar-benar melepas akar pop-folk-rock ala Jason Mraznya.

Yup! “÷” masih memiliki beberapa track yang menghadirkan Sheeran ber-singtalk ala Mraz seperti yang bisa disimak dalam track-track ala ‘Geek in the Pink’ seperti ‘New Man’, atau ‘Galway Girl’ yang juga memasukkan unsur celtic di dalam lagunya. Tapi ia juga mencoba untuk mengembangkan singtalk tadi menjadi rap yang lebih penuh melalui track pembuka album yang enerjik, ‘Eraser’.

“÷” menandakan Sheeran yang memasuki ranah pop yang lebih luas. Bisa dibuktikan dengan track bergaya dancehall yang awalnya diniatkan untuk Rihanna, ‘Shape of You’. Lagu yang saat ini sukses wara-wiri di puncak berbagai tangga lagu ini seolah memperkenalkan ulang Sheeran sebagai penyanyi yang tak segan untuk tampil kekinian atau lebih urban. Meski begitu, tampaknya ia juga tak mau menghilangkan ciri khasnya, karena ia merilis ‘Shape of You’ sebagai double feature bersama ‘Castle on the Hill’ yang memperdengarkan Sheeran dalam versinya yang lebih organis. Namun rupanya orang-orang menyambut meriah Sheeran dalam “versi” baru karena toh ‘Shape of You’ jauh lebih sukses dibandingkan ‘Castle on the Hill’.

Meski begitu “÷” sebenarnya tidak benar-benar menjadi ajang eksperimental bagi Sheeran untuk mencoba ranah musikal baru, karena secara umum lagu-lagu yang terdapat di dalamnya masih mengandalkan ciri khasnya. Memang ada lagu yang soulful seperti ‘Dive’ (yang mengingatkan akan sebuah lagu Korea Selatan, yang sayangnya saya lupa judulnya), atau mengusung doo-woop dalam ‘Perfect’.

Hanya saja, sebagian besar amunisi “÷” adalah pop balada manis romantis menghanyutkan. Bisa disimak dalam ‘Happier’ yang merupakan kolaborasinya bersama Ryan Tedder, ‘Hearts Don’t Break Around Here’, ‘How Would You Feel (Paean)’ hingga ‘Supermarket Flowers’. Sheeran memang selalu bisa diandalkan dalam menghadirkan lagu-lagu yang memiliki notasi sederhana, namun bermelodi cantik, sehingga mengundang pendengarnya untuk merasa terharu-biru. Apalagi Sheeran cekatan dalam menyanyikan lagu-lagu ini dengan emosi tepat guna yang diperlukan oleh lagunya.

Untuk lagu-lagu bonus dalam edisi deluxe, Sheeran mengadirkan lagu-lagu yang bisa dikatakan keluar dari wilayah amannya. Mengapa? Karena ia lumayan berani mengeksplorasi world music atau etnik untuk lagu-lagu di seksi bonus ini. Bisa dibuktikan dengan ‘Barcelona’ yang bergaya Spanyol dengan imbuhan motif flamenco tentu saja. Sedang dalam ‘Bibia Be Ye Ye’ Sheeran menyebrang ke benua Afrika dan sukses mengajak kita bergoyang mengikuti irama tribal cerianya.

Untuk ‘Nancy Mulligan’ ia kembali ke tanah Irlandia, selepas track sebelumnya, ‘Galway Girl’. Pop-folk-dance ala celtic yang dihidangkan Sheeran dalam lagunya begitu mengundang untuk turut berjoget mengikuti ketukan enerjetiknya. Album ditutup dengan ‘Save Myself’, yang kembali menghadirkan balada menyentuh. Agak tertebak sebenarnya dan berbeda dengan tiga track sebelumnya yang bisa dikatakan berani mengeluarkan Sheeran dari kotaknya.

Ok. Selepas menyimak “÷”, sebenarnya Sheeran tidak menawarkan sesuatu yang baru. Sebagian besar lagu masih mengandalkan formula suksesnya. Cuma harus menjadi catatan jika setiap lagu dalam “÷” terdengar lebih matang dibandingkan lagu-lagu yang terdapat dalam dua album Sheeran sebelumnya.

Setiap track dalam “÷” terdengar solid. Selain mampu berdiri sendiri juga saling menunjang antara satu track dengan track yang lainnya sehingga “÷” pun menjadi sebuah album yang utuh. Kesan filler, yang masih menghinggapi dua album Sheeran sebelumnya, nyaris tidak ditemui di sini. Ini seharusnya bisa menjadi catatan lebih baik untuk album “÷” atau musikalitas Sheeran itu sendiri.

★★★½☆☆

Advertisements