Film Review: Lavender (2016)

Selepas The Last Exorcism Part II (2013), yang naskahnya ditulis bersama dengan Damien Chazelle (Whiplash, La La Land), kurang mendapat sambutan memuaskan dari para kritikus, sutradara asal Kanada, Ed-Gass Donnelly, ternyata tidak mau menyerah begitu saja di genre horor. Kali ini ia datang kembali dengan Lavender. Meski memang bukan horor murni karena dibungkus juga dengan drama dan thriller.

Donnelly kembali menulis naskah. Namun kali ini ada penulis novel young adult, Colin Frizzell, sebagai mitranya. Usungan temanya tidak baru; memori masa lalu yang mengabur dan kemudian perlahan datang kembali membawa kengerian mengancam.

Abie Cornish adalah Jane, seorang fotografer rumah-rumah kosong yang tidak ingat akan tragedi masa kecilnya, di mana kedua orang tua dan kakaknya tewas. Saat tanpa sengaja ia mengunjungi rumah lamanya bersama sang putri, Alice (Lola Flanery), kenangan masa lalu mengerikan itu mulai datang lagi satu persatu, terutama saat ia mengalami kecelakaan.

Jane kemudian mendapat kiriman paket-paket misterius yang mengantarkan dirinya untuk bertemu sang paman, Patrcik (Dermot Mulroney). Atas kunci yang diberikan Patrick, Jane kemudian bersama Alice, dan sang suami, Alan (Diego Klattenhoff) memutuskan untuk menginap di rumah lamanya dengan tujuan agar memorinya bisa kembali dan memberikan jawaban atas masa lalunya.

Lavender sebenarnya lebih condong ke drama psikologis ketimbang horor atau thriller. Pengarahan Donnely cenderung lembut dan perlahan, ketimbang dipenuhi enerji atau intensitas. Memang ada beberapa bagian yang memasukkan elemen suspensi atau atmosferik mencekam, meski terkesan sebagai aksesoris.

Mungkin karena bukan faktor utama, suspensi atau kengerian Lavender tidak begitu efektif. Kadang lebih seperti gimmick ketimbang organis. Meski begitu, tetap ada beberapa momen di mana kengerian dihadirkan dengan lumayan baik.

Barulah sebagai drama Lavender terasa menonjol. Pengarahan Donnelly cukup bergaya, meski tidak terjauh pada style over substance secara berlebihan. Adegan pembuka yang memadukan antara slow-motion dan stillness efektif menghadirkan kesan suram dan sedih, sekaligus indah. Secara visual, filmnya juga cukup enak dipandang.

Ceritanya memang tidak menawarkan sesuatu yang baru atau inventif. Sejujurnya, sudah bisa ditebak kemana alur mengalir bahkan semenjak adegan pertama. Namun Donnely patut dipuji mampu menjaga konsistensi alur, sehingga meski bergerak dalam tempo perlahan, tidak membosankan atau melelahkan.

Secara emosi, film juga menggalinya dengan baik, terlepas dari esensi yang bisa dikategorikan sebagai dangkal atau formulatis. Bisa jadi karena Lavender didukung oleh akting meyakinkan oleh para pemainnya, walau film juga tidak bisa melepaskan klise anak kecil menyebalkan dalam genre horor.

Cornish, yang bertugas sebagai penggerak utama film menunaikan perannya secara kredibel. Kompleksitas psikologis karakter Jane yang berada di ambang ambiguitas antara korban atau pelaku, dihantarkan Cornish dengan meyakinkan.

Tidak terlalu istimewa memang, tapi Lavender tetap menarik untuk diikuti. Ia mungkn tidak begitu menyeramkan sebagai horor atau menegangkan sebagai thriller, tapi sebagai drama Lavender menyajikan sisi emosional kuat sehingga sukses menyelamatkan dirinya dari keburukan yang paripurna.

★★★☆☆

 

Advertisements