Film Review: Alien: Covenant (2017)

Di tahun 2012 hadir Prometheus yang merupakan kembalinya Ridley Scott ke ranah fiksi-ilmiah, setelah terakhir adalah Blade Runner (1982). Film tersebut juga menandakan kembalinya Scott pada film yang sukses mengangkat namanya ke permukaan, Alien (1979). Hanya saja, meski diset sebagai prekuel untuk Alien, Scott ingin melebarkan cerita Prometheus tidak hanya terbatas pada aksi teror Xenomorph belaka, namun juga elaborasi pada semesta atau world building-nya, serta mengangkat tema eksistensialisme.

Banyak yang suka pada pilihan Scott untuk Prometheus, walau banyak juga yang keberatan jika Xenomorph dipinggirkan begitu saja, karena bagaimanapun film berada di payung yang sama dengan Alien dan barisan sekuelnya.

Mungkin untuk menjawab hal tersebut, maka hadirlah Alien: Covenant, sebagai “jembatan” yang akan membuat jarak antara Prometheus ke Alien semakin dekat. Oleh karena itu Scott kemudian memutuskan untuk membatalkan eksplorasi pada kisah para Engineer atau Space Jockey, sebagaimana yang diindikasikan pada akhir Prometheus dan memilih untuk memberi fokus pada asal-asul para Xenomorph saja.

Tidak heran jika secara tone atau atmosfir Alien: Covenant lebih mendekati Alien ketimbang Prometheus. Termasuk dengan berkisah tentang kru sebuah pesawat antariksa bernama Covenant yang kemudian harus berhadapan dengan ganasnya Xenomorph generasi pertama.

Dalam tradisi Alien (atau film sejenis) sebagian besar karakter adalah calon potensial untuk tewas secara menggenaskan. Demikian pula Alien: Covenant, meski karakteristiknya cukup menarik, yaitu beberapa pasangan (termasuk dari kalangan homoseksual) yang bertugas untuk memandu sebuah kapal yang berisi 2000 kolonis menuju sebuah planet untuk didiami.

Covenant kemudian menerima sebuah sinyal yang membuat rute mereka berbelok ke sebuah planet misterius yang ternyata didiami android cerdas bernama David (Michael Fassbender). David merupakan satu-satunya awak yang tersisa dari misi Prometheus dan sepertinya berhasil dalam  menemukan planet para Engineer.

David memiliki minat tersendiri pada eksperimen biologis yang dikembangkan oleh kaum Engineer dan kru Covenant merupakan objek yang pas untuk percobaannya. Tentunya aksi David tidak akan terealisasi dengan mudah, mengingat ada Daniels (Katherine Waterston), seorang ahli teraforming yang memiliki daya nalar lebih baik dibandingkan kru Covenant lain (Ia yang menolak ide untuk berbelok ke planet misterius), serta android cerdas lain, Walter (juga Fassbender).

Dibandingkan Prometheus, plot Alien: Covenant memang relatif sederhana dan straight-to-the-point, sehingga secara alur lebih mudah dicerna. Meski begitu Scott tetap ingin memasukkan beberapa ide filosofis pula di dalamnya. Beberapa bekerja dengan baik, misalnya pertemuan dua android dengan prinsip dan moral yang jauh berbeda, di mana salah satunya menderita God’s Complex sedang yang lain relatif  lebih membumi. Beberapa kurang bekerja dengan baik, misalnya religiusitas sang kapten kapal, Oram (Billy Crudup), yang ternyata tidak dibentrokan sama sekali dengan ide tentang asal-asul manusia yang telah dikembangkan semenjak Prometheus.

Secara sederhana Alien: Covenant  bisa disebut sebagai perpaduan antara Prometheus dan Alien. Dua elemen dari film tersebut terdapat di dalamnya; filosofis, metafora hingga tentu saja horor. Kendati demikian, Alien: Covenant tidak terlalu mampu dalam mengekstraksi apa yang terbaik dari dua film sebelumnya. Walhasil film terasa tanggung.

Padahal secara teknis ia sangat menawan. Mulai dari set dan dekor hingga sinematografi dan tata musik, semua dikerjakan dengan artistik terjaga dan memukau.  Dari segi intensitas dan ketegangan, pun Scott membuktikan ia masih memiliki tangan dingin. Mungkin jika Scott benar-benar melepaskan diri dari embel-embel Prometheus dan secara total berada di “ranah” Alien, film bisa jadi lebih baik dari sekedar lumayan.

Sebagai “jembatan” mungkin ia tidak utuh, mengingat masih ada “jembatan” lain yang harus kita lewati untuk sampai di ujungnya, yaitu koneksi langsung bersama Alien (sesuai dengan janji Scott, sebuah sekuel akan dikerjakan dalam waktu dekat). Terlepas dari itu, Alien: Covenant masih menarik untuk diikuti. Tidak hanya ada nostalgia bersama Xenomorph atau proxy Ripley dalam bentuk Daniels, namun kita juga  bisa menyaksikan akting brilian dari seorang Michael Fassbender.

Dua sosok Fassbender dalam satu film adalah kekuatan utama film, meski ujung-ujungnya kita berharap agar David/Walter bisa dikembangkan lebih lanjut di film yang berbeda, ketimbang pada akhirnya hanya menjadi alat untuk film horor tradisional seperti Alien: Covenant.

★★★½☆☆

Advertisements