Film Review: Life (2017)

Dirilis hanya selang beberapa bulan sebelum Alien: Covenant, maka sulit bagi Life, karya sutradara asal Swedia Daniel Espinosa (Easy Money, Safe House, Child 44), untuk mengelakkan tudingan dirinya sebagai peniru Alien, yang merupakan karya klasik Ridley Scott. Fiksi-ilmiah berbumbu horor dengan seting berlokasi di luar angkasa dan melibatkan sosok mahluk asing yang meneror bisa menjadi alasan di balik tudingan.

Bagaimanapun Alien (1979) sudah berbuntut banyak epigon. Jadi bertambah satu lagi rasanya tidak mengapa. Asal ada kemasan baru yang membuatnya menarik, jika tidak berbeda. Dan Life memang menawarkan perbedaan dalam variasi teror makhluk asingnya. Sederhananya, pendekatan yang diambil Life lebih mirip Gravity (2013) atau bahkan Sunshine (2007) dibandingkan Alien itu sendiri.

Dalam arti; pada dasarnya bahaya dalam Life lebih disebabkan oleh insiden, sebagaimana Gravity atau Sunshine misalnya. Hanya saja, kendala teknis yang mereka alami adalah dalam bentuk entitas asing yang berkembang pesat dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata serta memiliki naluri bertahan hidup kuat. Anggap saja sebagai bumbu penyedap jika secara fisik ternyata sang makhluk mirip monster mengerikan dan gemar mengeliminasi manusia.

Di atas kertas, stuktur cerita Life memang cukup formulatis untuk plot yang berhubungan dengan interaksi bersama makhluk asing berbahaya. Ada enam orang awak yang menghuni sebuah stasiun luar angkasa internasional; Dr. David Jordan (Jake Gyllenhaal) yang telah berada di luar angkasa lebih lama dibandingkan manusia kebabnyakan; Dr. Miranda North (Rebecca Ferguson), seorang ahli mikrobiologi dengan disiplin di atas rata-rata; Rory Adams (Ryan Reynolds), ahli khusus dengan selera humor self-referential ala Deadpool (sorry); kapten Katerina Golovkin (Olga Dihovichnaya); ilmuan Hugh Derry (Ariyon Bakare); serta teknisi Sho Kendo (Hiroyuki Sanada).

Mereka bertugas untuk menangkap kiriman sampel biologis dari Mars dan kemudian menelitinya, sebelum memutuskan apakah aman di bawa ke Bumi atau tidak. Tidak butuh lama saat rasa kagum akan sang entitas berubah menjadi kengerian saat sang alien, yang diberi nama Calvin, mulai menghabisi mereka satu-persatu. Awak yang tersisa tentu saja harus memutar otak untuk mengakali sang alien dan kalau bisa dienyahkan sebelum bisa memasuki Bumi.

Jika kemudian Gravity kerap dibawa-bawa, karena naskah yang ditulis duo Rhett Reese dan Paul Wernick (sebelumnya sukses dengan Deadpool), sepertinya memang sangat terinspirasi oleh film Alfonso Cuarón tersebut. Esensi Life adalah bertahan hidup serta eksistensi, baik untuk karakter manusianya maupun sang alien. Ini menyebabkan Life memiliki kedalaman nuansa ketimbang epigon Alien kebanyakan.

Bahkan semenjak adegan one-shot pembuka film, yang mengeksplorasi stasiun luar angkasa yang menjadi seting film sekaligus bertugas memperkenalkan karakter, Life sudah memberi janji akan sesuatu yang berbeda. Pergerakan kamera kinetis dari Seamus McGarvey mencoba sebaik mungkin mengadaptasi pendekatan ala Emmanuel Lubezki dan ia cukup berhasil untuk itu. Tidak heran, secara visual film terasa memukau dan… hidup.

Walau begitu, tetap saja Life bukan Gravity. Dan Espinosa bukan Cuarón. Life dan Espinosa berada setingkat di bawah mereka. Ada momen di mana Life mencoba menjadi filosofis, dengan Calvin menjadi semacam metafora akan rasa takut yang makin membesar. Berkat pengenalan karakter yang cukup baik, kita memahami ada perbedaan manisfestasi akan rasa takut tersebut untuk tiap karakter. Masalahnya, manisfestasinya terlalu jenerik, akibat karakter-karakter yang juga terlalu arketipe, sehingga tidak memberi kesan lebih. Beruntung film dibekali dengan barisan aktor mumpuni, sehingga setipis apapun karakternya atau seklise apapun situasi yang mereka hadapi, Life tetap memiliki dinamika.

Terlepas dari itu, Life justru lebih efektif saat memberi fokus pada satu hal: survival. Saat di pertengahan Calvin mulai menebar teror, maka film mulai mengganti gigi dan bergerak dalam tempo lebih cepat. Life menjadi lebih dinamis.

Meski pengarahan Espinosa cenderung lebih mengedepankan aspek dramatis, film tetap memberi ruang pada adegan aksi mendebarkan. Unsur klaustropobik dihadirkan dengan efektif oleh ruang sempit yang menjadi seting, sehingga ketegangan bisa menjadi lebih lekat. Sayang pilihan Espinosa untuk tidak memberi fokus berlebih pada sisi horor, justru menjadi problema terbesar film.

Efek khusus mumpuni membuat Calvin menjadi sangat meyakinkan. Ia dihadirkan dengan cukup jelas, ketimbang malu-malu dan dalam sudut gelap seperti halnya film-film bertema sejenis. Tapi film tidak memanfaatkan dirinya dengan baik. Dengan rating R, Life sebenarnya punya potensi untuk menebar kengerian yang ekstrim. Tidak harus banjir darah atau bertabur gore juga, namun setidaknya bisa lebih maksimal dalam memanfaatkan anomalitas sosok Calvin itu sendiri untuk membangun atmosfir suram dan ngeri, ketimbang hanya pecicilan dengan melesat ke sana kemari. Kurang tergalinya aksi Calvin membuat Life terasa tanggung di departemen suspensi dan ketegangan, sementara dramanya tidak terlalu aspiratif pula.

Singkat kata, Life is a wasted potential. Punya potensi untuk menjadi berbeda, atau mendorong batasan horor fiksi ilmiah untuk keluar dari perspektif konvensional. Mungkin Life bukan hanya sekedar epigon Alien, karena memang ada pembeda. Tapi patokan naskah yang relatif familiar – jika tidak mau disebut kurang imajinatif – hanya bisa membuat film masuk dalam kategori lumayan. Dan tidak lebih dari itu.

★★★½ ☆ ☆

Advertisements