Film Review: Shin Godzilla (2016)

Dengan kesuksesan Godzilla versi Amerika yang dirilis di tahun 2014, tidak heran jika Toho pun melakukan reboot untuk Godzilla versi domestik. Berjudul Shin Godzilla atau Godzilla Resurgence, film merupakan reboot ketiga kalinya dan merupakan produksi ke-29 dalam franchise ini bagi Toho, setelah terakhir Godzilla: The Final Wars (2004). Duduk di bangku sutradara adalah duo  Hideaki Anno (Neon Genesis Evangelion) dan Shinji Higuchi (Attack on Titan), dengan Anno juga bertugas menulis naskah, sedangkan Higuchi menangani efek khusus.

Berbeda dengan reboot pertama (The Return of Godzilla, 1984) dan kedua (Godzilla 2000, 1999) yang masing-masing menyebutkan diri sebagai kelanjutan langsung Godzilla rilisan 1954, maka Shin Godzilla benar-benar memulai kisahnya dari nol. Selain memposisikan diri sebagai Godzilla tertinggi saat ini, 118.5 meter (bandingkan dengan Godzilla 2014 yang “hanya” 108 meter), sebagai reboot, Shin Godzilla memperkenalkan kembali sosok Godzilla melalui variasi kisah muasal baru serta beberapa alterasi untuk karakteristik sang Raja Monster.

Saat pertama kali film menampilkan Godzilla, ia hadir tidak seperti yang kita bayangkan, karena cenderung mirip ular  melata meski berkaki. Saat ia merengsek jalanan megapolitan Tokyo yang padat, lebih karena faktor mobilisasi bukan aksi destruksi. Dengan mata lebar melotot tajam dan mulut senantiasa menganga memamerkan geligi tajam, pra-Godzilla ini memang terlihat menyeramkan (walau awalnya agak konyol karena mengingatkan kaiju karet ala serial tokusatsu jaman lawas), sehingga teror horor ala film orisinalnya pun bisa terangkat.

Horor bukan satu-satunya elemen Godzilla orisinal yang dicomot. Dibandingkan dengan kebanyakan film Godzilla, bahkan termasuk versi Amerika terbaru, yang cenderung hadir sebagai fantasi yang mengadu monster dengan monster lainnya, maka Shin Godzilla lebih lekat dengan film bencana.

Jika Godzilla orisinal tepengaruh oleh bom atom yang meluluhlantakkan Jepang semasa Perang Dunia II, maka Shin Godzilla tentunya lebih kekinian, yaitu dengan mengambil tragedi nuklir Fukushima Daiichi serta bencana alam gempa dan tsunami Tōhoku di tahun 2011 sebagai inspirasi untuk metaforanya.

Meski bertabur karakter – yang awalnya agak membingungkan untuk diidentifikasi – namun pada umumnya film menyoroti kinerja pemerintah dalam mengatasi bencana yang datang. Sepanjang film, jukstaposisi adegan berselang-seling antara aksi Godzilla dengan penggambaran gerak birokrasi pemerintahan.

Oleh karena itu, walau film menampilkan beberapa karakter manusia utama, serta sub-plot masing-masing, pada intinya Shin Godzilla lebih tertarik pada aksi kolektif ketimbang individual. Imbasnya, karakter-karakter tadi terasa tidak terlalu signifikan dan ini menjadi semacam blunder untuk Shin Godzilla. Sebagai sebuah film bencana, drama humanis  antar karakter adalah elemen penentu apakah filmnya sukses menarik emosi atau tidak. Sementara dalam Shin Godzilla mereka hanya alat untuk penggerak plot.

Berbicara tentang sang Godzilla itu sendiri, terutama setelah melakukan transformasi menjadi sosok yang lebih kita kenal, aksinya tak mengecewakan. Perpaduan antara CGI, animatronik,  dan motion capture, Godzilla dalam Shin Godzilla tampak mengancam, meski harus diakui tak sehidup Godzilla versi Gareth Edwards. Setidaknya aksinya cukup seru, terutama adegan Godzilla melawan pihak militer yang dieksekusi dengan baik dan intens. Mujarab sebagai penawar untuk bahaya laten mati kebosanan akibat banjir eksposisi dan jargon yang memenuhi film.

Entah mengapa, sekalipun film memiliki teknologi efek khusus memukau, Godzilla dihadirkan mirip dengan film-film lawas yang cenderung kaku karena mengandalkan teknik manusia dalam kostum sintetis. Dengan demikian Godzilla-nya juga terasa artifisial dan tidak “hidup”, sehingga tidak terasa meyakinkan. Berbanding terbalik dengan gaung realisme yang coba dipaparkan di sepanjang film.

Shin Godzilla tidak istimewa. Ia mengembalikan nostalgia sekaligus mencoba untuk memformat ulang karakter monster ikonik ini. Kadang berhasil, kadang tidak. Tapi sebagai reboot ia tetap menarik untuk disimak. Dengan keberhasilan yang sukses dituai Shin Godzilla, maka rasa-rasanya kita bisa berharap akan ada sekuel yang siap menyusul. Yang menjadi pertanyaan, apakah kelanjutan Shin Godzilla akan mengikuti jejak pendahulunya dengan menghadirkan monster lain sebagai lawan seimbang, atau cukup memberi fokus hanya pada sang Godzilla? Kita tunggu saja, sembari menyimak penawaran terbaru dari Toho untuk franchise ini, yaitu film animasi Godzilla pertama, Godzilla: Monster Planet. Sepertinya (lebih) menarik.

★★★☆☆

Advertisements