Film Review: Havenhurst (2016)

Saat sebuah film horor lebih memilih untuk mengikuti pakem secara ajeg alih-alih mencoba untuk menghadirkan sesuatu yang baru, maka kita akan berhadapan dengan sebuah film yang begitu klise sehingga hanya bisa dinikmati kalau meminggirkan rasa familiaritas guna bisa menikmatinya. Itulah problematika dalam Havenhurst karya Andrew C. Erin (Sam’s Lake).

Film berkisah tentang Jackie (Julie Benz, DexterSaw V), seorang mantan alkoholik yang menetap di kompleks apartemen pengelolaan seorang nyonya tua bernama Eleanor Mudgett (Fionnula Flanagan, The Others) bernama Havenhurst. Jackie menempati kamar temannya, Danielle (veteran horor, Danielle Harris), yang  menghilang tanpa jejak.

Entah kenapa Jackie seperti terobsesi dengan hilangnya Danielle ketimbang membenahi hidupnya selepas keluar dari panti rehabilitasi. Mungkin karena rasa bersalah akibat masa lalu kelam saat menjadi alkoholik, Jackie pun merasa terikat dengan Sarah (Belle Shouse), anak perempuan tetangganya yang berasal dari keluarga kurang harmonis. Hilangnya Danielle dan tindak tanduk misterius Sarah mengantarkan Jackie melakukan penyelidikan akan rahasia  Havenhurst.

Semenjak Havenhurst dibuka oleh adegan dengan intensitas terjaga, kita menyadari jika sebenarnya Andrew C. Erin memiliki bakat dalam meramu adegan menegangkan atau menyeramkan. Di banyak bagiannya, Havenhurst mampu menghadirkan atmosfir suram dan intensitas dengan cukup efisien

Sayangnya, Havenhurst juga memiliki semua klise atau formula horor tapi terlupa mengadirkan antisipasi plot atau karakter  menarik. Dalam Havenhurst, kita bisa menemukan arketipe thriller psikologis, rumah berhantu, slasher hingga torture-porn, meski tidak ada satupun benar-benar menonjol atau tergali efektif. Apalagi plot memiliki banyak sekali lubang dan menjadikan film berjalan dengan logika berantakan.

Ketimbang menggali dilema dengan beban psikologis akut Jackie, film lebih memilih untuk menghadirkan Bentz yang berakting antara bingung atau cemas di sepanjang durasi. Tidak ada urgensi atau motivasi mengikat agar kita bisa peduli dengan karakternya.

Sebagai bumbu, diselipkan beberapa  adegan aksi agar penonton tidak jemu. Hanya saja, adegan-adegan tersebut tidak padu dengan plot secara keseluruhan. Meski harus diakui dieksekusi lumayan baik, adegan aksi dalam Havenhurst lebih condong seperti ingin menggantikan suspensi konkret yang absen di dalamnya.

Minimnya perkembangan cerita secara signifikan membuat kita sebagai penonton juga merasa bingung film sebenarnya mencoba untuk bercerita tentang apa. Padahal kita sudah bisa menebak apa dan bagaimana sebenarnya film ini bahkan di paruh awalnya.

Ada beberapa twist, namun begitu dipaksakan dan tertebak hingga tidak lagi mengejutkan. Pada akhirnya film terasa sangat manipulatif sehingga sulit untuk bisa terkesan dengan dirinya. Padahal Havenhurst bisa saja menjadi variasi segar dari Rosemary’ Baby dan dirangkai dengan mitologi pembunuh berantai yang berangkat dari sosok nyata, ketimbang sekedar film horor yang hanya mengikuti pakem belaka. Kurang dan lebih, American Horror Story: Hotel memiliki pendekatan yang mirip. Dan harus diakui jauh lebih menarik ketimbang Havenhurst.

★★☆☆☆
Advertisements