Film Review: Spirited Away (2001)

Bagi penggemar animasi, atau mungkin penggemar film secara umum, pasti mengenal maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki, dan rumah produksi miliknya yang legendaris, Studio Ghibli. Kini, untuk pertama kalinya beberapa film animasi karya Miyazaki – 5 film tepattnya – bisa disaksikan secara umum karena tayang di berbagai bioskop Indonesia dalam agenda World of Ghibli Jakarta. Untuk sajian bulan pertama adalah salah satu masterpiece Miyazaki dan Studio Ghibli, Spirited Away (千と千尋の神隠し – Sen to Chihiro no Kamikakushi).

Spirited Away merupakan film panjang kedelapan Miyazaki. Menorehkan prestasi sebagai film animasi terbaik di ajang Oscar 2003 bukan alasan mengapa kita bisa begitu mencintai film ini. Karena ia adalah sebuah film indah dengan rangkaian cerita indah menggugah serta dibungkus oleh animasi cantik  dan  visual memanjakan mata merupakan alasan utamanya

Memasuki dunia Spirited Away berarti harus mengalami petualangan di ranah antah-berantah yang terasa sangat magis namun juga menyentuh. Dalam Spirited Away, seorang gadis cilik bernama Chihiro Ogino, sebagaimana Alice, juga memasuki dunia ajaib yang sulit dipahami daya nalar manusia biasa.

Bermula dari salah jalan yang diambil ayah Chihiro saat hendak menuju rumah baru mereka. Lantas mereka memasuki sebuah wilayah asing, Meski ditentang Chihiro, kedua orangtuanya bersikeras untuk mengeksplorasi wilayah tersebut. Sampai malam menjelang dan berbagai mahluk yang aneh wujud serta bentuknya mulai ramai bermunculan.

Orang tua Chihiro kemudian menjelma menjadi sepasang babi gendut, menyisakan Chihiro yang terperangkap di dunia ghaib ini dan bingung hendak kemana. Beruntung ia bertemu pemuda cilik misterius bernama Haka yang menganjurkan Chihiro untuk meminta pekerjaan pada Yubaba, penyihir tua penguasa rumah permandian umum di mana Haka bekerja.

Selama berada di rumah permandian umum tersebut, Chihiro yang kini dipanggil sebagai Sen saja, mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia memiliki teman-teman baru lain seperti Kamaji, kakek bertangan banyak ala laba-laba, Lin sang gadis pelayan, serta mahluk halus bernama Kaonashi atau No-Face. Keuletan Sen dalam bekerja membuat dirinya yang seorang manusia akhirnya bisa diterima oleh sekitarnya. Walau begitu, Sen tetap harus bisa membebaskan dirinya, orang tuanya, juga  Haka, dari ikatan sihir Yubaba.

Sebagaimana umumnya film-film Miyazaki, fantasi adalah unsur utama untuk Spirited Away. Hanya saja, alih-alih mengedepankan aksi-fantastis, penekanan pada plot film cenderung pada aspek dramatiknya. Dengar latar dongeng dan mitologi Jepang yang dipadu dengan pendekatan Barat, maka semesta dalam Spirited Away terasa kaya dan imajinatif. Beberapa asupan filosofi memang Jepang sekal. Tapi, secara umum pesan dalam film dapat berlaku secara universal.

Alur bergerak perlahan, karena Miyzaki ingin menghadirkan kompleksitas serta kedalaman untuk cerita dan karakternya. Kita perlu mengenai siapa itu Chihiro, Haku, Yubaba, serta lainnya, serta ruang lingkup di sekitar mereka. Oleh karenanya film dengan sengaja memberi waktu untuk proses elaborasi. Mulai dari rupa tubuh Yubaba yang besar dan mengancam hingga setiap sudut rumah permandian umum, dipaparkan secara mendetil.

Dan itu terbayar dengan baik. Karakter dan seting Spirited Away adalah hasil ilustrasi dua dimensi olahan secara manual oleh tangan. Namun karena dikerjakan dengan presisi nyaris sempurna oleh Miyazaki, maka terlihat penuh nuansa dan dinamika. Seperti lukisan yang menjelma  hidup!

Spirited Away kaya dengan warna, kendatipun dihadirkan dengan lembut, sesuai dengan ritme film. Fantasi memenuhi adegannya, meski tidak mencolok karena pendekatan yang dipilih ada pada konteks membumi dan realistik. Miyazaki dengan gemilang mengajak kita untuk larut dalam kisahnya. Mengharu-biru tanpa harus cengeng. Penuh pesan tanpa menceramahi. Kadang gelap menyeramkan, walau lebih sering cerah dan menggelitik.

Saat film usai, tak terasa kita baru saja tersedot dalam dunia penuh keajaiban yang lekat di hati dari Hayao Miyazaki. Menegaskan Spirited Away sebagai film klasik yang tak akan bosan disaksikan lagi dan lagi.

★★★★½☆

Advertisements