Film Review: The Devil’s Candy (2015)

Sutradara asal Australia, Sean Byrne, sempat mencuri perhatian berkat debutnya, The Loved Ones, di tahun 2009. Beberapa tahun lalu berlalu, ia kembali dengan karya sophomore-nya, The Devil’s Candy. Dengan seting Texas, Amerika, Byrne berpindah dari psycho-thriller ke ranah horor supernatural. Yah, setidaknya sebagian saja, karena The Devil’s Candy ternyata belum begitu melepas aspek psycho-thriller tadi yang membesarkan nama Byrne.

The Devil’s Candy sebenarnya masih belum bergerak jauh dari variasi misteri rumah angker plus kerasukan lainnya. Bayangkan The Amityville Horror (1979) dikombinasi dengan Frailty  (2001), maka demikian gambaran umum dari The Devil’s Candy. Namun, ada injeksi tambahan dengan hadirnya musik metal sebagai bagian motif cerita. Ini adalah bumbu menarik, mengingat adanya stigma tentang metal sebagai musik setan.

Berbicara setanisme, The Devil’s Candy punya eksplorasi menarik tentang itu. Bukan berarti film membenarkan jika metal adalah alat untuk memanggil setan, tapi bagaimana distorsi gitar elektrik dan gumaman layaknya mantra mirip growl seorang vokalis metal menjadi aksesoris cerita adalah penyegar tersendiri di tengah klise yang merambati film secara keseluruhan.

Secara plot, The Devi’s Candy masih memanfaatkan pakem kisah sebuah keluraga yang pindah ke sebuah rumah dengan sejarah kelam. Kali ini ada pasutri Jesse (Ethan Embry) dan Astrid Hellman (Shiri Appleby), beserta putri mereka yang beranjak remaja, Zooey (Kiara Glasco). Sebagai modifikasi tipologi keluarga “normal” dalam film sejenis, disebutkan Jesse sebagai pelukis penggemar metal dan mewariskan kegemarannya tersebut pada sang putri. Pendekatan yang membuat interaksi keluarga ini menjadi lebih dinamis dan atraktif karena melawan arketipe.

Singkat cerita, semenjak pindah ke rumah tersebut, Jesse mulai mendengar suara-suara misterius dan mendorongnya untuk melukis sebuah gambar yang agak mengerikan. Meski begitu, suara misterius itu bukan satu-satunya masalah Jesse, karena ada sosok Ray Smillie (Pruitt Taylor Vince), yang dulunya menempati rumah tersebut bersama keluarganya.

Selama 20 tahun terakhir Ray mendapat perawatan karena dianggap mengalami gangguan psikologis. Ray yakin ia mendengarkan suara setan dan percaya suara tersebut menyuruhnya untuk mengorbankan anak-anak kecil, karena mereka adalah permen bagi sang Setan. Tidak usah heran jika Ray kemudian terobsesi kepada Zooey. Apalagi setelah mereka menemui kesamaan akan kesukaan terhadap musik metal dan gitar Gibson Flying V.

Menarik bagaimana film mencoba membuat kita merasa simpati kepada Ray, karena ia diposisikan sebagai pembunuh yang enggan; melakukannya karena “diperintah”. Sayangnya, dengan latar belakang minim (dan absennya penjelasan hubungan musik metal dengan setan), membuat karakter Ray lebih mirip sketsa ketimbang sosok utuh. Apalagi Pruitt Taylor Vince memerankan karakternya agak karikatural, sehingga alih-alih  simpatik (atau sebenarnya lebih baik lagi jika menakutkan), Ray condong pada mengesalkan.

Meski begitu Ray bukan satu-satunya karakter mengesalkan dalam film, karena tiga karakter utama lain pun setali tiga uang. Hal ini disebabkan karena mereka hadir dengan motivasi dan pilihan sikap yang terkesan dungu. Ketimbang bertindak sebagaimana orang yang berada di situasi mengancam, aksi dan reaksi mereka superfisial, karena lebih condong hadir sebagai alat untuk memunculkan ketegangan belaka.

Naskah, yang juga ditulis oleh Byrne, memang adalah sumber masalah utama. Naskah keteteran dalam mengembangkan plot dengan logika lebih meyakinkan atau minim lubang menganga. Setelah dimulai dengan baik, film menjadi jenerik saat memasuki pertengahan menuju akhir. Seolah-olah Byrne tidak tahu mau bagaimana lagi mengembangkan narasinya.

Secara teknis, film juga tidak istimewa. Seharusnya sudah menjadi indikasi kalau Byrne agak gelagapan dalam mengeksplorasi sisi supernaturalnya semenjak ia merasa film horor harus senantiasa remang-remang biar terkesan seram atau suram. Sebagaimana rambut dan brewokan Ethan Embry, atmosfir The Devil’s Candy terlihat palsu dan murah.

Walau demikian, film tidak buruk-buruk amat. Tetap ada beberapa momen menarik yang menghindarkan film dari jurang kebosanan. Dan meski minim gore, suspensi tetap terjaga, terutama saat berada di sisi thrillernya. Setidaknya kalau tidak ada pilihan lain, bolehlah mencicip The Devil’s Candy.

★★½☆☆☆

Advertisements