Album Review: Various Artists – Beauty and the Beast: Original Motion Picture Soundtrack (2017)

Tale as old as time, tapi “Beauty and the Beast” akan selalu di hati. Terutama film animasi Disney yang dirilis di tahun 1991 lalu. Kini, 16 tahun kemudian, film animasi tersebut di”hidupkan” kembali dalam sebuah film live-action, di mana jebolan Harry Potter, Emma Watson, berperan sebagai Beauty, alias Belle, dan aktor serial “Downton Abbey” dan “Legion”, Dan Stevens, didapuk sebagai sang Beast. Sebagaimana film animasinya, maka adaptasi live-action ini pun digubah dalam sebuah film musikal. Lengkap dengan lagu-lagu dari film animasinya, “Beauty and the Beast” dilengkapi dengan barisan lagu baru pula, yang bisa disimak dalam “Beauty and the Beast: Original Motion Picture Soundtrack“.

Alan Menken kembali menjabat sebagai penata musik, dengan Howard Ashman menulis lirik untuk lagu-lagu yang sebelumnya dihadirkan untuk versi animasi. Sedang Tim Rice (“Aladdin”, “The Lion King”) sebagai penulis lagu-lagu orisinal baru. Nama-nama ini sudah merupakan jaminan mutu, baik untuk film-film Disney maupun musikal, sehingga tidak heran jika “Beauty and the Beast” versi kini pun tak kalah menawan di sisi musikalnya. Menken, Ashman dan Rice pun sudah berkolaborasi untuk drama panggung Broadway “Beauty and the Beast”, sehingga tentunya mereka sudah menemukan kecocockan untuk ritme kerjanya. Ini sejalan sebagaimana visi sang sutradara, Bill Condon, ia ingin menghadirkan live-action “Beauty and the Beast” sebagai sebuah film musikal yang megah.

Memang, dibandingkan versi animasinya, “Beauty and the Beast” hadir dengan semangat yang sangat Broadway-esque, meski tak melupakan cita-rasa seperti film musikal tradisional. Oleh karenanya, lagu-lagunya kini terdengar jauh lebih panjang, lebih dramatis dan tentu saja megah berkat orkestrasi yang menawan. Sensasi musikal bahkan sudah digencarkan semenjak track pembuka, sebuah ‘Overture’ sepanjang 3 menit-an, dan lantas disusul beberapa track prolog dan sebuah ‘Aria’ oleh pemain Broadway terkenal, Audra McDonald.

Nomor-nomor klasik seperti ‘Belle’ dihadirkan dengan intens, meski tentunya tetap harmonis. Keriuhan ‘Belle’ mungkin akan lebih hidup jika sudah menyimak adegan yang menjadi visualisasi lagu yang bertujuan untuk memperkenalkan Belle kepada penonton. Vokal Emma Watson sendiri tak mengecewakan, di mana ia mampu mengartikulasi lirik, sebagai dialog dan nyanyian sekaligus. Dan Watson menutupnya dengan belting her vocal out secara prima dalam ‘Belle (Reprise)’.

Track klasik lain, ‘Gaston’ pun dihadirkan secara meriah, berkat vokal Josh Gad (“Frozen”), pemeran LeFou, dan Luke Evans, sang Gaston itu sendiri, yang memang memiliki latar musikal, sehingga mereka mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Ewan McGreggor, yang sebelumnya sudah bernyanyi dalam musikal populer, “Moulin Rouge!”, pun tak kalah menggugah dalam menghadirkan ‘Be Our Guest’ yang sebenarnya memiliki jangkauan nada yang pelik dan kompleks.

Aktris kenamaan Inggris, Emma Thompson, menggantikan Angela Lansbury dalam menyanyikan ‘Beauty and the Beast’, sebuah lagu romantis yang mengiringi dansa antara Beast dan Belle. Dalam versi baru ini, Thompson ternyata mampu meningkatkan eskalasi emosional lagu setingkat lebih tinggi. Apalagi orkestrasi Menken sangat mendukung untuk itu. Track manis ‘Something There’ masih terdengar mirip versi asli, hanya saja untuk kali pertama kita mendengar vokal Dan Stevens, sang pemeran Beast. Meski vokalnya agak dialterasi, karena guna menangkap sosok Beast yang berperawakan “raksasa”, ternyata Stevens memiliki kualitas vokal istimewa.

Dibuktikan pula dengan balada emosional yang menjadi nomor solonya, sebuah track baru, ‘Evermore’. Nomor showstopper ini dibawakan Stevens dengan sangat baik. Untuk sebuah musikal, dalam lagu-lagu sejenis ini vokal powerful memang diperkukan, namun yang lebih utama adalah kemampuan sang artis dalam meniupkan emosi dan roh dalam lagunya, sehingga pesan lagu bisa tersampaikan baik. Dan Stevens sukses menjalankan fungsinya. Josh Groban, yang bertugas menyanyikan lagunya untuk versi credit title, pun tampil tak kalah baik, hanya saja karakter Beast dengan segala keresahannya tidaklah hadir secara penuh, sebagaimana versi Stevens. Terlepas dari itu, bisa dipastikan juga ‘Evermore’ akan menjadi lagu klasik Disney lain.

Syukurlah “Beauty and the Beast” versi baru ini dibekali dengan lagu-lagu baru yang tak baik dibandingkan lagu-lagu lawasnya. Selain ‘Evermore’, kita disajikan balada lain, ‘Days in the Sun’ yang dinyanyikan para ensemble cast. Berbeda dengan ‘Evermore’, maka nomor ini dinyanyikan secara lembut mengalun, sehingga kesan haru terasa menghanyutkan dan menghadirkan rasa sedih saat mereka bernyanyi tentang rasa rindu akan sesuatu yang kini sudah tidak bisa dialami lagi.

Sebagaimana umumnya musikal, ada satu track yang menjadi motif untuk keseluruhannya. Maka “Beauty and the Beast” memiliki ‘How Does a Moment Last Forever’ yang hadir dalam 3 versi. Versi pertama adalah ‘Music Box’ yang dinyanyikan Kevin Kline sebagai Maurice, ayah Belle. Sebagaimana judulnya, versi ini hadir dengan minimalis. Versi kedua adalah ‘Montmartre’ yang dinyanyikan oleh Watson dengan lebih tertahan. Versi ketiga adalah versi penuh yang dinyanyikan oleh Celine Dion.

Dion terangkat namanya saat menyanyikan lagu tema ‘Beauty and the Beast’ bersama Peabo Bryson di tahun 1991. Dan kini versi live-action melakukan langkah cerdik untuk mengajak kembali dirinya, meski menyanyikan lagu lain, sebuah balada manis yang tentu saja ditunaikan Dion dengan sangat baik. Lantas, kini siapa yang menyanyikan ‘Beauty and the Beast’ untuk versi pop? Ternyata adalah Ariana Grande dan John Legend. Sayangnya, track mereka adalah yang terlemah dalam album ini. Di samping tidak menawarkan sesuatu yang baru dari segi interprestasi, aransemen lagunya pun terasa “murahan” dan mengingatkan akan lagu versi karaoke.

Tapi, terlepas dari “cacat” kecil tersebut, “Beauty and the Beast: Original Motion Picture Soundtrack” adalah sebuah album yang istimewa. Sebuah album musikal yang dihiasi oleh barisan lagu berkesan dan memorable. Selain sebagai sebuah mitra yang sempurna untuk filmnya, sekaligus bisa menjadi “sarana” merasakan kembali pengalaman sinematis musikal megah yang ditawarkan oleh filmnya dalam bentuk audio.

★★★★☆

Advertisements